Liputan6.com
Anak-anak pengungsi muslim Rohingya menunggu bantuan makanan di kamp pengungsi Thankhali di Distrik Ukhia, Bangladesh, (12/1). Mereka melarikan diri bersama orangtuanya saat konflik pecah di Myanmar.
Jakarta Sejumlah pakar hak asasi manusia dari
PBB menuding jejaring sosial Facebook telah berperan menyebarkan ujaran
kebencian terhadap Muslim Rohingya di Myanmar.
Dilansir dari Australia Plus pada Selasa (13/3/2018),
tudingan tersebut tidak segera ditanggapi oleh Facebook, meski
sebelumnya perusahaan besutan Mark Zuckerberg itu telah berjanji
memerangi ujaran kebencian di Myanmar secara konsisten.
Lebih dari 650.000 orang Muslim Rohingya telah meninggalkan negara
bagian Rakhine di Myanmar menuju ke Bangladesh sejak sejumlah serangan
pemberontak telah memicu tindakan keras dari pihak keamanan Myanmar
Agustus lalu.
Banyak yang telah memberikan kesaksian mengerikan tentang eksekusi dan pemerkosaan oleh pasukan keamanan Myanmar.
Ketua Hak Asasi Manusia (HAM) PBB mengatakan pekan lalu bahwa dia
sangat mencurigai telah terjadinya tindakan genosida, sementara
penasihat keamanan nasional Myanmar menuntut "bukti yang jelas".
Marzuki Darusman, Ketua Misi Pencarian Fakta Independen Internasional
mengenai isu Rohingya, mengatakan kepada wartawan bahwa media sosial
telah memainkan 'peran yang menentukan' di Myanmar.
"[Media sosial] telah ... secara substansial berkontribusi pada
tingkat kesengsaraan dan perbedaan pendapat dan konflik, jika Anda mau,
di dalam masyarakat ... ujaran kebencian tentu saja merupakan bagian
dari itu," katanya.
Kritik PBB untuk Facebook
Sementara itu, penyidik PBB untuk Myanmar, Yanghee Lee mengatakan
Facebook telah menjadi bagian besar dari kehidupan publik, sipil dan
pribadi, dan pemerintah Myanmar menggunakannya untuk menyebarkan
informasi kepada publik.
"Semuanya dilakukan melalui Facebook di Myanmar," katanya kepada
wartawan, seraya menambahkan bahwa Facebook telah membantu negara miskin
tersebut, namun juga telah digunakan untuk menyebarkan ujaran
kebencian.
"[Facebook] digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan publik tapi kami
tahu bahwa umat Buddha ultra-nasionalis memiliki akun-akun Facebook
mereka sendiri dan benar-benar menghasut banyak kekerasan dan banyak
kebencian terhadap Rohingya atau etnis minoritas lainnya," katanya.
"Saya khawatir Facebook sekarang berubah menjadi binatang buas, dan
bukan sebagaimana tujuan awal ketika jejaring sosial itu
diciptakan."Biksu nasionalis garis keras yang terkenal di Myanmar,
Wirathu, muncul setelah menjalani larangan berkhutbah selama satu tahun
pada hari Sabtu (10/3/2018) dan mengatakan bahwa retorika anti-Muslimnya
tidak ada hubungannya dengan kekerasan di negara bagian Rakhine.
Facebook menunda dan terkadang menghapus orang-orang yang secara
konsisten berbagi konten yang mempromosikan kebencian, kata perusahaan
itu bulan lalu sebagai tanggapan atas pertanyaan seputar akun Wirathu.
"Jika seseorang secara konsisten berbagi konten yang mempromosikan
kebencian, kami dapat melakukan serangkaian tindakan seperti
menangguhkan sementara kemampuan mereka untuk mengungah materi dan,
akhirnya, menghapus akun mereka."
Pekan
lalu, Sri Lanka melarang sejumlah jejaring sosial berbagi pesan
termasuk Facebook menyusul terjadinya kekerasan terhadap minoritas
Muslim.
Langkah pemerintah Sri Lanka ini bertujuan untuk menghentikan
pertumpahan darah menyusul langkah pemberlakuan jam malam oleh polisi
setempat telah gagal menghentikan kekerasan komunal yang menghancurkan
dan terus berlanjut bahkan setelah Presiden Sri Lanka Maithripala
Sirisena mendeklarasikan keadaan darurat selama tujuh hari untuk
mengelola situasi tersebut.
Negara di Asia Selatan itu diguncang oleh bentrokan komunal yang
terjadi di dataran tinggi tengah negara tersebut menyusul berlangsungnya
serangan terhadap umat Islam oleh orang-orang Sinhala yang nasionalis.
Ketegangan komunal ini berkembang di Sri Lanka selama setahun
terakhir dimana beberapa kelompok penganut Budha garis keras menuduh
kelompok Muslim memaksakan orang untuk masuk Islam dan merusak sejumlah
situs arkeologi. Kelompok Muslim telah menyangkal tuduhan tersebut.
Beberapa kekerasan juga telah dihasut oleh beberapa unggahan di
Facebook yang mengancam lebih banyak terjadinya serangan terhadap umat
Islam, kata pemerintah Sri Lanka sebelum memblokir Facebook, Viber dan
WhatsApp di seluruh negera tersebut selama tiga hari.
Facebook, yang juga memiliki jejaring sosial WhatsApp, mengatakan
bahwa pihaknya berupaya untuk mengidentifikasi dan menghapus hasutan
kekerasan, dan berhubungan dengan pemerintah dan organisasi swasta.
"Kami memiliki peraturan yang jelas mengenai ucapan kebencian dan
hasutan terhadap kekerasan dan bekerja keras untuk mencegahnya dari
platform kami," kata jejaring sosial tersebut dalam sebuah pernyataan.
(Liputan6.com)
Internasional