Rabu, 29 Apr 2026

Opini

Ahok, Banjir dan Bandung

Oleh: Rianto F. Simorangkir
Minggu, 30 Okt 2016 11:00
rimanews.com
Ilustrasi
Sungguh suatu hal yang sangat me­risaukan jika kita tidak bisa meng­antisipasi hal-hal yang seharus­nya bisa kita antisipasi. Banjir yang terjadi dikota Bandung, dan bahkan menurut pemberitaan di Metro TV dinyatakan telah menelan korban 1 orang pegawai toko. Kemana pemerintah kota yang selama ini yang selalu membangga-bang­gakan prestasi yang katanya su­dah dicapai olehnya. Membuka ruang publik yang bisa menampung seluruh as­pirasi masyarakat dengan baik. Tapi satu hal yang sungguh mengherankan, kok bisa banjir. Padahal  Bandung ter­masuk daerah dengan dataran ting­gi. Melihat mobil yang bisa diseret oleh kuatnya arus banjir. Apa yang sudah dikerjakan oleh pemerintahnya.

Terkesan seperti hanya memba­ngun citra diri yang positif semata. Melihat rekam jejak sang Pemimpin Kota, Bang Kamil, yang dimana-mana sa­ngatlah positif. Tapi ketika melihat pem­beritaan ini, pastilah Abang kita itu terdiam, melihat kota­­­nya keban­jiran.

Memang pemimpin, dimana-mana ti­daklah ada yang sem­purna. Pastilah ada kelemahan yang dimiliki oleh masing-masing orang atau pemimpin. Be­runtung Jakarta memiliki seorang pemimpin yang peduli akan sungai. Se­hingga sederas apa­pun hujan yang beresiko mengakibatkan banjir akan reda dengan sendirinya. Sebab sudah di­buat sistem yang sangat bagus dalam mengatasi persoalan banjir yang akan selalu melan­da dari masa ke masa.

Seorang pemimpin yang peka, bah­wa perlu adanya norma­lisasi sungai-su­ngai yang ada. Bahwa bantaran sungai bukan untuk dijadikan tempat pemukiman. Perlu keberanian dalam mengambil keputusan untuk memin­dah­kan orang-orang yang tinggal sudah berpuluh-puluh tahun dibanta­ran sungai. Dimana pemimpin-pe­mim­pin sebelumnya tidak begitu tegas dalam proses normalisasi tersebut.

Dan ketika Jakarta sekarang sudah lebih baik, terus dikatakan bahwa itu bukanlah rancangan programnya. Itu sudah ada sejak zaman kepemimpinan sebelumnya. Selalu ada saja hal-hal yang dilakukan yang  bisa mengurangi makna dari hal-hal yang sudah dicapai sekarang ini. Dan pernyataan tersebut dibalas, bahwa memang benar program normalisasi sungai-sungai sudah ada sejak zaman Bapak Fauzi. Tapi yang dibutuh­kan masyarakat itu bukan program-program yang ada diatas kertas. Tapi tindakan dan bukti nyata yang diperlukan untuk bisa menyele­sai­kan masalah banjir tersebut.

Pemimpin kota-kota yang ada di seluruh Indonesia seharus­nya bisa melihat kejadian yang baru terjadi dikota Bandung. Dan memang ben­cana banjir sudah merata terjadi di­beberapa kota-kota yang ada di Indonesia, mulai dari kota-kota yang ada di Sumatera, Jawa, Kalimantan dan Sulawesi. Seharusnya pemimpin ti­dak sibuk untuk urusan dirinya sen­diri, atau golongan maupun partai yang mengusungnya. Pemimpin-pe­mim­­pin daerah tersebut harus turun lang­sung melihat apa yang terjadi di masyarakatnya. Mengayomi dan menuntun daerahnya supaya menjadi lebih baik lagi. Terutama masalah ban­jir. Seharusnya ketika daerah yang di­pimpinnya kebanjiran, seharus­nya dia merasa malu. Dan tidak menyalah­kan orang lain atas kejadian tersebut.

Mari dicarikan solusi bagaimana supaya penyakit banjir itu tidak kambuh lagi. Harus dibutuhkan kerja yang ekstra keras, dan berani mengam­bil keputusan-keputusan yang meski­pun tidak populis. Sebuah keputusan yang membawa kebaikan bagi masya­ra­kat meskipun pada awalnya banyak di­tentang. Harus berani untuk tidak po­pular dimata masyarakat. Toh, ma­syarakat itu sendiri bisa menilai, akan hal-hal yang sudah dicapai, mana yang berhasil dan mana yang tidak. Dan satu lagi masyarakat tidak mem­bu­tuhkan rencana-rencana program yang tidak akan pernah ada implementasi atau eksekusi dari program tersebut. Rak­yat membutuhkan hasil nyata dan tin­dakan nyata dari pemimpin-pe­mimpin daerah kita ini.

Penggusuran itu perlu dan harus dilakuka sepanjang masyara­kat yang digusur tersebut sudah disiapkan sebelumnya tempat yang lebih baik. Dan tidak seperti salah satu legislator kita ini, sampai-sampai membuat lom­ba puisi tentang penggusuran. Bahkan di­imingi-imingi dengan hadiah sam­pai 10 juta. Pemenangnya diambil dari jika sudah banyak yang mereview puisinya dalam sebuah video, dengan hastag #situkanggusur. Apa itu, kerja legislator kita ini. Seharusnya dia itu lebih banyak untuk melihat kerjaannya di kedewanan.  Mengejar target ran­ca­ngan undang-undang yang harus su­dah siap untuk menjadi undang-un­dang yang sah di Negara tercinta kita ini.

Mari kita membuat pilkada yang aman, damai dan bersih di Negara kita ini dan tidak ada tempat yang na­­manya SARA untuk bisa dihem­bus­­kan. Jayalah Indonesia***

Penulis adalah Staf pengajar di STT Terpadu PESAT Sibolangit dan Alumni UNIMED 2003.


Sumber: harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:29

    Setoran Pajak Digital RI Capai RP50,51 Triliun di Kuartal I-2026

    JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan dari sektor usaha ekonomi digital sebesar Rp50,51 triliun di kuartal pertama (Q1) 2026 hingga 31 Maret 2026

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:27

    Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Senilai Rp116 Triliun, Prabowo: Bersejarah dan Sangat Membanggakan

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Prabowo menegaskan bahwa peresmian

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.