Selasa, 04 Agu 2026
  • Home
  • Opini
  • Meniru Tiongkok dan India Memanfaatkan Brain Gain

Opini

Meniru Tiongkok dan India Memanfaatkan Brain Gain

Oleh: M. Suadi
Minggu, 18 Sep 2016 10:06
poronda.net
Ilustrasi
Tiongkok dan India adalah dua negara yang berhasil me­manfaatkan putra-putri ter­baiknya yang sukses berki­prah di luar negeri untuk pulang dan ber­peran dalam pembangunan ne­gara asal. Kedua negara tersebut memanggil war­ga­nya di luar negeri yang ahli, terampil dan terdidik (expert, skilled and educated labor) untuk pulang disertai janji disedia­kan fasi­litas yang meng­giur­kan tidak kalah dari fasilitas negara tem­pat mereka merantau.

Tentu saja kesem­pa­tan tersebut tidak disia-siakan oleh war­ganya. Selain bisa mengembangkan ilmu dan keahlian­nya untuk membangun ne­ga­ranya sendiri, ja­mi­n­an sosial dan ke­se­jah­teraan, kesem­patan pulang kampung juga pembuktian rasa nasionalisme yang tinggi.

Memasuki era globalisasi, peran modal sumber daya ma­nusia (SDM) yang cerdas, terlatih, ahli dan terampil menjadi acuan utama dalam pembangunan suatu perusahaan bahkan suatu negara. Modal SDM berkualitas atau High Skilled Human Capital kini menjadi prioritas bagi negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan kelas dunia. Negara termaju di dunia dalam sektor industri, jasa, iptek, eko­nomi dan sains seperti Amerika Se­rikat juga terkenal getol menjaring tenaga ahli, terampil dan ilmuwan di berbagai belahan dunia untuk bekerja di negaranya.

Maka tidak heran, dari sekitar 350 juta lebih jumlah warga ne­­gara Amerika Se­rikat, 12 persennya adalah imigran yang ber­­peran di berbagai bidang seperti te­naga ahli, ilmuwan, pebisnis, akademisi, dan lain-lain. Di antaranya terdapat putra-pu­tri terbaik Indonesia seperti Prof. Nel­son Tansu, pakar teknologi Nano di Leigh Uni­versity, Pensylvania dan Mu­ham­mad Arif Budiman, yang menjabat Kepala Library Technologies Group, Missouri serta Yow-Pin Lim pendiri Chief Scientific Officer Pro Thera Biologics di Rhode Island. Sama halnya negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Jerman dan Eropa yang menyedot para ilmuwan, pakar dan tenaga ahli dari berbagai negara di dunia, termasuk dari Indonesia, untuk da­tang dan bekerja keras mengembangkan bakat, keahlian dan ke­terampilannya di sana. Mereka betah bekerja di sana karena didukung penuh baik secara finansial, jaminan kesejahteraan, karir dan masa depan yang cerah.

Memanfaatkan Brain Gain

Tiongkok dan India sudah lama me­man­faatkan SDM berkualitas tinggi yang bekerja di luar negeri untuk pulang dan mem­bangun negaranya. Buktinya, sejak ta­hun 1990-an hingga kini, India berhasil memanggil pakar dan tenaga ahlinya di luar negeri untuk pulang dan hasilnya kini India men­­jadi negara dengan kemampuan mem­produksi ilmuwan dan pakar-pakar tek­nologi informasi dan komunikasi kelas dunia terutama di lembaga The Indian Institutes of Technologiy (IITs), Indian Institutes of Management (IIM), serta All Indian Instute of Medical Science yang berpusat di Mumbai, Kharagpur, Chen­nai, dan Roorkee (Faiz, M.P., 2007: 4). Saat ini India hadir sebagai negara dengan tek­nologi infor­masi yang disegani di du­nia menyaingi Sillicon Valley di Amerika Seri­kat. Lebih jauh lagi, di India sendiri juga terdapat Indian Silli­con Valley di Bengalore dan perusahaan teknologi infor­masi kelas dunia berlomba-lomba membuka kantor di sana seperti Hawlett-Packard, IBM dan Microsoft.

Tenaga ahli India yang kembali pulang tersebut tidak hanya pa­kar dan tenaga ahli di bidang teknologi informasi dan tele­konomukasi, tetapi juga dari latar bela­kang berbagai disiplin ilmu pengetahuan, kedokteran, ekonomi dan sebagainya. Ba­yang­kan, di antara ribuan yang pulang ke India, 32.000 orang meru­pakan non-resident India (NRI). Atau sudah berstatus bu­kan warganegara India. Bandingkan de­ngan kasus Archandra Tahar, ilmuwan Indonesia yang sukses di Amerika Serikat yang baru-baru ini diributkan oleh publik In­donesia gara-gara status kewargane­ga­raan ganda.

Bagaimana di Tiongkok? Dalam sebuah laporan riset oleh Mariassunta Gianetti, Guanmin Liao, dan Xiaoyun Yu ber­judul, 'The Brain Gain of Corporate Boards: Evidence from Chi­na' menyata­kan dengan gamblang bahwa masuknya tenaga ahli selevel eksekutif dan direktur ke daratan Tiongkok dengan pe­ngalaman kerja di luar negeri (brain gain) terbukti me­ning­katkan performa, kinerja, produk­ti­vitas dan profit perusahaan.

Jauh-jauh hari pemerintah Tiongkok me­manggil ilmuan, te­naga ahli, pakar asli Tiong­kok yang sukses di luar negeri un­tuk pulang dan membangun Tiongkok. Pe­merintah Tiong­kok juga mematok target fantantis yaitu: Brain Bank. Men­ja­dikan Tiongkok sebagai pusat berkum­pul dan ber­kreasinya te­naga ahli, pakar, ilmuwan, pebisnis dan orang-orang pintar seluruh dunia. Terbukti, kini Tiongkok menjadi negara dengan kekuatan eko­nomi terbesar kedua di dunia setelah Ame­rika Seri­kat sekaligus negara yang ke­rap dianggap pesaing sepadan Amerika Se­rikat di muka bumi dalam berbagai bi­dang seperti pendidikan, budaya, industri, po­litik bahkan militer.

Meniru Tiongkok dan India

Indonesia dapat meniru langkah Tiongkok dan India dengan catatan tenaga kerja ahli, terampil, pakar, ilmu­wan, pebisnis yang sukses di luar negeri disediakan ruang, kesempatan, peluang dan fasilitas untuk berkembang dan ikut membangun Indonesia.

Dalam sejarah Indonesia, B.J Habibie adalah pakar indus­tri pesawat yang secara resmi pernah dipanggil pulang dan membangun indus­tri pesawat terbang tanah air. Tentu, masih ba­nyak ribuan tenaga ahli dan pakar kelas du­nia seperti B.J Habibie yang bisa ber­kontribusi membangun Indonesia. Tentu de­ngan syarat: difasilitasi, dijamin, diberi pe­luang dan tentunya dijamin secara finansial dan kesejahteraannya. Jika itu terjadi, Indonesia tidak hanya mampu menciptakan pe­sawat terbang seperti B.J Habibie, tetapi juga mampu men­cip­takan mesin-mesin dan produk-produk canggih, roket, peralatan medis canggih, kapal, transpor­tasi dan sebagainya. Karena berdasarkan data dari Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, terdapat kurang lebih 7.000 tenaga ahli, pakar, ilmuwan ber­titiel PhD, master, Profesor yang kini asyik be­ker­ja dan mengembangkan kemampuannya di luar negeri.

Indonesia adalah negara luas wilayah yang sangat luas, ke­ka­yaan sumber daya alam melimpah dan jumlah penduduk yang luar biasa besar mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Alangkah sayang jika po­tensi-potensi tersebut sia-sia akibat tidak ada yang mampu mengelola. Kalaupun di­kelola, sebatas menjadi barang ekspor ba­han mentah. Begitu pula SDM-nya, ji­kapun menjadi tenaga kerja, hanya se­batas tenaga kerja dengan kualifikasi ren­dah seperti menjadi pem­bantu rumah tang­­ga, pemanen kebun, te­naga buruh kasar dan sejenisnya.

Intinya, Indonesia membutuhkan te­naga ahli, pakar dan ilmuwan yang me­mimpin pembangunan di tanah air agar bisa menyamai negara maju, minimal bisa bang­kit dan berkembang pesat seperti Tiong­kok dan India. ***

Penulis alumnus UMSU

Sumber: harian.analisadaily.com
Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 04 Agu 2026 16:49

    Jawab Isu Status BI, Menkeu Sebut Perubahan Sistem Kurang Tepat

    JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons isu yang menyebutkan Bank Indonesia (BI) akan masuk di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia memastikan wacana ters

  • Selasa, 04 Agu 2026 16:14

    Gelar Sesepuh Raja-raja Timor Pada Jokowi Ditolak Banyak Pihak, PSI Klaim Sudah Korum

    Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, memberikan respons terhadap polemik yang muncul usai mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima gelar adat sebagai Sesepuh Raja-Raja T

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:37

    Pria di Minas Ditemukan Tewas di Semak Dekat Kebun Sawit, Dilaporkan Hilang 6 Hari Lalu

    SIAK-Dilaporkan hilang, seorang pria ditemukan meninggal dunia setelah enam hari di semak belukar dekat kebun sawit warga di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Korban diketahui

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:21

    Pasar Murah Pemprov Riau Hari Ini di Rumbai Barat, Ada Beras hingga Minyakita Harga Terjangkau

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali menggelar pasar murah di Kota Pekanbaru pada Selasa (4/8/2026).Kali ini, kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Camat Rumbai Barat sebagai upaya mem

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:20

    Kujungi Pekanbaru, Wamenkes Sebut Kesehatan Masyarakat Tak Bisa Hanya Mengandalkan Rumah Sakit

    PEKANBARU - Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit, dokter, maupun pelayanan medis. Upaya tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahtera

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki