Jumat, 12 Jun 2026

Berita

Makan Sayur Bikin Gemuk, Kok Bisa?

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 03 Feb 2026 16:01
(FotoOkezone.com)
JAKARTA â€" Sayur selama ini dikenal sebagai “teman diet” yang aman dikonsumsi dalam porsi besar. Kandungan serat, vitamin, dan mineralnya sering dianggap otomatis membantu menurunkan berat badan dan menjaga kesehatan. Namun, tidak sedikit orang justru mengalami kenaikan berat badan meski merasa sudah rajin makan sayur. Lalu, bagaimana hal ini bisa terjadi?

Jawabannya bukan pada sayurnya, melainkan cara pengolahan dan pola konsumsi yang keliru. Sayuran yang awalnya rendah kalori dapat berubah menjadi “bom kalori” ketika diproses dengan teknik memasak tertentu, terutama digoreng atau dimasak dengan banyak minyak, santan, dan gula.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun menyoroti fenomena ini sebagai salah satu faktor tersembunyi yang berkontribusi terhadap masalah obesitas dan kolesterol tinggi di Indonesia.

“Makan sayur kok malah bikin gemuk dan kolesterol naik ya? Nah, pantas saja karena makan sayurnya kayak begini. Digoreng atau dibalado, ya pantas. Jadi tambah gemuk sama kolesterolnya naik,” kata Budi dalam unggahan video di akun Instagram-nya, dikutip Selasa (3/2/2026).

Sayur Bersifat Seperti Spons
Budi menjelaskan bahwa secara struktur, sayuran memiliki karakteristik berbeda dibandingkan protein hewani seperti daging atau ikan. Serat pada sayur bersifat porous atau berongga, sehingga mudah menyerap cairan di sekitarnya.

“Sayur itu sehat karena dia punya serat dan banyak vitaminnya. Tapi sayur itu juga punya sifat seperti spons. Kalau dia ketemu minyak goreng, dia akan menyerap semua minyak masuk ke serat-seratnya,” jelasnya.

Artinya, ketika sayur digoreng atau ditumis dengan banyak minyak, kalori yang masuk bukan lagi hanya dari sayurnya, melainkan dari minyak yang terserap. Padahal, satu sendok makan minyak goreng saja bisa mengandung sekitar 120 kalori.

Bayangkan jika satu porsi tumis sayur menggunakan beberapa sendok minyakâ€"kalori bisa melonjak drastis tanpa disadari.

Dampak Penggorengan terhadap Nutrisi
Kekhawatiran ini sejalan dengan pandangan World Health Organization (WHO) yang menilai teknik memasak deep-frying dapat meningkatkan kandungan lemak trans dan mengurangi kualitas nutrisi makanan.

Beberapa vitamin yang larut air dan sensitif terhadap panas, seperti vitamin C dan folat, bisa rusak saat sayur digoreng pada suhu tinggi. Artinya, meski terlihat tetap “sayur”, nilai gizinya sudah jauh berkurang.
Data dari Harvard T.H. Chan School of Public Health juga menunjukkan bahwa orang yang sering mengonsumsi gorengan memiliki risiko penyakit jantung hingga 28 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang makan gorengan. Bahkan, setiap tambahan sekitar 114 gram (4 ons) makanan gorengan per minggu dapat meningkatkan risiko kesehatan secara keseluruhan sebesar tiga persen.

Selain itu, penelitian yang dipublikasikan dalam British Medical Journal (BMJ) menyebutkan bahwa proses penggorengan dapat menghasilkan akrilamida, senyawa kimia yang berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang, terutama jika dikonsumsi terus-menerus.

Selain cara memasak, porsi dan tambahan bumbu juga berperan besar. Sayur yang dimasak dengan santan kental, gula berlebih, atau saus tinggi natrium tetap bisa memicu kenaikan berat badan dan masalah metabolik, meskipun bahan utamanya adalah sayuran.
Tak jarang pula seseorang merasa “aman” makan dalam jumlah sangat besar karena merasa sedang diet, padahal asupan kalori totalnya justru melebihi kebutuhan harian.

Cara Sehat Mengolah Sayur
Agar manfaat sayur tetap optimal dan tidak berujung pada kenaikan berat badan, Budi Gunadi Sadikin menyarankan masyarakat kembali pada cara pengolahan yang lebih sehat dan sederhana.
“Sayur itu teman tubuh kita. Jangan dimusuhi dengan cara masak yang salah. Masaknya harusnya dikukus, direbus, atau dimakan mentah. Tapi jangan lupa dicuci dulu,” pungkasnya.

Beberapa metode memasak yang lebih direkomendasikan antara lain:

1. Dikukus atau direbus dengan waktu singkat
2. Ditumis ringan dengan sedikit minyak
3. Dikonsumsi mentah sebagai lalapan atau salad, dengan kebersihan yang terjaga

Dengan memahami bahwa sayur bisa menjadi tidak sehat jika salah diolah, masyarakat diharapkan lebih bijak dalam memilih cara memasak. Pada akhirnya, pola makan sehat bukan hanya soal apa yang dimakan, tetapi juga bagaimana makanan tersebut diolah dan dikonsumsi.(okezone.com)
Sumber: (Okezone.com)

Berita
Berita Terkait
  • Rabu, 18 Mar 2026 16:35

    Inisial 4 Anggota Bais Terduga Penyiram Air Keras ke Aktivis KontraS

    JAKARTA - Komandan Puspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto menjelaskan pihaknya telah menerima empat prajurit yang diduga terlibat dalam kasus penyiraman air keras ke Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus.

  • Selasa, 17 Mar 2026 09:19

    Haji 2026 Berpotensi Ditunda Imbas Konflik Timur Tengah, MUI: Bangun Optimisme!

    JAKARTA - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Fatwa, Asrorun Ni’am Sholeh menyoroti langkah pemerintah yang berencana menunda pemberangkatan jamaah haji 2026 imbas konflik Israel-AS dengan Ir

  • Senin, 16 Mar 2026 14:32

    Rismon Membelot, Roy Suryo Cs Kembali Gugat MK soal UU ITE

    JAKARTA - Roy Suryo dan Tifauzia Tyassuma atau dr Tifa akan kembali mengajukan gugatan baru ke Mahkamah Konstitusi (MK) terkait sejumlah pasal di KUHP dan Undang-Undang Informasi Transaksi Elektronik

  • Sabtu, 14 Mar 2026 10:39

    Peristiwa 14 Maret: Bung Hatta Wafat hingga Lahirnya Albert Einstein

    JAKARTA - Sejumlah peristiwa penting dan bersejarah tercatat terjadi pada 14 Maret di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah wafatnya Wakil Presiden pertama Indonesia, Mohammad Hatta atau Bung H

  • Sabtu, 14 Mar 2026 10:35

    Prabowo Larang Pejabat Gelar Open House Mewah saat Lebaran

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meminta para pejabat pemerintah untuk tidak menggelar acara open house secara mewah pada perayaan Idul Fitri 2026. Imbauan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.