Selasa, 04 Agu 2026
  • Home
  • Opini
  • Meredam Radikalisme Sejak Dini di Sekolah

Opini

Meredam Radikalisme Sejak Dini di Sekolah

Oleh: Sion Pinem
Minggu, 18 Sep 2016 10:28
Internet
Ilustrasi
Peristiwa radikalisme kembali terjadi di Indonesia. Kali ini kota Medan yang menjadi sasarannya, di sebuah rumah ibadah. Pelakunya adalah seorang pemuda yang muda usia. Sekalipun bom yang digunakan berhulu ledak rendah (low explosive), kejadian ini tidak boleh dianggap remeh. Setidaknya ada beberapa alasan. Yang pertama, bahwa serangan teror saat ini bisa dilakukan di mana saja, oleh orang yang belum profesional sekalipun, seperti kejadian yang dilakukan pelaku teror di Medan yang terinspirasi dari aksi teror dari media elektronik yang ia tonton. Banyaknya situs-situs di internet yang menyediakan panduan untuk melakukan teror dengan cara-cara tertentu, membuat orang yang potensial untuk melakukan teror menemukan apa yang ia cari dengan mudah.

Yang kedua, banyaknya ajaran-ajaran yang menebar permusuhan, kebencian, fanatisme sempit (banal fanaticism) di tengah-tengah masyarakat bahkan kadang terjadi rumah ibadah sekalipun membuat radikalisme semakin cepat berkembang.

Yang ketiga, situasi dunia saat ini terutama di Timur Tengah yang keamanannya tidak stabil berpengaruh ke seluruh negara termasuk ke Indonesia. Misalnya, diduga ratusan warga Indonesia bergabung dengan organisasi teror di Timur Tengah, terutama Irak dan Suriah.

Setidaknya ketiga alasan ini sangat mungkin menginspirasi orang yang sebelumnya mempunyai bakat terpendam melakukan tindakan radikal menjadi pelaku radikalisme yang aktif. Celakanya jika hal ini terjadi pada anak usia muda seperti pelajar dan mahasiswa maka radikalisme mengalami regenerasi. Para pelaku radikalisme yang saat ini menjadi teladan (role model) bagi pemuda yang lain dan ada kecenderungan untuk mengikuti jejaknya.

Jika hal ini terjadi maka radikalisme akan semakin susah diberantas di Indonesia. Untuk itu dipandang perlu melakukan pencegahan radikalisme sejak dini. Banyak cara untuk meredam radikalisme sejak usia dini. Dalam tulisan ini penulis memfokuskan bagaimana meredam radikalisme melalui proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Setidaknya meredam radikalisme di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan. Yang pertama, melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Peristiwa yang paling tepat dilakukan adalah saat dilaksanakan latihan dasar kepemimpinan (LDK) bagi pengurus OSIS yang baru. Dalam sesi pelatihan dapat disisipkan materi radikalisme, bagaimana mengenalinya, dan bagaimana mengatasinya jika ada temannya yang punya pandangan yang radikal dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.

Yang kedua, melalui pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran. Melalui pimpinan sekolah sudah saatnya pendidikan karakter sebagai mana yang sudah dicanangkan pemerintah dilaksanakan secara terpadu, terprogram dan berkelanjutan di sekolah. Seringkali pendidikan karakter di sekolah hanya sebatas kata-kata atau sebatas menuliskan nilai-nilai karakter di sebuah sepanduk atau brosur. Lalu setelah itu dilupakan. Atau bahkan hanya sekedar memenuhi persyaratan akreditasi ketika dinilai oleh tim penilai akreditasi (assessor). Mestinya nilai-nilai karakter, seperti patriotisme, sebagai contoh dapat diinternalisasikan kedalam pikiran siswa sehingga ia selalu mencintai bangsa dan negaranya, misalnya. Hal ini tentunya tidak bisa terjadi begitu saja. Ini membutuhkan sebuah proses dan waktu yang disengaja melalui sebuah program yang terencana dan terukur indikator keberhasilannya. 

Yang ketiga, sekalipun berdasarkan kurikulum 2013 penilaian sikap diberikan kepada guru PKn dan Guru Agama, tidak berarti guru mata pelajaran lain tidak bertanggung jawab dalam pembinaan sikap siswa. Setiap warga sekolah sudah sewajarnya memperhatikan hal-hal aneh pada diri setiap siswa walaupun dengan menjunjung azas praduga tak bersalah.

Yang ke empat dan yang paling penting, menjalin kerjasama antara pihak sekolah dengan orangtua siswa. Sering sekali terjadi pihak sekolah lebih dahulu tahu masalah anak tertentu, dari pada orang tuanya sendiri. Ketika pihak sekolah memberitahu, barulah orang tua merasa kaget. Untuk mengatasi hal ini perlu digalakkan kegiatan kebersamaan dengan orang tua yang sifatnya saling tukar informasi mengenai anak ketika di rumah maupun di sekolah, jika perlu ketika anak melakukan aktifitas setelah pulang sekolah seperti mengikuti kegiatan kursus.

Orang tua harus tahu dengan siapa saja anaknya berteman, apa jenis kegiatannya dan dengan hal-hal apa saja anaknya sedang tertarik.

Sekolah memang bukan lembaga yang bisa melakukan penegakan hukum, seperti Kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional, tapi sekolah sudah saatnya melakukan tindakan pencegahan untuk meredam bibit-bibit radikalisme sejak dini, melalui tata tertib sekolah yang sifatnya mendidik.***

* Penulis adalah Praktisi Pendidikan

Sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 04 Agu 2026 16:49

    Jawab Isu Status BI, Menkeu Sebut Perubahan Sistem Kurang Tepat

    JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons isu yang menyebutkan Bank Indonesia (BI) akan masuk di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia memastikan wacana ters

  • Selasa, 04 Agu 2026 16:14

    Gelar Sesepuh Raja-raja Timor Pada Jokowi Ditolak Banyak Pihak, PSI Klaim Sudah Korum

    Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, memberikan respons terhadap polemik yang muncul usai mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima gelar adat sebagai Sesepuh Raja-Raja T

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:37

    Pria di Minas Ditemukan Tewas di Semak Dekat Kebun Sawit, Dilaporkan Hilang 6 Hari Lalu

    SIAK-Dilaporkan hilang, seorang pria ditemukan meninggal dunia setelah enam hari di semak belukar dekat kebun sawit warga di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Korban diketahui

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:21

    Pasar Murah Pemprov Riau Hari Ini di Rumbai Barat, Ada Beras hingga Minyakita Harga Terjangkau

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali menggelar pasar murah di Kota Pekanbaru pada Selasa (4/8/2026).Kali ini, kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Camat Rumbai Barat sebagai upaya mem

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:20

    Kujungi Pekanbaru, Wamenkes Sebut Kesehatan Masyarakat Tak Bisa Hanya Mengandalkan Rumah Sakit

    PEKANBARU - Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit, dokter, maupun pelayanan medis. Upaya tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahtera

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki