okezone.com
Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Tammy Bruce ditanya terkait pembunuhan aktivis Palestina Awdah Hathaleen, yang diduga dilakukan seorang pemukim Israel yang sebelumnya dijatuhi sanksi oleh pemerintah AS. Bruce berkelit dari pertanyaan wartawan.
Dalam jumpa pers pada hari Selasa, juru bicara Departemen Luar Negeri Tammy Bruce menolak ketika ditanya apakah tersangka dalam kematian Hathaleen, Yinon Levi, akan dimintai pertanggungjawaban.
"Israel sedang melakukan investigasi terkait situasi seperti ini," ujar Bruce. "Saya tidak tahu hasil akhirnya, saya juga tidak akan berkomentar atau berspekulasi tentang apa yang seharusnya terjadi."
Perdebatan sengit antara Bruce dan wartawan terjadi satu hari setelah beredar video yang menunjukkan Levi menembaki Hathaleen di desa Umm al-Kheir di Tepi Barat yang diduduki.
Aktivis Palestina berusia 31 tahun itu kemudian meninggal dunia akibat luka tembak di dadanya.
Levi adalah salah satu dari beberapa pemukim Israel di Tepi Barat yang sebelumnya dikenai sanksi di bawah pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden karena melakukan kekerasan terhadap warga Palestina.
Namun, Presiden Donald Trump mencabut sanksi tersebut melalui perintah eksekutif tak lama setelah menjabat untuk masa jabatan kedua pada bulan Januari. Namun, Inggris dan Uni Eropa tetap mempertahankan sanksi terhadap Levi.
Hathaleen, penduduk Masafer Yatta, telah membantu menciptakan film dokumenter pemenang Academy Award, No Other Land, yang menggambarkan dampak permukiman Israel, yang ilegal menurut hukum internasional, dan serangan terhadap warga Palestina di Tepi Barat.
Dalam jumpa pers hari Selasa, Bruce tampaknya menyatakan penembakan Hathaleen terjadi di "zona perang" Gaza, sebelum dikoreksi.
Namun, ia tetap bersikeras pemerintahan Trump berusaha mengatasi kekerasan di mana pun itu terjadi.
"Argumennya sama. Kita melihat ini di Tepi Barat. Kita tahu ketika ada kekerasan secara umum. Kita juga melihat sesuatu terjadi di New York City, dengan penembakan di New York City kemarin," ujarnya, yang tampaknya merujuk pada penembakan yang tidak terkait di gedung pencakar langit Manhattan.
Departemen Luar Negeri tidak menanggapi permintaan selanjutnya dari Al Jazeera tentang apakah pemerintahan Trump akan meninjau kembali kebijakan sanksinya terkait pembunuhan tersebut.
Pada hari Selasa, media Israel melaporkan Levi telah ditempatkan dalam tahanan rumah setelah didakwa dengan pembunuhan tidak disengaja dan penggunaan senjata api ilegal.
Permukiman Ilegal dan Trump
Hathaleen adalah ayah dari tiga anak yang berkoordinasi dengan beberapa kelompok advokasi dan lobi berpengaruh di AS, dan kematiannya telah memperbarui pengawasan terhadap kebijakan Trump terhadap permukiman ilegal Israel di wilayah pendudukan seperti Tepi Barat.
Selama masa jabatan pertamanya, Trump membalikkan kebijakan lama yang mengakui permukiman semacam itu sebagai ilegal.
Permukiman semacam itu melanggar hukum internasional dan secara luas dipandang sebagai cara untuk menggusur warga Palestina dan merampas tanah mereka.
Namun, permukiman Israel terus menyebar dengan cepat dalam beberapa tahun terakhir dan dipandang sebagai hambatan utama bagi perjanjian perdamaian di masa depan dengan para pemimpin Palestina.
Setelah menjabat awal tahun ini, Trump mencabut banyak perintah eksekutif era Biden, termasuk sanksi terhadap pemukim Israel.
Langkah tersebut dilaporkan terjadi di tengah tekanan dari pemerintah Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Selama masa jabatannya, Biden telah dikritik karena terus menyalurkan bantuan ke Israel di tengah perangnya di Gaza, tetapi pemerintahannya menunjukkan kesediaan mengambil sikap yang lebih keras terkait permukiman di Tepi Barat yang diduduki.
"Situasi di Tepi Barat â€" khususnya tingginya tingkat kekerasan pemukim ekstremis, pemindahan paksa penduduk dan desa, serta perusakan properti â€" telah mencapai tingkat yang tidak dapat ditoleransi," demikian bunyi perintah eksekutif Biden, tertanggal Februari 2024.
Ditambahkan bahwa tindakan Israel di Tepi Barat merupakan "ancaman serius bagi perdamaian, keamanan, dan stabilitas Tepi Barat dan Gaza, Israel, dan kawasan Timur Tengah yang lebih luas."
Kekerasan yang dilakukan pemukim dan pasukan militer Israel telah meningkat sejak perang genosida Israel di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, dengan setidaknya 1.000 warga Palestina tewas di Tepi Barat.***(Okezone.com)
Sumber: okezone.com
Internasional