Senin, 06 Jul 2026
  • Home
  • Nusantara
  • Setahun Pasca Dirawat, Gajah Sumatera Berusia 60 Tahun di Tesso Nilo Kembali Aktif

Setahun Pasca Dirawat, Gajah Sumatera Berusia 60 Tahun di Tesso Nilo Kembali Aktif

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Senin, 06 Jul 2026 16:04
PEKANBARU -Kondisi seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina berusia 60 tahun yang hidup liar di Kantong Gajah Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, dipastikan dalam keadaan stabil.

Satwa itu sebelumnya telah menjalani pemeriksaan kesehatan dan pengobatan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau bersama PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) pada 25�"26 Juni 2026.

Kepala Balai Besar KSDA Riau Supartono mengatakan, individu gajah tersebut merupakan satwa soliter yang telah lama berpisah dari kelompoknya.

Pada 23 hingga 26 Juli 2025, gajah itu sempat menjalani penanganan medis intensif setelah ditemukan dalam kondisi kurus, lemah, mengalami gangguan saluran pencernaan, dehidrasi, prolapsus ani, serta keausan gigi akibat faktor usia.

"Setelah satu tahun pemantauan dan penanganan, kondisi gajah menunjukkan perkembangan yang sangat baik. Satwa kembali aktif bergerak dan mampu bertahan hidup secara alami di habitatnya," kata Supartono, Senin (6/7/2026).

Ia menjelaskan, dalam beberapa bulan terakhir gajah beberapa kali terpantau berada di sekitar kebun masyarakat untuk mencari pakan yang lebih lunak, seperti ubi kayu, batang pisang, rumput, dan tanaman sawit muda.

Kemunculan satwa tersebut sempat memunculkan laporan masyarakat yang menduga gajah kembali sakit karena feses yang masih kasar, sesekali mengalami diare, dan mengeluarkan aroma tidak sedap.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Tim Medis BBKSDA Riau yang dipimpin drh Rini Deswita bersama tim PT RAPP melakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi gajah lincah, agresif, dan memiliki respons alami terhadap keberadaan manusia. Selama proses pembiusan, gajah bahkan tetap berada dalam posisi berdiri," kata Supartono.

Menurutnya, kondisi fisik gajah mengalami peningkatan signifikan dibandingkan saat pertama kali ditangani pada Juli 2025. Berat badan diperkirakan mencapai sekitar 2.600 kilogram, dengan lingkar dada 340 sentimeter dan tinggi badan 230 sentimeter.

Pemeriksaan juga tidak menemukan adanya luka maupun cedera, sementara skor kondisi tubuh berada pada kategori sedang.

"Tim medis menemukan penurunan fungsi otot anus (anismus), yaitu melemahnya fungsi otot yang membantu proses pengeluaran feses," tutur Supartono.

Kondisi tersebut menyebabkan feses sering menggantung di anus sehingga menimbulkan aroma tidak sedap. Selain itu, keausan gigi akibat usia menyebabkan proses pengunyahan tidak lagi optimal, terutama terhadap pakan berserat kasar.

Akibatnya, feses yang dihasilkan masih bertekstur kasar dan lebih sulit dikeluarkan secara tuntas. Kondisi tersebut membuat gajah lebih memilih pakan lunak, seperti ubi, rumput, umbut, dan batang pisang.

"Kondisi yang ditemukan merupakan bagian dari proses penuaan. Selama nafsu makan tetap baik, kondisi tubuh stabil, dan satwa tidak mengalami stres, peluang gajah untuk terus bertahan hidup di habitat alaminya masih sangat baik," jelasnya.

Dalam penanganan tersebut, tim medis juga memberikan terapi berupa obat-obatan suportif dan cairan infus untuk menjaga kondisi fisiologis satwa.

Supartono menegaskan BBKSDA Riau akan terus memantau perkembangan kesehatan gajah tersebut sebagai bagian dari upaya konservasi satwa liar dilindungi.

"Kami mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga habitat gajah, tidak melakukan perburuan maupun perdagangan ilegal, serta segera melaporkan kepada BBKSDA Riau apabila menemukan satwa liar yang memerlukan penanganan," pungkas Supartono.(cakaplah)
Sumber: https://www.cakaplah.com/berita/baca/137770/2026/07/06/setahun-pasca-dirawat-gajah-sumatera-berusia-60-tahun-di-tesso-nilo-kembali-aktif/#sthash.md6oZQCE.dpbs

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor