Selasa, 14 Jul 2026
  • Home
  • Internasional
  • Sejarah Kuil Preah Vihear, Situs Pemicu Perang Thailand dan Kamboja

Internasional,

Sejarah Kuil Preah Vihear, Situs Pemicu Perang Thailand dan Kamboja

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 28 Jul 2025 13:49
Berita satu.com
Kuil Preah Vihear menjadi salah satu situs bersejarah yang kerap memicu sengketa perbatasan antara Thailand dan Kamboja. Konflik militer yang berlangsung hingga akhir Juli 2025 adalah bukti bahwa perebutan wilayah di sekitar kuil ini masih jauh dari kata selesai.

Pada Senin (28/7/2025), militer Thailand kembali melancarkan serangan udara dan artileri berat ke wilayah Kamboja, hanya beberapa jam sebelum perundingan gencatan senjata di Malaysia dimulai.

Perang yang pecah sejak Kamis (24/7/2025) telah menewaskan 35 orang. Meski pertemuan tingkat kepala pemerintahan telah direncanakan di Kuala Lumpur, bentrokan di wilayah Kuil Ta Muen Thom dan Prasat Ta Krabey tetap berlanjut.

Sengketa ini berakar pada klaim teritorial di sekitar Kuil Preah Vihear yang terletak di tebing setinggi 525 meter di Pegunungan Dangrek, Kamboja. Lantas, bagaimana sejarah kuil ini?

Candi Hindu kecil di Pegunungan Dângrêk, Kamboja utara, ini memang bukan tujuan wisata utama, tetapi sering menjadi sorotan berita internasional karena menjadi pusat sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand.

Preah Vihear dibangun terutama pada masa keemasan Kekaisaran Khmer pada abad ke-11 dan ke-12, meskipun terdapat bukti pembangunan di lokasi kuil sejak abad ke-9.

Kuil ini didedikasikan untuk Dewa Siwa dan memiliki nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Kamboja maupun Thailand.

Dilansir dari Daily JStor, Jurnalis Brendan Borrell menggambarkan Preah Vihear sebagai serangkaian bangunan yang tersusun di sepanjang jalan lintas tengah sepanjang 2.600 kaki yang mengarah secara dramatis ke tepi tebing. Kompleks ini dimaksudkan untuk merepresentasikan Gunung Meru, rumah bagi Dewa Siwa dan dewa-dewa Hindu lainnya.

Menurut Eileen Lustig, Damian Evans, dan Ngaire Richards, prasasti Sansekerta dan Khmer Kuno dari abad ke-6 hingga ke-14 yang ditemukan di Asia Tenggara menunjukkan bahwa kuil-kuil serupa menerima dan menyimpan berbagai komoditas, memiliki kekayaan substansial, mempekerjakan banyak orang berstatus rendah, dan para pendiri serta dermawannya sering bertindak dengan persetujuan penguasa.

Sengketa Sejak Era Kolonial
Perdebatan modern tentang siapa yang memiliki Preah Vihear dimulai pada awal abad ke-20. Protektorat Prancis atas Kamboja berdiri sejak 1863 atas permintaan Raja Norodom karena kekhawatiran terhadap Kerajaan Siam (kini Thailand).

Serangkaian perjanjian Prancis-Siam pada 1904 hingga 1907 berupaya memperjelas batas protektorat Prancis dan wilayah Siam. Peta perbatasan diterbitkan pada 1908.

Menurut antropolog budaya Sang Kook Lee, batas-batas tersebut mencerminkan pengaruh kolonial Barat, karena sebelumnya masyarakat Asia Tenggara tidak mengenal konsep batas eksklusif.

Para surveyor Prancis menggambar garis batas mengikuti daerah aliran sungai (DAS), tetapi di dekat Preah Vihear, garis tersebut menyimpang dari tebing dan memasukkan kompleks kuil ke wilayah Kamboja. Thailand kemudian terikat dengan peta tersebut, meski sebenarnya dibuat sepihak oleh Prancis.

Setelah Kamboja merdeka dari Prancis pada 1953, Thailand menempatkan pasukan di Preah Vihear untuk mengeklaim kuil tersebut.

Kamboja mengajukan gugatan ke Mahkamah Internasional (ICJ) yang pada 1962 memutuskan kuil tersebut milik Kamboja, dengan menegaskan bahwa Thailand sebelumnya menerima peta resmi yang menempatkan Preah Vihear di wilayah Kamboja.

Panchali Saikia menilai bahwa Kamboja memiliki klaim lebih kuat karena asal-usul kuil dari Kekaisaran Khmer. Putusan ini tidak mengakhiri sengketa, melainkan menjadi isu politik dan nasionalisme di kedua negara.

Pada awal 2000-an, Kamboja mengajukan Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Menteri Luar Negeri Thailand Noppadon Pattama, sempat mendukung langkah ini pada Mei 2008.

Namun, dukungan tersebut justru mendapat penolakan luas di negaranya hingga mengundurkan diri pada Juli, bertepatan dengan penetapan Preah Vihear sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Bentrokan perbatasan kembali meletus pada awal 2011 (Februari-April). Pada 2013, ICJ menegaskan kembali kepemilikan Kamboja atas Preah Vihear, memberikan hak atas sebagian lahan di sekitarnya, dan memerintahkan Thailand menarik pasukannya.

Sejak 2013, situasi relatif tenang, meskipun perdebatan kepemilikan situs ini belum sepenuhnya berakhir.

Konflik Militer yang Terus Berulang
Dalam beberapa bulan terakhir, bentrokan di sekitar Kuil Ta Muen Thom terus terjadi. 
Pada 28 Mei 2025, satu tentara Kamboja tewas dalam baku tembak dengan militer Thailand. Kedua pihak saling tuding sebagai pemicu konflik.

Ketegangan semakin meningkat pada Kamis (24/7/2025), ketika terjadi baku tembak berskala besar setelah pasukan Kamboja dilaporkan menggunakan pesawat tanpa awak untuk mengawasi posisi militer Thailand.

Sejak saat itu, situasi di sekitar Preah Vihear terus memanas, dan perundingan gencatan senjata yang direncanakan belum mampu meredakan konflik.

Sejarah panjang dan nilai budaya yang dimiliki Preah Vihear menjadikannya simbol penting bagi Kamboja sekaligus sumber sengketa dengan Thailand. Konflik militer yang terus berulang menunjukkan betapa kompleksnya permasalahan perbatasan ini.***(Berita Satu.com)
Sumber: Berita satu.com

Internasional
Berita Terkait
  • Selasa, 14 Jul 2026 17:09

    Kapolres Rohil di Pimpin Aldi Alfa Faroqi

    Ujungtanjung-Tongkat estafet kepemimpinan di Polres Rokan Hilir resmi berganti. AKBP Isa Imam Syahroni, S.I.K., M.H. menyerahkan jabatan Kapolres Rokan Hilir kepada penggantinya, AKBP Aldi Alfa Faroqi

  • Senin, 13 Jul 2026 17:38

    Aldi Alfa Faroqi Resmi Nahkodai Polres Rohil

    Pekanbaru-Kepolisian Daerah (Polda) Riau menggelar upacara Serah Terima Jabatan (Sertijab) sejumlah Pejabat Utama (PJU) dan Kapolres jajaran yang dipimpin langsung Kapolda Riau, Irjen Pol. Dr. Herry H

  • Rabu, 17 Jun 2026 11:47

    Polres Indragiri Hulu Gelar Bakti Sosial HUT Bhayangkara Ke-80

    Rengat-Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Bhayangkara ke-80 Tahun 2026, Polres Indragiri Hulu melaksanakan kegiatan bakti sosial dengan bersilaturahmi sekaligus menyalurkan bantuan semba

  • Minggu, 14 Jun 2026 20:34

    Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP

    INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli

  • Jumat, 05 Jun 2026 09:49

    "Gunakan Manajemen Peternakan Modern", Pesan Bhabinkamtibmas Polres Inhu Untuk Ketahanan Pangan

    INHU-Upaya mendukung Program Ketahanan Pangan Nasional terus dilakukan jajaran Polres Indragiri Hulu (Inhu) melalui berbagai kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. Salah satunya dilakukan oleh p

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki