Nasional
Demo Selesai, Giliran Semua Kritik Tertuju ke Jokowi
Sabtu, 05 Nov 2016 14:57
Meski terjadi riak-riak kecil, itu hanya rasa emosional sebagian kecil pedemo yang kecewa. Ketidakpuasaan terhadap pemimpin tertinggi negeri ini yang menolak ditemui, yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi), memilih tidak memberi respons secara langsung. Atau, bisa jadi kericuhan memang sengaja diciptakan dengan tujuan untuk mencoreng demonstrasi itu sendiri.
BERITA REKOMENDASI
FOKUS: Secuil Rezeki Pedagang di Antara Demo 4 November
FOKUS: Jokowi Tolak Temui Demonstran, Ada Apa?
FOKUS: Nyawanya Terancam, Akankan Ahok Tetap Nekat Blusukan?
Presiden Joko Widodo (Jokowi) melontarkan tuduhan ada aktor politik yang mendorong terjadinya kerusuhan, termasuk adanya insiden kebakaran di Jakarta Utara. Namun, apa yang diucapkan Presiden Jokowi justru dinilai Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra Fadli Zon sebagai bentuk spekulasi semata.
"Menunggangi kan itu bahasa zaman dulu. Ditunggangi pihak ketiga, apa maksudnya? Jangan menimbulkan spekulasi baru. Kalau misalnya ada indikasi itu, sebut saja namanya," kata Fadli di acara Diskusi Polemik Sindo Trijaya bertajuk 'Setelah Demo 411', di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11/2016).
Apalagi, selama ini Presiden Jokowi dikenal sebagi simbolisasi tokoh rakyat jelata. Selain dekat dengan pedagang, petani, rakyat kecil, serta gaya blusukannya ke kampung-kampung hingga mal, bahkan hingga Jokowi dinobatkan majalah Time sebagai tokoh penuh harapan.
Lalu, kenapa ketika rakyat meminta untuk duduk bareng, Presiden Jokowi justru memilih menghindar. Pakar hukum pertahanan dan pengamat militer Salim Said berpendapat pangkal kerusuhan terjadi karena Presiden Jokowi tidak mau menemui para demonstran yang sejak siang sudah menunggu di depan gedung Istana Negara.
"Seharusnya dia (Jokowi) bisa memperkirakan kalau ini (unjuk rasa) akan menjadi besar. Tapi dia malah memilih kabur, seperti ada kesengajaan untuk membuat ricuh," ujar Salim.
Akibat Jokowi tidak mau menemui para demonstran, maka massa merasa kecewa dan marah hingga akhirnya tersulut emosi kemudian terjadi kericuhan. "Presiden biasanya mau kalau ketemu semua orang, tapi kemarin perlakuannya berbeda. Seperti mengulur-ulur, sehingga unjuk rasa akhirnya pecah," terang Salim.
Salim juga menyinggung sikap Presiden Jokowi yang lebih mau menerima pengusaha Sugianto Kusuma (Aguan) dibandingkan menemui para demonstran yang mewakili umat Islam. "Ini jelas ada perlakuan yang berbeda," tuturnya.
Sementara, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menilai, protokoler presiden tidak cermat mengatur agenda kegiatan Jokowi. Seharusnya, kata Fahri, Presiden tetap berada di kantornya untuk menemui massa aksi, bukan blusukan ke bandara Soekarno Hatta.
Bukan hanya itu, kritik keras juga dilontarkan para netizen yang menyalahkan orang nomor satu di Indonesia ini menjadi pemicu kerusuhan demo 4 November.
Pengguna media sosial Twitter juga menduga hal yang sama. Mereka menyalahkan Presiden Jokowi yang tak mau menemui para demonstran. "Demo ricuh ini semua salah Anda, Jokowi! Anda tidak mau menjumpai rakyat yg ingin menyampaikan aspirasinya! #AksiDamai411," tulis pengguna Twitter dengan akun @ilham_k13.
Pemilik akun @nasrullXXI menyebut, apabila Jokowi menemui massa tadi siang, kericuhan malam ini tidak akan terjadi. "Seandainya bapak @jokowi mau menemui demonstran saat demonya masih damai, demonya gk bkalan ricuh kya gini #AksiDamai411."
Kicauan senada juga diutarakan akun @sy_essy. "Ini demo jd ricuh gara2 jokowi gak mau2 juga nemuin kali. Coba klo drtd ditemuin nya juga, pasti masi damai2 juga ampek sblum ricuh ni."
Kericuhan massa ini diduga karena Presiden Jokowi belum menemui mereka. Jokowi sendiri diketahui meninggalkan Kompleks Istana Kepresidenan. Ia pergi sekira pukul 11.00 WIB menuju Bandara Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Kepala Biro Pers, Media, dan Informasi Kepresidenan Bey Machmudin mengatakan bahwa perginya Presiden Jokowi dari Istana Negara bukan karena menghindari massa demonstran.
Bukan hanya itu, hal yang menjadi catatan adalah tidak cepatnya proses hukum yang dilakukan oleh kepolisian terhadap Ahok. Ketidakpuasan rakyat atas penanganan kasus Surah Al Maidah Ayat 51 yang lambat, dan dinyatakan dalam demo sejuta massa, adalah sebuah aspirasi. Hal itu seharusnya direspons dengan melakukan dialog langsung dengan rakyat.
Mana slogan yang selama ini bergaung 'Jokowi adalah rakyat. Jokowi adalah kita'? Kini seakan luntur ketika kemarin malam menolak bertemu para demonstran untuk mendengar keluhan dan aspirasi rakyat. (okezone.com)
nasional
Pegawai PNM Pelalawan Tenggelam di Sungai Indragiri saat Survei Kebun
RENGAT-Diduga akibat sarat muatan, pegawai lembaga pembiayaan non-bank Pemodalan Nasional Madani (PNM) Ukui Kabupaten Pelalawan Ardi Yahya (34) tenggelam di Sungai Indragiri. Persisnya di Desa Pasir S
Rumah Petak dan Mobil Pikap Ludes Terbakar di Marpoyan Damai
PEKANBARU-Satu unit rumah petak dan sebuah mobil pikap terbakar di Jalan Mesjid Sirathal Mustakim, RT 004 RW 014, Kelurahan Tangkerang Tengah, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Selasa (19/5/20
Bhabinkamtibmas Beri Motivasi Petani Cabai untuk Tingkatkan Hasil Panen
PELALAWAN â€" Jajaran Polres Pelalawan melalui Polsek Pangkalan Lesung terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan di wilayah hukumnya. Salah satu upaya tersebut dilakukan d
FBN Riau Dilantik, Kepala Kesbangpol Harap Jadi Garda Terdepan Cegah Degradasi Moral dan Peredaran Narkoba
PEKANBARU-Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Riau, Boby Rahmat hadiri pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Forum Bela Negara (FBN) Provinsi Riau. Kegiatan ini dirangkai
Orgen Tunggal Malam di Deluk, Polisi Amankan Seorang Pengguna Narkoba
BENGKALIS-Satres Narkoba Polres Bengkalis bersama Tim Raga, Samapta Polres Bengkalis serta gabungan personel Polsek Bantan mengamankan seorang pria yang diduga sebagai pengguna perusak saraf jenis sab