- Home
- Internasional
- Pria Ini Jadi Mata-Mata Rusia Sekaligus Teroris
Pria Ini Jadi Mata-Mata Rusia Sekaligus Teroris
Rabu, 30 Des 2015 14:26
Dalam video eksekusi yang disebarkan ISIS, Khasiev seperti tahanan ISIS lainnya tampil mengenakan baju jingga dan terduduk di depan algojonya. Namun kali ini, agak sedikit berbeda, karena 'malaikat maut' itu menunjukkan wajahnya, tidak lagi berpakaian serba hitam dan kelihatan matanya saja.
Algojo itu sendiri kemudian diketahui bernama Anatoly Zemlyanka (28), lahir dari ibu seorang Kristen Ortodoks. Keluarganya tergolong biasa saja dan mereka tinggal di Noyabrsk, salah satu kota besar di Rusia. Dengan demikian, berarti ia sebenarnya juga sekampung halaman dengan target eksekusinya, Magomed Khasiev.
Sebelum dihabisi nyawanya, Khasiev menggemparkan dunia dengan menguak fakta bahwa dirinya adalah agen Rusia yang berangkat ke Suriah untuk menjadi mata-mata. Ia mengaku seorang Muslim asal Chechnya, negara bagian di Rusia yang mayoritas memang berpenduduk Muslim.
Ia menceritakan dalam rekaman, keseluruhan kisahnya. Mulai dari awal dia direkrut badan intelijen negaranya, Layanan Keamanan Federal (FSB) hingga berakhir di bawah pisau ISIS.
Ketika berita ini tersiar, Presiden Chechnya, Ramzan Kadyrov lantas membantah seluruh pernyataan Khasiev. Orang-orang pun mulai bertanya, apakah Khasiev berbohong atau memang ada kisah lain di balik semua ini?
Kehidupan Ganda
Setelah digali-gali, terkuak lah kisah hidup pria yang mengaku intelijen Rusia tersebut. Diduga, ia telah menjalani kehidupan ganda selama ini.
Magomed Khasiev lahir dengan nama Yevgeny Yudin. Sepuluh tahun pertama kehidupannya dijalani bersama ibu kandungnya yang beretnis Rusia. Ibunya sakit keras dan merasa tak mampu lagi menjaga putra semata wayangnya. Khasiev pun dititipkan ke panti asuhan. Tak berapa lama, ibunya meninggal dunia akibat TBC.
Di panti asuhan inilah ia belajar bahasa Chechen dan mengubah agamanya menjadi Islam. Sebagai mualaf, Khasiev mendapat nama Islam, Magomed. Nama belakangnya, Khasiev baru ditambahkan setelah dirinya diadopsi Markha Khasieva, ibu angkatnya.
Beberapa kali ia diadopsi namun akhirnya dikembalikan ke panti asuhan. Pada 2008, Menteri Dalam Negeri Rusia, Rashid Nurgaliyev, mengunjungi panti asuhan tempat Khasiev tinggal, dalam rangka mencari potensi muda untuk dilatih di akademi Suvorov, sekolah elit militer baru.
Pada waktu itu, Khasiev telah menginjak usia 16 tahun. Namanya diusulkan, tetapi tidak lolos seleksi karena dianggap terlalu tua. Sahabatnya, sesame yatim piatu, Minkail Temiev justru terpilih mengikuti sekolah militer tersebut.
Akhirnya, Khasiev dikirim ke perguruan tinggi di Maykop, ibu kota wilayah Rusia yang dihuni mayoritas Muslim Adygeya, sekitar 500 kilometer dari ibu kota Republik Chechnya, Grozny. Dari sinilah ia diketahui memulai kehidupan gandanya.
Di satu sisi, ia fasih berbahasa Checnya dan sangat menyukai identitas Muslimnya. Ia juga tetap dekat dengan keluarga angkat dan teman-temannya semasa di panti asuhan.
Sering kali, ia memprotes gurunya, karena memanggilnya dengan nama asli. Ia lebih suka dipanggil dengan nama Muslimnya, Mogamed. Akan tetapi, gurunya menolak mengikuti kemauannya kecuali ia mengganti namanya di akta lahir dan dokumen kependudukan lainnya.
Di lain sisi, ia juga akrab dengan pemeluk agama lain di luar Islam. Tak jarang, kerabatnya menyaksikan ia minum-minuman keras dan main perempuan.
"Akhirnya, Khasiev mengubah namanya secara resmi ke Magomed Khasiev ketika membuat paspor baru. Meskipun ia begitu bernafsu menggunakan nama Muslim, Khasiev bukan seorang nasionalis Chechnya maupun orang yang radikal," kata teman baiknya, Viktor Zyzin, sebagaimana dikutip dari Business Insider, Rabu (30/12/2015).
Pada 2011, Khasiev mengunggah fotonya tengah berpose di samping poster Ramzan Kadyrov, pria terkuat asal Chechnya yang membantu Kremlin mengalahkan kelompok radikal Muslim di Kaukasus Utara dan dikenal sebagai orang kafir oleh militan Islam.
Eksekusi Mati di Suriah
Singkat cerita, pada 2013, Khasiev memperoleh tawaran kerja dari Sherif M, perusahaan keamanan di Maykop. Ia juga melamar pekerjaan ke Kementerian Dalam Negeri untuk menjadi penjaga.
Entah bagaimana pastinya, akhirnya ia berhasil bergabung dengan pihak intelijen Rusia, yakni FSB. Namun di samping itu, ia mendengar kabar sahabat terdekatnya, Temiev sudah bergabung dengan kelompok teroris ISIS di Suriah.
Saat pulang ke kampung halamannya, Temiev pun tampil dengan janggut panjang, yang dipersepsikan orang sebagai ciri khas kelompok Islam garis keras. Sahabatnya sempat membujuk ia untuk ikut serta, namun Khasiev menolak.
"Baru tahun lalu, akhirnya ia memutuskan untuk berangkat ke Suriah. Kami pikir ia dipindah tugaskan ke sana," ujar Malika Khasieva, bibi angkatnya.
Zyzin menuturkan, keberangkatan Khasiev kemungkinan untuk menemui Temiev. Akan tetapi, ia kemudian mendapat kabar bahwa sahabatnya itu telah dibunuh.
Pesan terakhir Khasiev diterima Zyzin pada Februari 2015. Zyzin meminta Khasiev pulang. Ia menjawab, mungkin ia akan datang berkunjung. Pada akhirnya, ia tidak pernah pulang dan berakhir seperti dalam video eksekusi ISIS yang disebutkan di awal.
"Dia mengatakan bahwa dia mungkin akan datang untuk berkunjung. Tapi pada akhirnya, ia menulis bahwa ia lelah. Dia mengirim pesan suara. Lalu saya menyadari bahwa ia tidak akan datang kembali. Sederhana, sebab tak ada jalan kembali dari sana," tambah Zyzin.
Lebih Cepat dari Target, Tim Penyelaras PWI Pusat Tuntaskan AD/ART
Jakarta - Tim Penyelaras Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Kode Perilaku Wartawan (KPW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat berhasil menuntaskan
Mengenal Kanker Prostat yang Dialami Benjamin Netanyahu
JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabarkan telah menjalani pengobaran kanker prostat yang dideritanya. Dikabarkan Netanyahu telah melakukan rangkaian pera
Penurunan Kualitas Otak di Usia Produktif Kini Jadi Sorotan, Bukan Sekadar Penyakit!
JAKARTA â€" Di tengah optimisme bonus demografi, Indonesia menghadapi ancaman yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir pada usia produktif. Fenomena ini dikenal sebagai silent cogn
Harga Pangan Hari Ini Naik, Minyak Goreng Tembus Rp23.709 per Liter
JAKARTA - Harga pangan nasional terpantau mengalami pergerakan pada awal pekan ini, Senin (27/4/2026). Sejumlah komoditas utama mengalami kenaikan, namun tidak sedikit juga yang mengala
Purbaya Targetkan IHSG Tembus 28.000, Airlangga: Kita Kejar Pertumbuhan 20%
JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut positif proyeksi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menem