Rabu, 29 Apr 2026

Menyoal Media Online Abal-abal

Rabu, 03 Feb 2016 14:16
Ilustrasi

Media online di Indonesia tumbuh subur dan berlomba-lomba mendapatkan pengunjung (Viewer) terbanyak. Sayangnya, anggota Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo menyatakan bahwa dari sekitar 2.000 media online saat ini hanya 211 media online yang sesuai kaidah jurnalistik dan mempunyai kelayakan perusahaan (Analisa, Kamis 21 Januari 2016).Di luar 211 media online tersebut, berarti adalah media abal-abal yang dikemas tidak sesuai dengan kaidah jurnalistik, memuat konten menyesatkan dan tendensius. Bukan rahasia umum bila media online abal-abal kian menjamur dan dapat dikelola oleh perorangan dengan modal membeli domain.

Dewan Pers mencatat bahwa media baik cetak maupun online yang memenuhi syarat perusahaan hanya 1.771. Era reformasi sejak 1999 berdampak pada munculnya berbagai media baru baik berbasis media cetak maupun online. Sebagian ada yang tulus menyuarakan kepentingan dan aspirasi rakyat, sebagian menerapkan standar ganda aspirasi rakyat sekaligus mengeruk keuntungan sendiri, dan selebihnya fokus menyesatkan informasi sekaligus menangguk untung.

Hal tersebut mengusik independensi media itu sendiri. Namun, ironisnya banyak masyarakat yang mudah terhasut, termakan isu dan tercuci otaknya gara-gara membaca satu dua postingan media abal-abal, tanpa verifikasi dan klarifikasi dengan membaca sumber alternatif lain sebagai penyeimbang (Tabayyun). Tentu hal tersebutlah tujuan dari si pengelola media abal-abal menggiring opini publik sesuai keinginan pribadi sekaligus meningkatkan popularitas media yang dikelola untuk keuntungan iklan, iklan per-klik adsense sekaligus untung dari aliran uang bos besar pemesan pembuatan berita. Singkat kata, media abal-abal memperkeruh opini publik dan menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat.

Penuh Motif &Kepentingan

Media abal-abal juga disusupi berita pesanan. Tidak sebatas itu, media massa yang tidak abal-abal seperti televisi juga terkontaminasi kepentingan, misalnya politik. Anggota Dewan pers Yosep Stanley Adi Prasetyo menegaskan bahwa hampir semua media massa terkontaminasi politik tinggi dengan menyajikan fakta berbeda satu sama lain dengan modus mengambil angel berita berbeda dan narasumber berita berbeda pula (Medan Bisnis, 21 Januari 2016).

Tentu, media televisi juga menyediakan layanan media online baik berbentuk video di youtube maupun tulisan. Itu masih media yang kategori waras. Bagaimana pula media abal-abal yang konon dari awal lahir sudah ditabalkan untuk menyesatkan informasi? Eksistensi informasi dari media abal-abal juga memiliki efek jauh lebih besar dan jauh cepat dibandingkan media online dan cetak biasa. Efek viral yang ditimbulkan mampu menyesatkan opini sekaligus menggerakkan ribuan bahkan jutaan netizen untuk melakukan aksi di dunia nyata.

Lebih bahayanya, efek viral melalui sharing (berbagi) baik lewat facebook, twitter dan sejenisnya cepat meluas. Bagi masyarakat awam yang hanya mengandalkan satu dua sumber berita, bisa berbahaya. Apalagi terkadang media online abal-abal kerapkali muncul dengan isu panas, bombastis, isu sensitif menggiring SARA dan memantik fanatisme dan emosi pembaca. Begitu bahayanya media online abal-abal karena membuat konten berita sesuka hati sesuai kepentingan sendiri dan memecah belah opini publik.

Selain media abal-abal yang memuat konten informasi menyesatkan opini publik dan berita pesanan, media abal-abal yang tidak kalah meresahkan adalah media abal-abal dengan konten pornografi, penuh kebencian dan SARA. Di facebook banyak teman-teman yang mengeluh karena akun facebooknya tiba-tiba sudah dibajak, atau di-tagged(ditandai) pada grup tertentu secara otomatis meskipun sudah berkali-kali dihapus.

Bahkan, ada juga yang mengeluh karena akunnya diretas dan dimanfaatkan oleh pelaku untuk meminta sejumlah uang, pulsa dan memeras keluarga, teman-teman dan kolega si pemilik akun. Tentu, hal tersebut merugikan pemilik akun, mencemarkan nama baik, dan membuat pandangan orang-orang berubah negatif terhadap si pemilik akun. Padahal sesungguhnya akunnya dibajak oleh pelaku jahat tidak bertanggungjawab.

Fenomena lainnya adalah media abal-abal yang bergerak jual beli barang. Banyak konsumen yang sudah memesan dan membayar, tertipu karena barang yang dipesan lewat toko online tidak kunjung datang dan ketika dilacak di lapangan alamatnya fiktif.

Memang rumit mengatasi media abal-abal tersebut. Selain jumlahnya ribuan, wujudnya juga abstrak alias maya karena beroperasi di dunia maya. Apalagi dapat dikelola dengan dukungan gadget canggih, aplikasi terbaru dan teknologi informasi lainnya. Siapa pengelolanya, entah di mana tidak diketahui dimana tempatnya.

Bahkan konon media abal-abal berbentuk grup dengan konten negatif (pornografi dan sebagainya) yang otomatis memasukkan banyak pemilik akun ternyata bermotif mencari uang dengan cara klik per view. Cara kerjanya, ketika orang yang di-taggedatau ditandai ikut penasaran, lalu meng-klik postingan tulisan atau kiriman video, maka si pengelola grup berisi konten tidak senonoh tersebut menangguk untung dari bayaran per klik. Dalam dunia google adsense dan youtube dikenal pay per view. Semakin banyak pengunjung (viewer) dan orang yang membuka atau meng-klik, maka semakin besar uang yang diterima si pengelola akun grup tersebut. Cara mencari duit tidak halal tersebut semakin hari semakin menjamur di media sosial dan sangat meresahkan.

Ditertibkan

Menertibkan akun-akun tersebut memang tidak mudah. Apalagi pengelola media online abal-abal tersebut menggunakan identitas palsu. Polisi bisa bekerjasama dengan ahli IT dan orang yang paham Hacker untuk menangkap pelaku. Karena banyak pelaku media abal-abal juga meretas server perusahaan dan melakukan kejahatan. Caranya menghadapinya tentu tidak cukup mengerahkan kekuatan fisik polisi saja, tetapi juga memanfaatkan keahlian IT yang sudah paham dunia maya agar pelaku dapat tertangkap dan media abal-abal dapat diberantas, minimal diblokir.

Bagi pemilik akun facebook, twitter dan sejenisnya, jangan mudah percaya dengan orang yang meminta pulsa, transfer uang dan sejenisnya dari orang terdekat dikenal sekalipun tanpa crosschek terlebih dahulu. Karena bisa jadi akun orang terdekat tersebut dibajak oleh penjahat. Begitu pula, bagi pembaca media online, hendaknya membiasakan membaca dari beragam sumber alternatif dan terpercaya. Jangan mudah tergiring opininya dengan mengandalkan satu sumber.

Semoga ke depan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) bersama Polisi dan ahli IT mampu menertibkan media online abal-abal agar tidak lagi meresahkan masyarakat.

(analisadaily.com)

Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.