Minggu, 14 Jun 2026
  • Home
  • Opini
  • Mahasiswa dalam Jeratan Konsumerisme

Mahasiswa dalam Jeratan Konsumerisme

Rabu, 16 Des 2015 09:37
Ilustrasi

Peran mahasiswa berfungsi sebagai agent of change dan social control dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tak ayal, jika mahasiswa seringkali ditempatkan sebagai basis gerakan intelektual menuju masa depan perubahan yang cerah dan menjanjikan. 

Terbukti, dalam rekam jejak juang mahasiswa pada Tahun 1966, di mana mereka mampu menggulingkan Orde Lama di bawah pimpinan Soekarno, yang disebabkan isu pengangkatan Soekarno sebagai presiden seumur hidup atau kita sering menyebut "otoritarianisme". Pada tahun 1998 dengan pergerakan yang begitu sistematis dan teroganisir mahasiswa bersama tokoh-tokoh masyarakat mampu menggulingkan rezim Soeharto yang mampu berkuasa 32 Tahun akhirnya mengundurkan diri dari kursi kepresidenan, disebut "tragedi 98".

Saat ini, kita benar-benar dibuat sulit dalam mendambakan mahasiswa bermental kritis transformatif terutama dalam membaca situasi, karena telah terjerat lilitan pengaruh zaman era post modernisme, sehingga mereka bermental hedones. Benar apa yang dikatakan oleh Feathersone (2005) bahwa dalam komoditas mahasiswa terdapat suatu proses adopsi cara belajar menuju aktivitas konsumsi dan pengembangan suatu gaya hidup.

Ada tiga perspektif utama mengenai nalar konsumer menurut Featherstone (1991). Pertama, nalar konsumer di dasari pada premis ekspansi produksi komoditas kapitalis yang telah menyebabkan peningkatan akumulasi budaya material secara luas dalam bentuk barang-barang konsumsi dan tempat-tempat untuk pembelanjaan dan untuk konsumsi. Hal ini menyebabkan tumbuhnya aktivitas konsumsi serta menonjolnya pemanfaatan waktu luang (leisure) pada masyarakat kontemporer Barat. 

Kedua, perspektif nalar (budaya) konsumer berdasarkan perspektif sosiologis yang lebih ketat, yaitu bahwa kepuasan seseorang yang diperoleh dari barang-barang yang dikonsumsi berkaitan dengan aksesnya yang terstruktur secara sosial. Fokus dari perspektif ini terletak pada berbagai cara orang memanfaatkan barang guna menciptakan ikatan sosial atau perbedaan sosial. 

Ketiga, perspektif yang berangkat dari pertanyaan mengenai kesenangan atau kenikmatan emosional dari aktivitas konsumsi, impian dan hasrat yang menonjol dalam khayalan budaya konsumer, dan khususnya tempat-tempat kegiatan konsumsi yang secara beragam menimbulkan kegairahan dan kenikmatan estetis langsung terhadap tubuh.

Oleh karena itu, kecenderungan mahasiswa berperilaku konsumtif telah menjadi virus yang dapat menimbulkan dampak bagi mahasiswa. Sikap dan perilaku mahasiswa menjadikan arah perjuangannya tidak bernilai lagi. Jika hal ini tidak dipikirkan, idealisme serta moralitas mahasiswa akan tergerus sampai pada titik nadir.

Konsumerisme mahasiswa merupakan kabar buruk bagi dunia kampus Indonesia. Karena hedonisme membawa kesenangan terhadap hal-hal yang bersifat sementara, sehingga orang terjebak untuk tidak mampu bersikap sabar dan melemahkan mereka dalam membangun kepribadian mereka sendiri.

Budaya konsumerisme mahasiswa terbilang melampaui batas, karena mengarah pada pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup. Bagi para penganut paham ini, bersenang-senang, pesta-pora, dan pelesiran merupakan tujuan utama hidup, entah itu menyenangkan bagi orang lain atau tidak. Karena mereka beranggapan hidup ini hanya sekali, sehingga mereka merasa ingin menikmati hidup senikmat-nikmatnya.

Tentu, dampak serius dari fenomena konsumerisme akan menyebabkan mahasiswa kehilangan banyak waktu untuk belajar dan mengasah daya analisnya di bangku perkuliahan, karena mengikuti trend mode yang sedang populer di kalangan mereka. Sehingga, banyak orang tua mahasiswa yang pengeluarannya lebih besar daripada pendapatan, karena anaknya tergiur menggunakan aneka barang yang tidak perlu dan tidak menjadi kebutuhan pokok mereka.

Kuatnya pengaruh konsumerisme di tubuh mahasiswa sesungguhnya menjadi indikasi lemahnya posisi mahasiswa sebagai kekuatan moral. Benteng pertahanan mereka ternyata rapuh menghadapi munculnya gejala-gejala sosial baru seperti konsumerisme. Kritisisme mahasiswa pun kehilangan daya. Sehingga perilaku dan karakter mereka mudah diombang-ambing oleh kekuatan dominan yang berbau kapitalisme.

Dengan demikian, konsumerisme telah menggiring mahasiswa ke dalam culture of banality (budaya kedangkalan), di mana segala informasi yang mereka terima langsung dicerna mentah-mentah, tanpa diproses, diverifikasi, dan didalami dengan logika kerja pikiran. Kemudian, mahasiswa semakin jauh dengan buku-buku bacaan yang membuat kritis.

Idealnya, mahasiswa tidak identik dengan nalar (budaya) konsumerisme, hedonisme yang tak lain adalah jantung dari kapitalisme. Di mana sebuah budaya yang di dalamnya berbagai bentuk dusta, halusinasi, mimpi, kesemuan, artifisialitas, pendangkalan, kemasan wujud komoditi, melalui strategi hipersemiotika dan imagologi, yang kemudian dikonstruksi secara sosial melalui komunikasi ekonomi (iklan, show, media dan sebagainya) sebagai kekuatan tanda (semiotic power) kapitalisme.

Sudah saatnya, mahasiswa mampu meningkatkan pemikiran menjiwai pendidikan yang tumbuh bukan hanya bersifat sebagai kebutuhan hidup tetapi juga merupakan proses peningkatan tata hidup masyarakat dengan segala aspeknya, usaha besar ini akan terus berkembang apabila disertai dengan usaha-usaha terperinci yang mantap serta terarah yang dilakukan oleh warga lembaga-lembaga pendidikan tinggi.

(analisadaily.com)
Opini
Berita Terkait
  • Minggu, 14 Jun 2026 20:34

    Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP

    INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli

  • Minggu, 14 Jun 2026 20:32

    Nobar Piala Dunia dan Makan Bersama, Koramil 1710-02/Timika Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat

    Mimika-Koramil 1710-02/Timika menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Aula Makoramil 1710-02/Timika, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Minggu (14/

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:14

    ANKER Soundcore Luncurkan TWS Berbasis AI Liberty 5 Pro Series, Cek Fitur dan Harganya

    JAKARTA â€" Brand audio terkemuka, ANKER soundcore, resmi merilis true wireless earbuds (TWS) premium generasi terbarunya, ANKER soundcore Liberty 5 Pro Series, di pasar Indonesia. Mengusung kons

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:13

    Xiaomi Pamerkan Lengan Robotik Pengisi Daya Otomatis untuk Mobil Listrik

    JAKARTA â€" Xiaomi mendemonstrasikan lengan robot yang dapat mengotomatisasikan pengisian daya mobil listrik di rumah. Perangkat ini ditujukan untuk para pemilik mobil listrik (EV) yang tidak suk

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:10

    Ngeri! Wanita 21 Tahun Tewas Gegara Staf Lupa Pasang Tali Pengaman saat Bermain Ayunan Jembatan Ekstrem

    JAKARTA - Sebuah insiden tragis terjadi di Brasil ketika seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari wahana ayunan ekstrem. Dia jatuh akibat tidak terpasangnya tali p

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.