Opini
Meniru Tiongkok dan India Memanfaatkan Brain Gain
Oleh: M. Suadi
Minggu, 18 Sep 2016 10:06
Tentu saja kesempatan tersebut tidak disia-siakan oleh warganya. Selain bisa mengembangkan ilmu dan keahliannya untuk membangun negaranya sendiri, jaminan sosial dan kesejahteraan, kesempatan pulang kampung juga pembuktian rasa nasionalisme yang tinggi.
Memasuki era globalisasi, peran modal sumber daya manusia (SDM) yang cerdas, terlatih, ahli dan terampil menjadi acuan utama dalam pembangunan suatu perusahaan bahkan suatu negara. Modal SDM berkualitas atau High Skilled Human Capital kini menjadi prioritas bagi negara-negara maju dan perusahaan-perusahaan kelas dunia. Negara termaju di dunia dalam sektor industri, jasa, iptek, ekonomi dan sains seperti Amerika Serikat juga terkenal getol menjaring tenaga ahli, terampil dan ilmuwan di berbagai belahan dunia untuk bekerja di negaranya.
Maka tidak heran, dari sekitar 350 juta lebih jumlah warga negara Amerika Serikat, 12 persennya adalah imigran yang berperan di berbagai bidang seperti tenaga ahli, ilmuwan, pebisnis, akademisi, dan lain-lain. Di antaranya terdapat putra-putri terbaik Indonesia seperti Prof. Nelson Tansu, pakar teknologi Nano di Leigh University, Pensylvania dan Muhammad Arif Budiman, yang menjabat Kepala Library Technologies Group, Missouri serta Yow-Pin Lim pendiri Chief Scientific Officer Pro Thera Biologics di Rhode Island. Sama halnya negara-negara maju lainnya seperti Jepang, Jerman dan Eropa yang menyedot para ilmuwan, pakar dan tenaga ahli dari berbagai negara di dunia, termasuk dari Indonesia, untuk datang dan bekerja keras mengembangkan bakat, keahlian dan keterampilannya di sana. Mereka betah bekerja di sana karena didukung penuh baik secara finansial, jaminan kesejahteraan, karir dan masa depan yang cerah.
Memanfaatkan Brain Gain
Tiongkok dan India sudah lama memanfaatkan SDM berkualitas tinggi yang bekerja di luar negeri untuk pulang dan membangun negaranya. Buktinya, sejak tahun 1990-an hingga kini, India berhasil memanggil pakar dan tenaga ahlinya di luar negeri untuk pulang dan hasilnya kini India menjadi negara dengan kemampuan memproduksi ilmuwan dan pakar-pakar teknologi informasi dan komunikasi kelas dunia terutama di lembaga The Indian Institutes of Technologiy (IITs), Indian Institutes of Management (IIM), serta All Indian Instute of Medical Science yang berpusat di Mumbai, Kharagpur, Chennai, dan Roorkee (Faiz, M.P., 2007: 4). Saat ini India hadir sebagai negara dengan teknologi informasi yang disegani di dunia menyaingi Sillicon Valley di Amerika Serikat. Lebih jauh lagi, di India sendiri juga terdapat Indian Sillicon Valley di Bengalore dan perusahaan teknologi informasi kelas dunia berlomba-lomba membuka kantor di sana seperti Hawlett-Packard, IBM dan Microsoft.
Tenaga ahli India yang kembali pulang tersebut tidak hanya pakar dan tenaga ahli di bidang teknologi informasi dan telekonomukasi, tetapi juga dari latar belakang berbagai disiplin ilmu pengetahuan, kedokteran, ekonomi dan sebagainya. Bayangkan, di antara ribuan yang pulang ke India, 32.000 orang merupakan non-resident India (NRI). Atau sudah berstatus bukan warganegara India. Bandingkan dengan kasus Archandra Tahar, ilmuwan Indonesia yang sukses di Amerika Serikat yang baru-baru ini diributkan oleh publik Indonesia gara-gara status kewarganegaraan ganda.
Bagaimana di Tiongkok? Dalam sebuah laporan riset oleh Mariassunta Gianetti, Guanmin Liao, dan Xiaoyun Yu berjudul, 'The Brain Gain of Corporate Boards: Evidence from China' menyatakan dengan gamblang bahwa masuknya tenaga ahli selevel eksekutif dan direktur ke daratan Tiongkok dengan pengalaman kerja di luar negeri (brain gain) terbukti meningkatkan performa, kinerja, produktivitas dan profit perusahaan.
Jauh-jauh hari pemerintah Tiongkok memanggil ilmuan, tenaga ahli, pakar asli Tiongkok yang sukses di luar negeri untuk pulang dan membangun Tiongkok. Pemerintah Tiongkok juga mematok target fantantis yaitu: Brain Bank. Menjadikan Tiongkok sebagai pusat berkumpul dan berkreasinya tenaga ahli, pakar, ilmuwan, pebisnis dan orang-orang pintar seluruh dunia. Terbukti, kini Tiongkok menjadi negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat sekaligus negara yang kerap dianggap pesaing sepadan Amerika Serikat di muka bumi dalam berbagai bidang seperti pendidikan, budaya, industri, politik bahkan militer.
Meniru Tiongkok dan India
Indonesia dapat meniru langkah Tiongkok dan India dengan catatan tenaga kerja ahli, terampil, pakar, ilmuwan, pebisnis yang sukses di luar negeri disediakan ruang, kesempatan, peluang dan fasilitas untuk berkembang dan ikut membangun Indonesia.
Dalam sejarah Indonesia, B.J Habibie adalah pakar industri pesawat yang secara resmi pernah dipanggil pulang dan membangun industri pesawat terbang tanah air. Tentu, masih banyak ribuan tenaga ahli dan pakar kelas dunia seperti B.J Habibie yang bisa berkontribusi membangun Indonesia. Tentu dengan syarat: difasilitasi, dijamin, diberi peluang dan tentunya dijamin secara finansial dan kesejahteraannya. Jika itu terjadi, Indonesia tidak hanya mampu menciptakan pesawat terbang seperti B.J Habibie, tetapi juga mampu menciptakan mesin-mesin dan produk-produk canggih, roket, peralatan medis canggih, kapal, transportasi dan sebagainya. Karena berdasarkan data dari Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional, terdapat kurang lebih 7.000 tenaga ahli, pakar, ilmuwan bertitiel PhD, master, Profesor yang kini asyik bekerja dan mengembangkan kemampuannya di luar negeri.
Indonesia adalah negara luas wilayah yang sangat luas, kekayaan sumber daya alam melimpah dan jumlah penduduk yang luar biasa besar mencapai lebih dari 250 juta jiwa. Alangkah sayang jika potensi-potensi tersebut sia-sia akibat tidak ada yang mampu mengelola. Kalaupun dikelola, sebatas menjadi barang ekspor bahan mentah. Begitu pula SDM-nya, jikapun menjadi tenaga kerja, hanya sebatas tenaga kerja dengan kualifikasi rendah seperti menjadi pembantu rumah tangga, pemanen kebun, tenaga buruh kasar dan sejenisnya.
Intinya, Indonesia membutuhkan tenaga ahli, pakar dan ilmuwan yang memimpin pembangunan di tanah air agar bisa menyamai negara maju, minimal bisa bangkit dan berkembang pesat seperti Tiongkok dan India. ***
Penulis alumnus UMSU
Sumber: harian.analisadaily.com
Opini
Jawab Isu Status BI, Menkeu Sebut Perubahan Sistem Kurang Tepat
JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons isu yang menyebutkan Bank Indonesia (BI) akan masuk di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia memastikan wacana ters
Gelar Sesepuh Raja-raja Timor Pada Jokowi Ditolak Banyak Pihak, PSI Klaim Sudah Korum
Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, memberikan respons terhadap polemik yang muncul usai mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima gelar adat sebagai Sesepuh Raja-Raja T
Pria di Minas Ditemukan Tewas di Semak Dekat Kebun Sawit, Dilaporkan Hilang 6 Hari Lalu
SIAK-Dilaporkan hilang, seorang pria ditemukan meninggal dunia setelah enam hari di semak belukar dekat kebun sawit warga di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Korban diketahui
Pasar Murah Pemprov Riau Hari Ini di Rumbai Barat, Ada Beras hingga Minyakita Harga Terjangkau
PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali menggelar pasar murah di Kota Pekanbaru pada Selasa (4/8/2026).Kali ini, kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Camat Rumbai Barat sebagai upaya mem
Kujungi Pekanbaru, Wamenkes Sebut Kesehatan Masyarakat Tak Bisa Hanya Mengandalkan Rumah Sakit
PEKANBARU - Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit, dokter, maupun pelayanan medis. Upaya tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahtera