Sabtu, 13 Jun 2026
  • Home
  • Lingkungan
  • Karhutla di Riau Semakin Meluas, Petugas Beradu Cepat dengan Si Jago Merah

Karhutla di Riau Semakin Meluas, Petugas Beradu Cepat dengan Si Jago Merah

Admin
Senin, 01 Mar 2021 10:19
pekanbaru.tribunnews.com

PEKANBARU - Kebakaran Hutan dan Lahan atau Karhutla di Provinsi Riau semakin meluas.

Sejumlah wilayah luas lahan yang terbakar terus bertambah. Petugas pun harus bekerja lebih keras lagi untuk memadamkan api yang terus menjalar.

Angin kencang dan cuaca kering, serta lahan yang bergambut menjadi tantangan berat bagi petugas di lapangan.

Mereka pun harus adu cepat dengan si jago merah arah tidak terus merambat ke lahan lain disekitarnya.

Dari laporan yang diterima Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau, mencatat sejak awal Januari hingga saat ini total luas lahan yang terbakar di Riau sudah mencapai seluas 382,55 hektare (Ha).

"Saat ini kebakaran lahan di Riau sudah terjadi di sembilan kabupaten kota. Tersisa tiga kabupaten lagi yang masih nihil Karhutla, Rohul, Kuansing dan Pekanbaru, mudah-mudahan ini bisa kita lakukan pencegahan sehingga tidak ada lagi terjadi Karhutla," kata Kepala BPBD Riau, Edwar Sanger, Minggu (28/2/2021).

Sedangkan kabupaten yang paling luas terjadi Karhutla adalah kabupaten Bengkalis, yakni 102,65 ha. Kemudian Kota Dumai 79,85 ha, Inhil 73,5 ha, Siak 54,5 ha, Pelalawan 31 Ha, Meranti 14 ha, Inhu 12 ha,, Rohil 11 Ha dan Kampar 3,55 Ha.

Edwar mengungkapkan, saat ini petugas gabungan masih berjibaku melakukan pemadaman api di sejumlah wilayah yang masih terjadi Karhutla. Diantaranya Desa Dungun, Rupat, Bengkalis. Di lokasi ini kebakaran lahan sudah berlangsung hingga 7 hari.

"Saat ini petugas masih melakukan proses pendinginan karena masih titik asap yang mengepul," ujarnya.

Selain itu, petugas juga masih melakukan upaya pemadaman di Desa Penebal, Bengkalis, Desa Bulu Apo, Kecamatan Pinggir Bengkalis. Kemudian di Kelurahan Lubuk Gaung Kecamatan Sungai Sembilan Dumai. Serta di Kecamatan Tualang, Siak dan di Sungai Apit.

"Kemudian di Inhu juga masih beberapa lahan terbakar, di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Kuala Cenaku, petugas sudah dilapangan, sekarang dalam proses pemadaman dan pendinginan," katanya.

Selain itu, Karhutla juga masih terjadi di Inhil. Tepatnya di Desa Rabit, Kecamatan Kempar, kemudian di Desa Bente Kecamatan Madah dan di Jalan Pelajar Ujung, Kelurahan Batang Tuanku Tembilahan.

"Karena cuaca saat ini semakin kering, maka kami mengimbau kepada masyarakat dan perusahaan agar jangan coba-coba membakar lahan dengan cara membakar. Mari sama-sama kita jaga alam kita, kalau kita jaga alam, maka alam pun akan menjaga kita," ujarnnya.

Edwar mengungkapkan, hingga saat ini sudah ada enam kabupaten kota di Riau sudah menetapkan status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan . Enam kabupaten/kota tersebut diantaranya adalah Kabupaten Kepulauan Meranti, Siak, Bengkalis, Rokan Hilir, Indragiri Hilir dan Kota Dumai.

"Enam kabupaten kota ini sudah melakukan antisipasi dari awal untuk menjaga dan mencegah supaya tidak terjadi kebakaran hutan dan lahan," katanya.

Berbagai upaya dilakukan sejak awal untuk mencegah terjadinya kebakaran yang lebih luas lagi. Edwar mengungkapkan, dengan sudah ditetapkanya status siaga darurat Karhutla tingkat provinsi, Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar sudah menggelar rapat koordinasi teknis dengan kabupaten kota di Riau untuk mengoptimalkan seluruh satuan tugas yang ada dimasing-masing daerah.

"Kita minta optimalkan seluruh perangkat yang ada di seluruh kabupaten dan kota di Riau. Jadi Satgas gabungan yang ada di kabupaten kota kita optimalkan untuk melakukan sosialisasi dan pencegahan serta pemadaman jika didaerahnya terjadi Karhutla di daerahnya masing-masing," katanya.

Sementara terkait dengan permintaan helikopter yang sudah diajukan Pemprov Riau ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga saat ini masih diproses oleh pemerintah pusat.

Namun Edwar mengungkapkan, proses pengajuan peminjaman heli tidak semulus tahun-tahun sebelumnya. Sebab tahun ini hampir semua negara di Dunia dihadapkan dengan Pandemi Covid-19 yang juga berdampak terhadap proses peminjaman heli untuk pemadaman Karhutla.

"Dengan suasana Covid-19 saat ini memang ini terkendala, karena heli dan krew yang mau kita pinjam ini kan ada diluar negera, sementara dinegara itu sekarang sedang lokdown," katanya.


Sedangkan untuk Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) hingga saat ini juga masih diproses oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BNPT). TMC diharapkan bisa segera dilakukan di Riau untuk membuat hujan buatan. Sehingga bisa ikut membantu dalam pencegahan Karhutla di Riau.

"TMC juga masih diproses, harapan kita kalau bisa TMC ini memang lebih awal bisa dilakukan, sehingga saat musim kemarau nanti bisa kita lakukan pencegahan," katanya.

Sebelumnya, Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar resmi menetapkan status siaga darurat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Riau, Senin (15/2/2021). Status siaga darurat Karhutla di Riau diberlakukan hingga 31 Oktober 2021 mendatang.

Penetapan status siaga darurat Karhutla Riau ditetapkan berdasarkan peraturan Gubernur Riau nomor 9 tahun 2020 tentang prosedur tetap kriteria penetapan status keadaan bencana dan komando satuan tugas pengendalian bencana Karhutla di Riau dan situasi tersebut.

"Dengan sudah ditemukannya Karhutla di sejumlah wilayah di Riau dan sudah ditetapkan status siaga darurat karhutla di Tiga kabupaten, yakni Dumai, Bengkalis dan Rokan Hili (Rohil) maka hari ini status siaga darurat Karhutla Riau resmi saya tetapkan terhitung mulai hari ini 15 Februari 2021 hingga 31 Oktober 2021 mendatang," kata Syamsuar saat memimpin rapat koordinasi penetapan status siaga darurat Karhutla Riau di Gedung Daerah, Senin (15/2/2021).

Gubri Syamsuar mengungkapkan, selain ancaman Karhutla, saat ini Riau juga sedang dihadapkan dengan wabah Covid-19. Sehingga dibutuhkan kerja maksimal untuk mencegah dan menangani bencana ini.

"Ditengah ancaman bencana non alam Pandemi Covid-19, saat sampai saat ini masih terjadi dan belum tau kapan akan berakhir, kita juga sedang dihadapkan dengan ancama Karhutla," katanya.

Hingga saat ini total luas lahan yang terbakar di Riau sudah mencapai 55,71 hektare yang tersebar empat kabupaten kota. Terluas ditemukan di Kabupaten Siak seluas 33 hektare, kemudian di Bengkalis 17,7 hektare, di Rohil 5 Hektare dan di Dumai 0,01 hektare.

"Dengan ditetapkanya status siaga ini, maka Satgas langsung mempersiapkan diri, baik saranan dan prasaran untuk melakukan pencegahan," katanya.

Selain itu, pihaknya juga akan meminta bantuan pemerintah pusat untuk segera melakukan teknologi modifikasi cuaca atau TMC di Riau. Hujan buatan akan difokuskan di wilayah-wilayah yang saat ini sudah mulai berkurang curah hujannya.

"Secepatnya TMC bisa dilakukan di daerah - daerah yang sudah lama tidak hujan, mudah-mudahan bisa segera turun hujan disana, sehingga bisa meminalisir terjadinya kebakaran hutan dan lahan," ujarnya.


Sumber: pekanbaru.tribunnews.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.