Rabu, 29 Apr 2026

opini

Ahok dan Kesimpulan KPK

Oleh: Fransisca Ayu Kumalasari SH, MKn
Jumat, 17 Jun 2016 20:24
Internet
Ilustrasi
Nampaknya langkah politik Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama semakin tak terbendung setelah kemarin (14/6), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan tidak menemukan tindak pidana korupsi dalam pembelian lahan RS Sumber Waras Jakarta seluas 3,64 hektare. Dalam penyelidikan Sumber Waras itu, KPK sudah meminta keterangan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 12 April 2016. Menurut Agus, kesimpulan itu berasal dari penelusuran penyelidik KPK.

Hasil penyelidikan ini berbeda dengan BPK dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas Laporan Keuangan DKI Jakarta 2014 yang menyatakan pembelian tanah itu berindikasi merugikan keuangan daerah hingga Rp 191,3 miliar karena harga pembelian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terlalu mahal. Konklusi KPK tentu lahir dari penyelidikan yang mendalam, juga dengan mengundang ahli hukum dari UGM dan UI, dan MAPPI yang temuan-temuan mereka disanding untuk menghasilkan kesimpulan.

Risk Taker

Ahok, memang tidak pernah sepi dari trending topic. Di jagat politik Indonesia hari-hari ini, mungkin hanya Ahok yang bisa mengalahkan fenomena "Jokowimania" yang sempat membetot perhatian rakyat. Melesatnya Ahok di menara pemberitaan selalu dikaitkan dengan kebijakan-kebijakannya yang sangat berani di Ibu Kota. Ia menggoyang lahan-lahan mafia, menata birokrasi Jakarta yang telanjur bak pasar gelap, menerangbenderangkan tatakelola anggaran, mengatasi banjir, relokasi Kampung Pulo, inovasi kebersihan dengan memberdayakan pasukan oranye, RW/RT dengan memanfaatkan aplikasi Qlue, dan lain sebagainya. 

Ahok memang lahir di tengah kondisi Ibu Kota yang digempur para penyamun, sehingga ketika harus membongkar sarang mereka, mereka tentu tidak akan pasrah dan berdiam diri. Dalam teori kriminalitas, ketika kepentingan jahat diserang, tentu akan menimbulkan reaksi keterancaman sebagai representasi eksistensi diri dan sosial seseorang. 

Berbagai penolakan pasti akan dihujamkankan kepada si-pembaharu untuk sekadar menghalang-halangi aksi beraninya yang dianggap akan mengancam isi piring mereka. Untuk yang satu ini, di mana-mana pun, pemimpin seberani Ahok, selalu akan ditentang karena ia jelas-jelas telah melawan arus besar yang dilazimkan dalam masyarakat karena hal-hal yang salah itu sudah dibuat mentradisi dari tahun ke tahun, menjadi pakem yang dijalankan secara business as usual. 

Ahok merepresentasikan sosok risk taker, sang pengambil risiko, yang melampaui sifat-sifat kepemimpinan pada umumnya. Ia pantang menyamarkan ucapan, jika itu harus dinyatakan dan membuat kuping orang-orang tentu memerah bak udang rebus. Kebenaran baginya, bukan untuk dikomodifikasi dengan jalinan kompromi-kompromi belakang layar, tapi untuk dinyatakan, meskipun untuk itu ada harga yang harus ia bayar. 

Seperti yang ia jalani hari-hari ini. Begitu terjal dan memakan energi. Rakyat sibuk dengan hujan kata-kata yang terus mendoor kekasaran Ahok. Kata-kata Ahok yang dianggap kontroversial nampaknya cukup ampuh untuk dijadikan amunisi untuk menggenjot pesa-pesan negatif terhadap Ahok. Komunikasinya dianggap tidak humanis, tidak etis. Peran media dalam mengartikulasikan berita-berita kepada publik yang kebetulan memperlihatkan kemarahan Ahok, sangatlah penting. Jika satu kasus kemarahan Ahok disiarkan berulang-ulang oleh TV, maka dengan sendirinya akan terbentuk sebuah persepsi dari redudansi berita tersebut. 

Padahal dalam era di mana dehumanisasi menggejala di setiap aspek hidup masyarakat, baik politik, sosial dan ekonomi, hal-hal yang bersifat instrumental (ucapan, bahasa tubuh) justru tidak lebih penting dari sikap kepemimpinanyang tegas dan berani. Dan untuk menyalurkan sikap keberanian itu sejatinya tipa-tiap orang tentu memiliki cara tersendiri, yang mungkin saja di luar jangkauan cara berpikir kebanyakan orang. 

Dulu kita beranggapan bahwa pemimpin yang santun dan suka tebar senyum adalah tipe pemimpin yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat untuk membawa perubahan. Namun nyatanya, tak seperti yang kita bayangkan. Masyarakat Indonesia sejatinya sangat bersyukur, karena dari segi teori kepemimpinan, Indonesia relatif cepat menemukan alternatif sifat dan situasi kepemimpinan yang merepresentasikan kebutuhan publik.

Sosok seperti Jokowi, misalnya adalah pemimpin yang mampu memanifestasikan suara-suara rakyat akar rumput, yang berjiwa melayani apa adanya, jujur dan rela berkorban.Saya setuju, dalam potongan-potongan komunikasi Ahok sebagaimana yang ia pertunjukkan selama ini, ada kata-kata yang mestinya diperhalus dan dipercantik olehnya, sehingga komunikasi yang bertujuan baik bisa sampai secara efektif pada sasarannya. 

Naif

Namun menjadikan komunikasi sebagai unsur utama untuk memotong penilaian-penilaian yang lebih komprehensif dan substantif tentang kebijakan-kebijakan Ahok selama ini tentu sesuatu yang naif. Harus diakui tidak adil jika menjadikan oralitas Ahok sebagai dasar untuk mendiskreditkan Ahok di tengah banyaknya terobosan demi terobosan yang sudah ia lahirkan selama ini

Karena itu, narasi soal dugaan korupsi Rumah Sakit Sumber Waras, atau soal reklamasi, termasuk rumor penggusuran Masjid Luar Batang, menjadi terkesan dibuat seolah-olah berada dalam panggung politik yang sarat interpretasi. Ini kemudian menjadi ujian apakah Ahok benar-benar bersih dan wise, atau memang bersalah.

Namun jika melihat dorongan massa yang bergerak voluntir mengumpulkan dukungan KTP untuk mendukung pencalonan Ahok sebagai Gubernur DKI, saya kayaknya yakin, Ahok masih di jalan yang benar. Karena, itu tadi, integritas Ahok sangat mudah diukur lewat berbagai terobosan kebijakan yang ia buat selama ini. 

Saya teringat teori kepemimpinan ketika belajar di Fakultas Hukum beberapa tahun lalu, bahwa sesuatu yang benar akan selalu bertahan dalam imajinasi rakyat dan itu tidak akan bisa menghalangi gerakan kolektif dari rakyat untuk menyatakan sesuatu yang benar.

Ketika kita diperhadapkan dengan hempasan begitu banyaknya gelombang fenomena pejabat yang akhirnya harus menamatkan karirnya di jeruji besi, kita masih menemukan secuil harapan yang dapat ditemukan pada orang-orang penghuni "Pulau Integritas", salah satunya Ahok.***

Penulis, pemerhati sosial


sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiā€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:29

    Setoran Pajak Digital RI Capai RP50,51 Triliun di Kuartal I-2026

    JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan dari sektor usaha ekonomi digital sebesar Rp50,51 triliun di kuartal pertama (Q1) 2026 hingga 31 Maret 2026

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:27

    Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Senilai Rp116 Triliun, Prabowo: Bersejarah dan Sangat Membanggakan

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Prabowo menegaskan bahwa peresmian

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.