Liputan6.com
Potret sampah plastik di lautan (AFP)
Deft - Menurut sebuah laporan ilmiah terbaru, jumlah sampah plastik yang mengambang di perairan Samudra Pasifik kian mengkhawatirkan.
Diprediksikan sekitar 80.000 ton sampah plastik menumpuk di sebuah wilayah besar di antara California dan Hawaii.
Dilansir dari BBC pada Jumat (23/3/2018), jumlah tersebut konon enam belas kali lebih tinggi dari jumlah yang dilaporkan setahun sebelumnya.
"Konsentrasi plastik meningkat, dan saya pikir situasinya semakin buruk," kata Laurent Lebreton dari The Ocean Cleanup Foundation di Delft, Belanda, yang memimpin penelitian.
"Ini benar-benar sangat mendesak untuk segera diambil tindakan nyata, membersihkan tumpukan sampah plasti di lautan," lanjutnya.
Menurut para peneliti, kumpulan sampah plastik
ditemukan di lima wilayah perairan samudera di seluruh dunia. Namun,
hanya di area laut antara California dan Hawaii di Pasifik Utara, yang
memiliki konsentrasi tertinggi.
Para peneliti menggunakan perahu dan pesawat untuk memetakan daerah
ini di Pasifik Utara, di mana arus dan angin berputar menyebabkan sampah
laut, termasuk plastik, rumput laut dan plankton, berkumpul.
Upaya pemetaan selama tiga tahun terakhir, menunjukkan bahwa polusi
laut yang disebabkan sampah plastik, telah meningkat secara eksponensial
pada tingkat yang lebih cepat dari sebelumnya.
Mikroplastik menyumbang delapan persen dari total sampah plastik yang mengapung di area seluas 1,6 juta kilometer persegi.
Dari sekitar 1,8 triliun sampah plastik yang bertebaran di perairan
samudra, beberapa di antaranya lebih besar dari mikroplastik, termasuk
jaring ikan, mainan, dan bahkan dudukan toilet.
Sementara
itu, menurut Erik van Sebille dari Universitas Utrecht di Belanda,
mengatakan bahwa temuan jumlah plastik tersebut sangat mengejutkan,
sekaligus memprihatinkan.
"Para peneliti bahkan menemukan fakta bahwa pusaran sampah bergerak
di lautan, lebih besar dari yang diperkirakan, sehingga hal ini
sangatlah mendesak untuk segera ditangani," ujarnya.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh van Sebille, sampah
plastik yang hanyut ke laut setelah gempa bumi dan tsunami Jepang 2011,
bisa mencapai 20 persen dari total akumulasi perkiraan dalam beberapa
tahun terakhir.
"Setiap tahun, jutaan ton plastik masuk ke laut. Beberapa hanyut ke
dalam sistem sirkulasi arus laut yang besar, yang dikenal sebagai gyres.
Setelah terjebak dalam pilin, plastik akan terurai menjadi
mikroplastik, yang mungkin tertelan oleh makhluk hidup di lautan luas,"
lanjut van Sabille menjelaskan.
Ditambahkan olehnya, manusia tidak akan lepas dari ketergantungan
terhadap plastik, karena dalam beberapa hal sangat berguna untuk
pengobatan, sektor manufaktur, konstruksi, dan lain sebagainya.
"Tapi saya pikir, kita harus mengalihkan cara kita menggunakan
plastik, terutama dalam hal plastik sekali pakai dan benda-benda yang
memiliki jangka waktu penggunaan tidak lama," tukasnya.
(Liputan6.com)
Internasional