Menurut Cahyo Bayu Kusumo (36), Warung Makan Moro Tresno H Caup Gendut sudah ada sejak 1970-an dan dirintis oleh Muhammad Ghufron Ridho. Caup adalah panggilan akrab Ghufron.
"Dulu Bapak sering dipanggil Ghuf, Ghuf akhirnya disapa Caup. Kalau 'Gendut', memang Bapak badannya gendut (gemuk)," kata Cahyo mengawali obrolan.
Suami dari Yusnaini Zulfarida (33), anak ketiga H. Caup Gendut itu memaparkan, soto tauco sebenarnya sama dengan soto-soto di daerah lain.
Namun, ada sambal tauco yang menjadikan soto khas Tegal ini berbeda dengan soto lainnya.
Rahasia Bumbu Tauco
Tauco sendiri berasal dari kedelai, gula merah, dan garam lalu difermentasi. Cahyo tidak memproduksi tauco sendiri melainkan beli, tapi masih mentah.
Tauco tersebut dibubuhi aneka macam bumbu, sehingga rasanya begitu menggoda.
Warung Makan Moro Tresno H Caup Gendut buka dari pukul 08.00–23.00 WIB setiap hari. Warung tutup hanya pada saat seminggu awal bulan puasa dan buka kembali mulai sore hingga malam.
"Di sini tidak ada kata libur. Kita libur pas Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha, serta seminggu awal bulan puasa biasanya kita tutup," kata Cahyo.
Semangkuk soto tauco dibanderol seharga Rp 15.000. Selain soto tauco, warung ini juga menyediakan berbagai kuliner khas Tegal lainnya. Ada satai kambing balibul (bawah lima bulan), nasi campur, gulai kambing, nasi lengko, dengkil, sop balungan, asem-asem iga sapi, dan sup ayam.
Untuk minuman teh dan air jeruk hangat atau dingin, es kopyor, es campur, dan teh poci lengkap dengan gula batu atau pasir tergantung selera. Sedangkan untuk pelengkap, ada tahu goreng dan krupuk yang kriuk disantap bersama soto tauco ataupun menu lainnya.
(liputan6.com)