Senin, 11 Mei 2026
- Home
- Internasional
- Minyak dari Rusia Kapan Datang? Ini Jawaban Bahlil
Minyak dari Rusia Kapan Datang? Ini Jawaban Bahlil
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 11 Mei 2026 15:56
Jakarta-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Menteri ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan minyak mentah (crude oil) dari Rusia akan segera masuk ke Indonesia.
Bahlil mengatakan, estimasi pengiriman akan berlangsung dalam satu hingga dua pekan. Ia memastikan kontrak kerja sama Indonesia-Rusia dalam hal ini sudah mencapai mufakat.
“Secara deal sudah. Kontrak sudah. Sekarang bicara tentang teknik pengirimannya dan mungkin satu dua minggu ini sudah bisa, ya,” kata dia di Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
Sebelumnya, Bahlil menjelaskan, impor tersebut merupakan bagian dari komitmen pembelian minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan direalisasikan secara bertahap hingga akhir 2026.
Meski demikian, Bahlil belum merinci volume impor tahap awal maupun kilang yang akan mengolah minyak tersebut di dalam negeri.
Dia menuturkan, dalam kondisi global yang masih bergejolak, pemerintah lebih memprioritaskan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri.
"Dalam keadaan kondisi kayak begini negara harus menjamin ketersediaan semua jenis BBM. Itu jauh lebih penting,” tegasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan minyak mentah (crude oil) dari Rusia akan segera masuk ke Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga ketahanan pasokan energi nasional di tengah dinamika geopolitik global.
Bahlil menjelaskan, impor tersebut merupakan bagian dari komitmen pembelian minyak sebesar 150 juta barel dari Rusia yang akan direalisasikan secara bertahap hingga akhir 2026.
“Bagi saya yang paling penting adalah semua stok kita ada. Dan untuk (minyak mentah) Rusia sebentar lagi masuk ya,” ujarnya dikutip dari Antara, Sabtu (2/5/2026).
Meski demikian, Bahlil belum merinci volume impor tahap awal maupun kilang yang akan mengolah minyak tersebut di dalam negeri.
Menurutnya, dalam kondisi global yang masih bergejolak, pemerintah lebih memprioritaskan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan industri.
“Dalam keadaan kondisi kayak begini negara harus menjamin ketersediaan semua jenis BBM. Itu jauh lebih penting,” tegasnya.
RI Mau Impor 150 Juta Barel Minyak dari Rusia, Dapat Harga Diskon?
Sebelumnya, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung menyebut pemerintah akan mengimpor 150 juta barel minyak mentah dari Rusia. Lantas, apakah pembelian atas kerja sama antarpemerintah ini mendapat harga diskon?
Yuliot menyampaikan, pembelian minyak mentah dari Rusia tersebut akan menggunakan harga pasar. Dia mengaku tak mengetahui apakah akan mendapatkan harga khusus atas penyediaan kebutuhan energi nasional tadi.
"Ini kan ya kita ikut harga pasar. Itu kalau ada diskon itu kita kan ya juga enggak tahu kan," ujar Yuliot, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (24/4/2026).
Adapun pengadaan minyak mentah ini dilakukan secara bertahap karena terbatasnya kapasitas penyimpanan di Tanah Air. Pengadaan 150 juta minyak ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga akhir 2026, tahun ini.
"Kemarin kan sudah disepakati total yang akan kita impor dari Rusia itu kan sekitar 150 juta barel untuk mencukupi kebutuhan kita sampai dengan akhir tahun," katanya.
Dia menerangkan, ada dua opsi skema impor. Yakni. dilakukan melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau Badan Layanan Umum (BLU). Pihaknya tengah menyusun regulasinya.
"Jadi sekarang kita tinggal instrumen bagaimana kita mengimpornya. Apakah langsung Badan Usaha Milik Negara atau ini ada BLU? Ini dua opsi ini lagi kita siapkan payung regulasinya," ucap Yuliot.
Pertimbangan Pemerintah
Ada beberapa pertimbangan dari munculnya dua opsi tersebut. Impor yang dilakukan BUMN dikhawatirkan menimbulkan konsekuensi, karena telah terikat kontrak dengan pihak lain. Sementara itu, ada kemudahan yang ditawarkan jika dilakukan oleh BLU kementerian/lembaga.
"Karena kalau ini BUMN itu kan juga ada konsekuensi dan juga kalau BLU itu apa kemudahan ya termasuk pembiayaan itu juga lagi kita bahas antara kementerian lembaga ya kemudian itu juga dengan badan usaha termasuk bagaimana pada saat impor jalur mana yang akan digunakan," jelas dia.
"(Jika BUMN impor) bagaimana proses pengadaan ya, kemudian bagaimana pembiayaan itu kan konsekuensinya proses pengadaan. Kalau di BUMN kan harus melalui tender terlebih dulu ya kalau ini kan skemanya adalah G2G.
Sumber: https://www.liputan6.com/bisnis/read/6410215/minyak-dari-rusia-kapan-datang-ini-jawaban-bahlil
komentar Pembaca