Benarkah Akupuntur Telinga Bantu Kurangi Berat Badan?
Rabu, 16 Sep 2015 15:37
Prosedur memasukkan jarum berukuran 2 mm ke dalam lima titik di seputaran telinga luar ini dikatakan peneliti dapat mengurangi berat badan seseorang dalam kurun 8 minggu, terutama menguruskan bagian tubuh di sekitar perut. Termasuk dengan metode satu titik.
Tim peneliti dari Kyung Hee University di Seoul, Korsel, membuktikannya dengan melibatkan 91 orang dewasa yang kelebihan berat badan dan diminta menjalani metode diet yang sama. Sepertiga di antaranya kemudian menjalani akupunktur, sementara sisanya diberi pengobatan biasa.
Hampir sepertiga partisipan dilaporkan menyerah dan berhenti menjalani diet sebelum masuk minggu kedelapan, 15 orang di antaranya adalah kelompok yang diberi pengobatan biasa. Hal ini terjadi karena mereka kesulitan mengelola rasa lapar dan tidak tahan menjalani diet ketat.
Namun pada partisipan yang mampu melanjutkan diet, indeks massa tubuh mereka menurun hingga lebih dari enam persen. Ini terjadi pada partisipan yang menjalani akupunktur dan 5,7 persen pada partisipan dengan metode satu titik.
Lingkar pinggang partisipan yang menjalani akupuntur juga terlihat paling banyak menyusut, bahkan perbedaannya sudah terlihat signifikan dalam kurun empat minggu saja. Akan tetapi, penelitian yang dipublikasikan pada 2013 ini menuai kritik.
Menurut informasi latar belakang yang diberikan dalam jurnal, terapi akupunktur aurikularis didasarkan pada pemahaman bahwa telinga luar mewakili semua bagian tubuh. Ilmu itu pertama kali digunakan di Perancis pada 1956 oleh seorang dokter.
Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa desain penelitian itu cacat dan kesimpulannya sangat tidak masuk akal. Para ahli yang tidak terlibat dalam studi tersebut mengatakan bahwa akupunktur tidak dapat diandalkan dan hanya akan membuang-buang uang.
"Sulit untuk memikirkan perawatan yang kurang masuk akal daripada akupunktur telinga," kata Edzard Ernst, seorang profesor pengobatan komplementer di Inggris University of Exeter. Ia mengatakan bahwa penelitian dan kesimpulan tersebut harus dilihat dengan sangat hati-hati.
Kevin McConway, seorang profesor statistik terapan di Universitas Terbuka, mencatat bahwa studi tersebut cacat karena lebih dari sepertiga peserta studi yang kecil tersebut tidak menyelesaikan percobaan, dan kesimpulannya tidak memperhitungkan ini.
"Studi ini hanya berlangsung delapan minggu dan tidak melihat efek jangka panjang dari kelebihan berat badan. Di dunia ini banyak menawarkan perawatan penurunan berat badan yang tidak memiliki efek jangka panjang yang bisa dibuktikan," komentarnya, seperti dilansir dari Zeenews, Rabu (16/9/2015).
Geram Revitalisasi Pasar Bawah Baru 60 Persen, Wako Ancam Putus Kontrak Pengelola
PEKANBARU - Walikota (Wako) Pekanbaru Agung Nugroho melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke bangunan Gedung Pasar Wisata Pasar Bawah, Kamis (30/7/2026). Dalam kunjungan tersebut, Agung mengaku kecewa m
Momen Prabowo Jajal Kereta Nusantara Explorer: Pertama Kali Naik
SEMARANG - Presiden Prabowo Subianto menjajal Kereta Api Nusantara Explorer usai meresmikan revitalisasi Stasiun Semarang Tawang, Jawa Tengah pada Kamis (30/7/2026). Dalam perjalanan perdananya dengan
Usai Ultimatum Subsidi, BGN Diminta Terbitkan Larangan dan Sanksi ke SPPG
Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) segera menerbitkan surat larangan penggunaan barang subsidi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di se
Menanti Hak Rp7,7 Miliar, Eks Karyawan RPG Mengadu ke Penasehat Khusus Presiden Bidang Tenaga Kerja
PEKANBARU - Sebanyak 51 mantan karyawan Riau Pos Group (RPG) terpaksa membawa polemik penunggakan hak mereka senilai total Rp7,7 miliar ke tingkat pusat. Para pekerja tersebut secara resmi melayangkan
Tak Terima Divonis 2 Tahun, Gubernur Riau Nonaktif Abdul Wahid Ajukan Banding
PEKANBARU - Perkara dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid dipastikan belum berakhir di pengadilan tingkat pertama. Pihak penasihat hukum terdakwa secara tegas