Selasa, 28 Apr 2026

Pemotongan Gaji Akan Sebabkan Desersi Massal Militan ISIS

Senin, 01 Feb 2016 09:12
Reuters
Ilustrasi
KESULITAN finansial yang dialami ISIS akan menyebabkan kelompok teror itu kehilangan sejumlah besar pasukannya. Demikian prediksi yang disampaikan pengamat politik.

Serangan udara yang dilancarkan Rusia dan Amerika Serikat (AS) terhadap perdagangan ilegal ISIS, dan direbutnya beberapa wilayah kekuasaan mereka di Irak dan Suriah menyebabkan ISIS kehilangan sebagian sumber pemasukannya. Sebagai dampaknya, Daesh, sebutan lain untuk ISIS terpaksa memotong gaji para militannya hingga 50 persen atau setengahnya.

Sebelumnya para militan sebelumnya, para militan bisa mendapatkan pemasukan antara USD400 hingga USD1.200 (sekira Rp5,4 juta-Rp16 juta)per bulannya, belum termasuk tunjangan untuk istri dan anak-anak mereka. Namun, menurut dokumen yang dirilis oleh lembaga keuangan ISIS, Bayt al Mal, para militan kini hanya mendapatkan sekira USD150 atau sekira Rp2 juta tiap bulan.

Pemotongan gaji ini kemungkinan akan menyebabkan desersi massal di kalangan para militan ISIS, terutama di Suriah, yang sebagian besar pasukannya merupakan tentara bayaran.

"Moral para militan berkurang. Tren ini telah dicatat oleh berbagai badan intelijen," demikian kata pengamat politik asal Prancis, Alexander del Valle, sebagaimana dilansir Sputnik, Senin (1/2/2016).

Namun, pendapat ini diragukan oleh seorang pengamat lainnya, Alain Rodier. Menurut Rodier, pemotongan gaji tersebut tidak akan berpengaruh terlalu banyak karena sebagian besar militan bergabung karena alasan ideologi.

Meski begitu, Rodier mencatat adanya penurunan dalam jumlah militan asing yang direkrut ISIS, yang kemungkinan disebabkan rangkaian kekalahan yang dialami oleh Daesh di Irak dan Suriah.

Meski mengalami kemunduran, ISIS diperkirakan masih memiliki sumber daya dan kekuatan yang cukup untuk bertahan di Irak dan Suriah, setidaknya sampai kota-kota penting seperti Raqqa dan Mosul masih berada dalam kekuasaan mereka. Selain itu, pecahan-pecahan mereka di berbagai wilayah di dunia seperti di Afghanistan, Pakistan dan Afrika juga perlu diperhatikan.

(okezone.com)
Internasional
Berita Terkait
  • Senin, 27 Apr 2026 18:18

    Lebih Cepat dari Target, Tim Penyelaras PWI Pusat Tuntaskan AD/ART

    Jakarta - Tim Penyelaras Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Kode Perilaku Wartawan (KPW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat berhasil menuntaskan

  • Senin, 27 Apr 2026 18:03

    Mengenal Kanker Prostat yang Dialami Benjamin Netanyahu

    JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabarkan telah menjalani pengobaran kanker prostat yang dideritanya. Dikabarkan Netanyahu telah melakukan rangkaian pera

  • Senin, 27 Apr 2026 17:59

    Penurunan Kualitas Otak di Usia Produktif Kini Jadi Sorotan, Bukan Sekadar Penyakit!

    JAKARTA â€" Di tengah optimisme bonus demografi, Indonesia menghadapi ancaman yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir pada usia produktif. Fenomena ini dikenal sebagai silent cogn

  • Senin, 27 Apr 2026 17:56

    Harga Pangan Hari Ini Naik, Minyak Goreng Tembus Rp23.709 per Liter

    JAKARTA - Harga pangan nasional terpantau mengalami pergerakan pada awal pekan ini, Senin (27/4/2026). Sejumlah komoditas utama mengalami kenaikan, namun tidak sedikit juga yang mengala

  • Senin, 27 Apr 2026 17:51

    Purbaya Targetkan IHSG Tembus 28.000, Airlangga: Kita Kejar Pertumbuhan 20%

    JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut positif proyeksi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menem

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.