Food
Ini Keunikan Nasi Boran yang Akan Dipatenkan Lamongan
Rabu, 07 Mar 2018 11:11
Nasi Boran adalah racikan nasi khas dari Lamongan yang banyak ditemukan jika kita berkunjung ke Lamongan. Hampir di setiap sudut kota Lamongan ada penjaja nasi boran ini.
"Nasi khas Lamongan ini dikenal dengan sebutan nasi Boran, berasal dari nama wadah nasi anyaman bambu yang dipakai, yang oleh warga dikenal dengan nama Boran," terang Tutik, salah seorang penjual nasi Boran yang biasa mangkal di sekitar Lamongan Plaza, Selasa (6/3).
Menurut Tutik, memang hanya bisa ditemukan di Lamongan dan tidak akan bisa ditemukan di kota lain. Nasi boranan, menurut Tutik, terdiri dari nasi, bumbu, lauk dan rempeyek. Pelengkap lain yang melengkapi nasi boran adalah empuk (tepung yang digoreng) dan pletuk (kacang dan remah nasi aking).
"Bumbu dari nasi boranan terdiri dari rempah-rempah yang ditambahkan dengan cabai dan kelapa parut yang dihaluskan," terang Tutik.
Untuk lauknya selalu ditawarkan beragam pilihan. Diantaranya daging ayam, jeroan, ikan bandeng, telur dadar, telur asin, tahu, tempe. "Lauk lain yang tidak ditemukan di makanan lainnya adalah ikan Sili yang harganya lebih mahal dibandingkan dengan harga lauk lainnya," kata Tutik.
Ikan Sili adalah ikan khas air tawar yang hanya bisa ditemukan hidup liar di rawa atau sungai dan belum bisa dikembangkan secara massal. Nasi khas Lamongan ini biasa dijajakan secara lesehan di sekitar kawasan pasar-pasar kota di Lamongan selama 24 jam di hampir setiap sudut kota.
"Untuk satu porsinya biasanya Rp 10 ribu, tapi khusus untuk ikan Sili satu porsinya bisa Rp 15 ribu hingga Rp. 25 ribu tergantung besar kecilnya ikan Sili," ungkap Tutik soal harga. Penjual nasi Boran lainnya, Mak Yah yang biasa mangkal di Pasar Lamong Raya mengatakan, hampir semua penjual nasi Boran yang ada di Lamongan berasal dari satu desa, yaitu Desa Sumberjo, Kecamatan Kota.
Di desa ini, menurut Mak Yah, hampir 80 persennya berjualan nasi boran yang ada di Lamongan. "Saya sudah berjualan nasi Boran ini lebih dari 15 tahun," aku Mak Yah.
Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lamongan, Muhammad Zamroni mengatakan, dari data yang ada ada lebih dari 200 penjual nasi boran beroperasi di Lamongan. Mereka secara turun temurun membuat dan menjajakan nasi boranan dan dalam pemasarannya lebih banyak memilih di pinggir jalan secara lesehan.
"Nasi Boran sebenarnya juga sering menjadi pilihan disuguhkan kepada para tamu pejabat yang berkunjung ke Lamongan dan nyatanya banyak yang suka," ungkap Zamroni. Zamroni juga menyebut, masakan nasi Boran ini hanya bisa ditemui di Lamongan dan belum ada yang menjualnya di luar kota Lamongan.
"Karena kekhasannya ini, maka kami mengajukan Nasi Boran ini untuk mendapatkan hak paten sebagai salah satu ikon kota Lamongan," pungkas Zamroni.
(Detik.com)
Lifestyle
Kodim 1714/Puncak Jaya Bersinergi dengan Polri dan Pemda Musnahkan Miras Ilegal
Puncak Jaya-Kodim 1714/Puncak Jaya Bersinergi dengan Polri dan Pemda melaksanakan pemusnahan barang bukti Minuman Keras (Miras) ilegal hasil sitaan, bertempat di Lapangan Alun-Alun Roh Kudus, Distrik
Wakil Panglima TNI Tinjau Pembangunan Yonif TP 936/Satria Joyokusumo dan Situs Bersejarah di Jawa Tengah
Magelang-Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R bersama Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa melaksanakan peninjauan rehabilitasi dan pembangunan sejumla
Krisis Energi dan Ekonomi Bayang-Bayangi Israel dalam Dua Dekade Mendatang
Pengawas Negara Israel, Matanyahu Englman, memperingatkan bahwa Israel berisiko kehilangan kemandirian energi dalam dua dekade ke depan.Jika tingkat konsumsi saat ini terus berlanjut, negara itu kemun
Soal Pengangkatan Tenaga Ahli oleh Kepala Daerah, Ini Kata Prof Djohermansyah
PEKANBARU-Pakar Otonomi Daerah Prof Djohermansyah Djohan menilai pengangkatan tenaga ahli oleh kepala daerah merupakan hal yang lumrah. Hal itu juga menjadi kewenangan kepala daerah dalam menjalankan
Prabowo Respons Kritik Makan Bergizi Gratis Minta Penolak Turun Langsung Jumpai Masyarakat
JAKARTA - Kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam acara Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII di Gorontalo, Rabu (24/6/2026) diwarnai aksi antusias peserta yang membentangkan spanduk