OPINI
BNN: Basmi Narkotika Nasional
Oleh: AKBP Drs. H. Safwan Khayat, M.Hum
Kamis, 03 Mar 2016 06:49
Itulah dialog pembuka antara bocah kecil Radi siswa SD Swasta kelas 6 kepada Wawan orang tua si anak itu. Terjadi saling tanya dan jawab antara anak dan orang tua. Tugas pekerjaan rumah (PR) yang dibebankan kepada Radi harus selesai dalam waktu yang singkat. Radi sendiri masih belum paham dan mengenal soal narkoba. Usia belia dan bocah ingusan masih jauh dari sentuhan "barang terlarang" ini. Jadi wajar dia bertanya pada bapaknya soal tugas itu. Pak Wawan pun sangat senang anaknya bertanya soal itu, agar dia bisa menjelaskan dan mengarahkan anaknya terhindar dari "barang haram" itu. Jadi pak, narkoba itu jenis obat-obatan yang bahaya ? tanya Radi. Ya nak, sangat bahaya dan menyeramkan, tekan bapaknya. Kenapa orang-orang masih doyan pakai narkoba, padahal bahaya ? tanya Radi lagi. Itulah yang bapak herankan, narkoba bikin rugi, bikin rusuh, dan bikin hancur, timpal bapaknya.
Mereka bisa ditangkap pak ? tanya Radi terus. Tentu, apalagi para pengedar seperti bandar dan kurirnya, ujar Bapaknya. Apa itu bandar dan kurir ? ingin tahu Radi. Bandar itu pengedar narkoba, kurir itu kaki tangannya si Bandar yang mengantarkan narkoba kepada si pemesan, jawab Bapaknya. Kemarin di TV ada berita polisi dan BNN tangkap Bandar narkoba, jelas Radi. Kapan kamu lihat ? tanya Bapaknya. Ada pak, waktu pagi hari, ada puluhan kilogram narkoba ditangkap polisi dan BNN, ujar Radi. . Oh gitu ya, sahut enteng Bapaknya.
BNN itu apa pak ? tanya Radi ,Itu singkatan dari Badan Narkotika Nasional, terang Bapaknya. Maksudnya untuk apa BNN itu ? desak Radi.
Pak Wawan menjelaskan dengan detail soal lembaga pemerintah Non Kementrian ini. Sepertinya pak Wawan ,cukup menguasai keberadaan BNN ini di Indonesia. Maklum saja, beliau seorang dosen di Perguruan Tinggi Negeri cukup aktif mengikuti dinamika perkembangan persoalan bangsa ini. Wawasan dan pergaulannya yang luas, cukup terang menjelaskan kepada Radi, anaknya. Radi semakin mengerti tentang keberadaan BNN. Dalam fikirannya, BNN didirikan untuk memberantas, mengejar dan menangkap pelaku peredaran narkoba. Bahkan BNN juga memberikan pelayanan rehabilitasi bagi para pecandu narkoba untuk disembuhkan. Jadi dwi fungsi BNN yakni mengadili pengedar narkoba, dan mengobati pecandu narkoba. Memberantas peredaran narkoba, dan menuntaskan masalah pengguna narkoba.
Ada lagi yang kamu tanya? Tawar Bapaknya. Cukup pak, sekarang aku mau buat karangan tulisan tentang BNN saja, riang Radi. Ok, setelah selesai tugas mu, tunjukkan dulu ke bapak, timpal bapaknya. Kenapa pak, heran Radi. Bapak baca dulu, mungkin ada yang perlu dikoreksi, sahut Bapaknya. Ok pak dosen, yakin Radi. Kamu ini, bapak mu serius, kamu malah bercanda, kesal Bapaknya. Radi pun mulai menggoreskan penanya. Ujung mata penanya terus bergerak, berjalan dan menari-nari di atas secarik kertas putih. Meskipun keindahan tulisannya sangat mengkhawatirkan, Radi sangat yakin bahwa isi karangannya pasti hasilnya memuaskan. Bakat menulis dari bapaknya, mengalir teguh dalam dirinya. Sesekali penanya terhenti, dibarengi dengan mata menjulang keatas seakan menerawang ke alam ide yang dramatis.
Sampailah pada satu kalimat, pena itu berhenti dan diletakkan persis di sisi kiri kertas putih itu. Sedikit lemas, lunglai dan lusuh. Radi berdiri tegak menghampiri bapaknya. Sambil menunjukkan hasil karangannya, Radi berkata, tolong baca pak !
Pak Wawan langsung meraih kertas putih itu. Tak ada suara, tak reaksi tubuh ketika membaca karangan anaknya. Tapi yang terlihat hanya kornea bola mata pak Wawan berjalan ke kiri, ke kanan. Mulut bergetar, komat-kamit bagaikan mbah dukun yang "amit-amit". Selesai sudah pak Wawan membaca karangan anaknya. Reaksi yang muncul wajah heran dan penuh tanya. Melihat perubahan rona wajah bapaknya, Radi sedikit cemas dan takut. Mati aku, bapak ku pasti marah, gumam hati Radi.
Pak Wawan buka suara, kenapa kamu tutup karangan ini dengan kalimat BNN alias Basmi Narkotika Nasional ? Bapak kan sudah jelaskan BNN itu Badan Narkotika Nasional, ketus Pak Wawan. Bapak kan malu kalau guru mu baca, singkatan BNN kamu ganti, keluh Bapaknya. Oh itu yang bapak kesalkan pada ku, sahut Radi. Ya dong, coba kamu jelaskan maksudnya, kejar Bapaknya.
Radi menjelaskan dengan detail pula maksud perubahan singkatan itu. Begini pak, kalau Badan Narkotika Nasional (BNN) , itu artinya lembaga pemerintah resmi mengadili pengedar narkoba dan mengobati pecandu narkoba. Tapi kalau Basmi Narkotika Nasional (BNN), itu artinya semua rakyat siapa saja harus membantai dan memerangi narkotika secara nasional. Jadi antara BNN (Pemerintah) dengan BNN (Rakyat) sama-sama kerja, dan kerja sama-sama. Kamu ini, udah macam bapak mu, ketus pak Wawan. Iya dong pak, aku kan anak dosen, kalau bapak, bapaknya dosen, he he he,,,tutup Radi.***
Penulis, Kepala BNN Kota Binjai, Ketua PD MABMI Kota Medan
Sumber: harian.analisadaily.com
Opini
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal