Selasa, 28 Apr 2026

Turki Tidak Izinkan Kelompok Kurdi Ikut Negosiasi Damai Suriah

Rabu, 20 Jan 2016 09:13
Getty Images
Turki tidak akan mengizinkan kelompok pejuang YPG bergabung dalam negosiasi damai Suriah
LONDON – Turki tidak akan mengizinkan kelompok Kurdi asal Suriah Utara untuk mengambil bagian dalam negosiasi damai Suriah dan duduk satu meja dalam pihak oposisi pemerintahan Presiden Bashar al Assad. Pernyataan tersebut dikeluarkan oleh Perdana Menteri Ahmet Davutoglu.

Meski Unit Pertahanan Rakyat (YPG) dilihat oleh Amerika Serikat (AS) sebagai salah satu pasukan paling efektif melawan ISIS, Davutoglu menganggap mereka memiliki hubungan dekat dengan kelompok teroris PKK. Turki memang diketahui menghadapi masalah pemberontakan oleh militan PKK yang berasal dari suku Kurdi.

"Terlalu berbahaya jika mereka bergabung dalam negosiasi damai Suriah. Mereka merupakan ancaman langsung bagi Turki," ujar tangan kanan Presiden Recep Tayyip Erdogan itu di sela-sela kunjungannya ke London, Inggris, dilansir The Independent, Rabu (20/1/2016).

Rusia yang merupakan sekutu kunci dari Suriah ingin YPG bergabung dalam negosiasi damai yang akan difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Jenewa, Swiss, Senin 25 Januari. Namun, Davutoglu hanya akan mengizinkan YPG ikut jika mereka termasuk dalam kelompok pendukung rezim Assad.

Tarik ulur jelang negosiasi damai merupakan isu yang cukup mengkhawatirkan. Masing-masing pihak memiliki perbedaan kepentingan. Posisi Presiden Bashar al Assad misalnya. Davutoglu ingin agar pria 50 tahun itu lengser secepatnya karena rakyat Suriah sudah tidak menginginkan dirinya sebagai presiden.

Pria berkacamata itu menyebut selama Assad berada di posisinya, jutaan pengungsi asal Suriah tidak akan pernah kembali ke tempat asalnya. Turki diketahui menampung jutaan pengungsi Suriah yang hendak menuju ke Eropa lewat jalur darat. Davutoglu ingin pemerintahan transisi terbentuk usai negosiasi damai dan diberikan waktu bekerja hingga diadakan pemilu presiden berikutnya.

Namun, Rusia dan sekutunya ingin agar Bashar al Assad tetap menjabat sebagai presiden hingga diadakan pemilu presiden berikutnya. Negeri Beruang Merah beralasan rakyat Suriah lebih pantas menentukan masa depannya sendiri daripada pihak lain.

(okezone.com)
Internasional
Berita Terkait
  • Senin, 27 Apr 2026 18:18

    Lebih Cepat dari Target, Tim Penyelaras PWI Pusat Tuntaskan AD/ART

    Jakarta - Tim Penyelaras Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), Kode Etik Jurnalistik (KEJ), dan Kode Perilaku Wartawan (KPW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat berhasil menuntaskan

  • Senin, 27 Apr 2026 18:03

    Mengenal Kanker Prostat yang Dialami Benjamin Netanyahu

    JAKARTA - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengabarkan telah menjalani pengobaran kanker prostat yang dideritanya. Dikabarkan Netanyahu telah melakukan rangkaian pera

  • Senin, 27 Apr 2026 17:59

    Penurunan Kualitas Otak di Usia Produktif Kini Jadi Sorotan, Bukan Sekadar Penyakit!

    JAKARTA â€" Di tengah optimisme bonus demografi, Indonesia menghadapi ancaman yang jarang disadari: penurunan kapasitas berpikir pada usia produktif. Fenomena ini dikenal sebagai silent cogn

  • Senin, 27 Apr 2026 17:56

    Harga Pangan Hari Ini Naik, Minyak Goreng Tembus Rp23.709 per Liter

    JAKARTA - Harga pangan nasional terpantau mengalami pergerakan pada awal pekan ini, Senin (27/4/2026). Sejumlah komoditas utama mengalami kenaikan, namun tidak sedikit juga yang mengala

  • Senin, 27 Apr 2026 17:51

    Purbaya Targetkan IHSG Tembus 28.000, Airlangga: Kita Kejar Pertumbuhan 20%

    JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyambut positif proyeksi Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang menargetkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menem

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.