Menyoal Media Online Abal-abal
Rabu, 03 Feb 2016 14:16
Media online di Indonesia tumbuh subur dan berlomba-lomba mendapatkan pengunjung (Viewer) terbanyak. Sayangnya, anggota Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo menyatakan bahwa dari sekitar 2.000 media online saat ini hanya 211 media online yang sesuai kaidah jurnalistik dan mempunyai kelayakan perusahaan (Analisa, Kamis 21 Januari 2016).Di luar 211 media online tersebut, berarti adalah media abal-abal yang dikemas tidak sesuai dengan kaidah jurnalistik, memuat konten menyesatkan dan tendensius. Bukan rahasia umum bila media online abal-abal kian menjamur dan dapat dikelola oleh perorangan dengan modal membeli domain.
Dewan Pers mencatat bahwa media baik cetak maupun online yang memenuhi syarat perusahaan hanya 1.771. Era reformasi sejak 1999 berdampak pada munculnya berbagai media baru baik berbasis media cetak maupun online. Sebagian ada yang tulus menyuarakan kepentingan dan aspirasi rakyat, sebagian menerapkan standar ganda aspirasi rakyat sekaligus mengeruk keuntungan sendiri, dan selebihnya fokus menyesatkan informasi sekaligus menangguk untung.
Hal tersebut mengusik independensi media itu sendiri. Namun, ironisnya banyak masyarakat yang mudah terhasut, termakan isu dan tercuci otaknya gara-gara membaca satu dua postingan media abal-abal, tanpa verifikasi dan klarifikasi dengan membaca sumber alternatif lain sebagai penyeimbang (Tabayyun). Tentu hal tersebutlah tujuan dari si pengelola media abal-abal menggiring opini publik sesuai keinginan pribadi sekaligus meningkatkan popularitas media yang dikelola untuk keuntungan iklan, iklan per-klik adsense sekaligus untung dari aliran uang bos besar pemesan pembuatan berita. Singkat kata, media abal-abal memperkeruh opini publik dan menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat.
Penuh Motif &Kepentingan
Media abal-abal juga disusupi berita pesanan. Tidak sebatas itu, media massa yang tidak abal-abal seperti televisi juga terkontaminasi kepentingan, misalnya politik. Anggota Dewan pers Yosep Stanley Adi Prasetyo menegaskan bahwa hampir semua media massa terkontaminasi politik tinggi dengan menyajikan fakta berbeda satu sama lain dengan modus mengambil angel berita berbeda dan narasumber berita berbeda pula (Medan Bisnis, 21 Januari 2016).
Tentu, media televisi juga menyediakan layanan media online baik berbentuk video di youtube maupun tulisan. Itu masih media yang kategori waras. Bagaimana pula media abal-abal yang konon dari awal lahir sudah ditabalkan untuk menyesatkan informasi? Eksistensi informasi dari media abal-abal juga memiliki efek jauh lebih besar dan jauh cepat dibandingkan media online dan cetak biasa. Efek viral yang ditimbulkan mampu menyesatkan opini sekaligus menggerakkan ribuan bahkan jutaan netizen untuk melakukan aksi di dunia nyata.
Lebih bahayanya, efek viral melalui sharing (berbagi) baik lewat facebook, twitter dan sejenisnya cepat meluas. Bagi masyarakat awam yang hanya mengandalkan satu dua sumber berita, bisa berbahaya. Apalagi terkadang media online abal-abal kerapkali muncul dengan isu panas, bombastis, isu sensitif menggiring SARA dan memantik fanatisme dan emosi pembaca. Begitu bahayanya media online abal-abal karena membuat konten berita sesuka hati sesuai kepentingan sendiri dan memecah belah opini publik.
Selain media abal-abal yang memuat konten informasi menyesatkan opini publik dan berita pesanan, media abal-abal yang tidak kalah meresahkan adalah media abal-abal dengan konten pornografi, penuh kebencian dan SARA. Di facebook banyak teman-teman yang mengeluh karena akun facebooknya tiba-tiba sudah dibajak, atau di-tagged(ditandai) pada grup tertentu secara otomatis meskipun sudah berkali-kali dihapus.
Bahkan, ada juga yang mengeluh karena akunnya diretas dan dimanfaatkan oleh pelaku untuk meminta sejumlah uang, pulsa dan memeras keluarga, teman-teman dan kolega si pemilik akun. Tentu, hal tersebut merugikan pemilik akun, mencemarkan nama baik, dan membuat pandangan orang-orang berubah negatif terhadap si pemilik akun. Padahal sesungguhnya akunnya dibajak oleh pelaku jahat tidak bertanggungjawab.
Fenomena lainnya adalah media abal-abal yang bergerak jual beli barang. Banyak konsumen yang sudah memesan dan membayar, tertipu karena barang yang dipesan lewat toko online tidak kunjung datang dan ketika dilacak di lapangan alamatnya fiktif.
Memang rumit mengatasi media abal-abal tersebut. Selain jumlahnya ribuan, wujudnya juga abstrak alias maya karena beroperasi di dunia maya. Apalagi dapat dikelola dengan dukungan gadget canggih, aplikasi terbaru dan teknologi informasi lainnya. Siapa pengelolanya, entah di mana tidak diketahui dimana tempatnya.
Bahkan konon media abal-abal berbentuk grup dengan konten negatif (pornografi dan sebagainya) yang otomatis memasukkan banyak pemilik akun ternyata bermotif mencari uang dengan cara klik per view. Cara kerjanya, ketika orang yang di-taggedatau ditandai ikut penasaran, lalu meng-klik postingan tulisan atau kiriman video, maka si pengelola grup berisi konten tidak senonoh tersebut menangguk untung dari bayaran per klik. Dalam dunia google adsense dan youtube dikenal pay per view. Semakin banyak pengunjung (viewer) dan orang yang membuka atau meng-klik, maka semakin besar uang yang diterima si pengelola akun grup tersebut. Cara mencari duit tidak halal tersebut semakin hari semakin menjamur di media sosial dan sangat meresahkan.
Ditertibkan
Menertibkan akun-akun tersebut memang tidak mudah. Apalagi pengelola media online abal-abal tersebut menggunakan identitas palsu. Polisi bisa bekerjasama dengan ahli IT dan orang yang paham Hacker untuk menangkap pelaku. Karena banyak pelaku media abal-abal juga meretas server perusahaan dan melakukan kejahatan. Caranya menghadapinya tentu tidak cukup mengerahkan kekuatan fisik polisi saja, tetapi juga memanfaatkan keahlian IT yang sudah paham dunia maya agar pelaku dapat tertangkap dan media abal-abal dapat diberantas, minimal diblokir.
Bagi pemilik akun facebook, twitter dan sejenisnya, jangan mudah percaya dengan orang yang meminta pulsa, transfer uang dan sejenisnya dari orang terdekat dikenal sekalipun tanpa crosschek terlebih dahulu. Karena bisa jadi akun orang terdekat tersebut dibajak oleh penjahat. Begitu pula, bagi pembaca media online, hendaknya membiasakan membaca dari beragam sumber alternatif dan terpercaya. Jangan mudah tergiring opininya dengan mengandalkan satu sumber.
Semoga ke depan Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) bersama Polisi dan ahli IT mampu menertibkan media online abal-abal agar tidak lagi meresahkan masyarakat.
(analisadaily.com)
Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP
INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli
Nobar Piala Dunia dan Makan Bersama, Koramil 1710-02/Timika Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat
Mimika-Koramil 1710-02/Timika menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Aula Makoramil 1710-02/Timika, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Minggu (14/
ANKER Soundcore Luncurkan TWS Berbasis AI Liberty 5 Pro Series, Cek Fitur dan Harganya
JAKARTA â€" Brand audio terkemuka, ANKER soundcore, resmi merilis true wireless earbuds (TWS) premium generasi terbarunya, ANKER soundcore Liberty 5 Pro Series, di pasar Indonesia. Mengusung kons
Xiaomi Pamerkan Lengan Robotik Pengisi Daya Otomatis untuk Mobil Listrik
JAKARTA â€" Xiaomi mendemonstrasikan lengan robot yang dapat mengotomatisasikan pengisian daya mobil listrik di rumah. Perangkat ini ditujukan untuk para pemilik mobil listrik (EV) yang tidak suk
Ngeri! Wanita 21 Tahun Tewas Gegara Staf Lupa Pasang Tali Pengaman saat Bermain Ayunan Jembatan Ekstrem
JAKARTA - Sebuah insiden tragis terjadi di Brasil ketika seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari wahana ayunan ekstrem. Dia jatuh akibat tidak terpasangnya tali p