Opini
Cegah Kampanye Dini, Songsong Pilkada Bersih!
Oleh: Riduan Situmorang
Minggu, 30 Okt 2016 11:19
Ya, kami membahas politik karena siapa pun tak bisa abai terhadap fenomena politik. Lagipula, membahas politik tidak sama dengan berpolitik. Membahas politik lebih pada bagaimana berdiskusi untuk kelak mengedukasi. Nah, yang kami bincangkan saat itu adalah bukan semata bagaimana politik ikut merangsek, bahkan bila perlu merengek untuk mendapatkan dukungan dari masyarakat. Yang kami bincangkan lebih pada bagaimana upaya yang bisa dilakukan untuk mengedukasi rakyat dalam bentuk gerakan aksi nyata agar rakyat tidak termakan janji-janji politik, terutama kalau sudah beraroma uang.
Sama sekali yang kami bincangkan pun bukan tokoh. Yang kami bincangkan lebih pada bagaimana mengolah tanah supaya dapat membuat benih tumbuh dengan baik; supaya benih itu menghasilkan; terutama supaya benih itu bermanfaat bagi orang banyak. Tanah itulah masyarakat dan benihnya adalah para tokoh. Sebab, kami sadar, benih yang baik akan mati jika ditanam pada tanah yang tandus. Hal lain yang tak kalah penting, benih yang baik meski di tanah yang baik juga belum tentu menghasilkan buah yang baik jika petaninya tak bisa menyisihkan hama. Artinya, tanah belum menjadi penentu kalau petaninya tak lihai.
Berhenti Memaklumi
Karena itu, dibutuhkan sebuah pekerjaan dan gerakan cepat-tepat agar tanah, benih, dan petani dapat bertemu pada musim yang tepat. Ini salah satunya bisa dilakukan dengan mengedukasi rakyat. Ini juga bisa dilakukan dengan menumbuhkan sikap kritis dan awas masyarakat pada para politisi yang kita tahu, gemar sekali berkelindan dan menyelinap. Kadang mereka bersembunyi di balik wajah garang, wajah manis, wajah mengemis, bahkan di balik program-program resmi. Kadang mereka datang ke rumah ibadah dengan aroma religius, mengatasnamakan pemerintah, tetapi malah membawa nama pribadi.
Dengan kata lain, uang rakyat dipakai untuk kepentingan syahwat politiknya. Fenomena ini marak terjadi. Baru-baru ini, misalnya, kebetulan saya selalu suka berkeliling, saya melihat beberapa spanduk. Spanduk itu dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah Sumatera Utara. Sekilas, tak ada yang istimewa dengan spanduk itu karena sejauh ini, pemerintah kita termasuk akrab dengan pamer-pameran melalui spanduk dan itu sudah termaklumi. Ketika, misalnya, ada momen-momen hari besar, akan muncul spanduk dengan foto tokoh menjadi latar yang dominan.
Pesannya lantas dikecilkan seminimal mungkin. Karena itu, secara visual, yang tampak adalah foto, bukan imbauan dan muatan pesan. Ini tentu saja salah yang walau kini sudah termaklumi. Tetapi, sampai kapan kita memaklumi kesalahan sehingga kejahatan menjadi kebiasaan? Bukankah seperti kata para bijak, bahwa karakter adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang dan lantas menjadi kebiasaan? Artinya, bukankah kalau kita memaklumi kebiasaan nakal pemerintah, kelak itu akan dipahami sebagai keharusan, bahkan kebenaran, seperti pungli akhir-akhir ini sehingga mereka merasa tak berdosa?
Dalam pada inilah mengapa saya menuliskan artikel ini. Saya melihat ada sesuatu yang mengganjal ketika membaca spanduk itu. Pesannya, salah satunya, adalah agar rakyat membayarkan pajak kendaraan bermotor. Konon, melalui spanduk itu, katanya ditujukan demi satu cita mulia: agar rakyat Sumut paten. Sekali lagi, sampai di sini, termasuk secara linguis, tanpa melihat warna format bahasanya, tak ada yang jadi masalah. Toh, pajak memang kewajiban. Toh juga, paten adalah hak setiap orang.
Menjadi Kewajiban
Sebab, jika merujuk pada KBBI, paten adalah hak yang diberikan pemerintah kepada seseorang atas suatu penemuan untuk digunakan sendiri dan melindunginya dari peniruan (pembajakan). Tetapi, dalam bahasa prokem Medan, kata paten kemudian diartikan dengan baik, mewah, bersahaja, pokoknya bahasa-bahasa kebaikan. Itulah sejatinya pengertian kata paten dari segi linguis-prokem. Artinya, sejauh ini tak ada masalah dengan imbauan itu. Ini menjadi masalah ketika kalau kita lihat secara visual, kata "paten" pada spanduk itu menjadi berbeda. Apalagi kemudian kata itu dibuat berwarna nyentrik dan berbeda.
Artinya, fokus kata-kata dari kalimat itu ada pada kata paten. Nah, di sinilah bahasa "paten" ini menjadi, yang menurut saya, bahasa penyelewengan dan pemanfaatan anggaran. Betapa tidak, di Sumut saat ini, "paten" juga adalah bahasa politik. Ini sebuah akronim yang disingkat dari Pak Tengku Erry Nuradi, Gubernur Sumut yang ketika belum bergandengan dengan Gatot Pujo Nugroho, gencar menyebut dirinya sebagai Paten. Itu artinya, spanduk ini sudah memuat bahasa kampanye dini. Dan yang menjadi masalah, kampanye dini ini dibuat dengan modal dasar uang rakyat.
Ya, Pak Tengku Erry Nuradi (Paten) belum tentu maju menjadi calon Gubernur Sumut. Tetapi, ini tak bisa dibiarkan. Rakyat harus kritis supaya kebijakan murni untuk kebijakan, bukan untuk mempromosikan diri. Selalu ada etika seorang pejabat petahana. Karena itu, konstitusi kita menganjurkan (bahkan mengharuskan) agar petahana cuti dari jabatannya ketika masa kampanye tiba. Satu-satunya yang ingin dihindari adalah agar petahana tak menggunakan uang rakyat untuk kampanye dan menggerakkan massa. Entah itu bersifat Soft maupun Hard.
Lagipula, selain tak etis, kita juga sejatinya harus sportif. Harus ada dan taat aturan. Karena itu, pilkada bersih menjadi keharusan. Terutama untuk Sumut, kita sudah saatnya "bertobat" karena semua gubernur hasil pilihan langsung sampai detik ini menjadi tahanan KPK. Artinya, ada yang salah dengan Sumut. Bisa jadi itu karena pilkada kita tak bersih, marak dengan politik uang. Imbasnya, Sang Gubernur "membayarkan" upeti-upeti kepada elite, bukan kepada rakyat. Ringkasnya, terutama karena Pemerintah Pusat kini sedang memperhatikan bumi Sumatera Utara, sejak dini, kita harus kritis. Pilkada bersih harus menjadi kewajiban. Semoga!***
Penulis adalah Konsultan Bahasa di Prosus Intan Medan, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Medan dan di Toba Writers Forum (TWF)
Sumber:harian.analisadaily.com
Jawab Isu Status BI, Menkeu Sebut Perubahan Sistem Kurang Tepat
JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons isu yang menyebutkan Bank Indonesia (BI) akan masuk di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia memastikan wacana ters
Gelar Sesepuh Raja-raja Timor Pada Jokowi Ditolak Banyak Pihak, PSI Klaim Sudah Korum
Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, memberikan respons terhadap polemik yang muncul usai mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima gelar adat sebagai Sesepuh Raja-Raja T
Pria di Minas Ditemukan Tewas di Semak Dekat Kebun Sawit, Dilaporkan Hilang 6 Hari Lalu
SIAK-Dilaporkan hilang, seorang pria ditemukan meninggal dunia setelah enam hari di semak belukar dekat kebun sawit warga di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Korban diketahui
Pasar Murah Pemprov Riau Hari Ini di Rumbai Barat, Ada Beras hingga Minyakita Harga Terjangkau
PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali menggelar pasar murah di Kota Pekanbaru pada Selasa (4/8/2026).Kali ini, kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Camat Rumbai Barat sebagai upaya mem
Kujungi Pekanbaru, Wamenkes Sebut Kesehatan Masyarakat Tak Bisa Hanya Mengandalkan Rumah Sakit
PEKANBARU - Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit, dokter, maupun pelayanan medis. Upaya tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahtera