Opini
Meredam Radikalisme Sejak Dini di Sekolah
Oleh: Sion Pinem
Minggu, 18 Sep 2016 10:28
Yang kedua, banyaknya ajaran-ajaran yang menebar permusuhan, kebencian, fanatisme sempit (banal fanaticism) di tengah-tengah masyarakat bahkan kadang terjadi rumah ibadah sekalipun membuat radikalisme semakin cepat berkembang.
Yang ketiga, situasi dunia saat ini terutama di Timur Tengah yang keamanannya tidak stabil berpengaruh ke seluruh negara termasuk ke Indonesia. Misalnya, diduga ratusan warga Indonesia bergabung dengan organisasi teror di Timur Tengah, terutama Irak dan Suriah.
Setidaknya ketiga alasan ini sangat mungkin menginspirasi orang yang sebelumnya mempunyai bakat terpendam melakukan tindakan radikal menjadi pelaku radikalisme yang aktif. Celakanya jika hal ini terjadi pada anak usia muda seperti pelajar dan mahasiswa maka radikalisme mengalami regenerasi. Para pelaku radikalisme yang saat ini menjadi teladan (role model) bagi pemuda yang lain dan ada kecenderungan untuk mengikuti jejaknya.
Jika hal ini terjadi maka radikalisme akan semakin susah diberantas di Indonesia. Untuk itu dipandang perlu melakukan pencegahan radikalisme sejak dini. Banyak cara untuk meredam radikalisme sejak usia dini. Dalam tulisan ini penulis memfokuskan bagaimana meredam radikalisme melalui proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Setidaknya meredam radikalisme di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan. Yang pertama, melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Peristiwa yang paling tepat dilakukan adalah saat dilaksanakan latihan dasar kepemimpinan (LDK) bagi pengurus OSIS yang baru. Dalam sesi pelatihan dapat disisipkan materi radikalisme, bagaimana mengenalinya, dan bagaimana mengatasinya jika ada temannya yang punya pandangan yang radikal dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.
Yang kedua, melalui pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran. Melalui pimpinan sekolah sudah saatnya pendidikan karakter sebagai mana yang sudah dicanangkan pemerintah dilaksanakan secara terpadu, terprogram dan berkelanjutan di sekolah. Seringkali pendidikan karakter di sekolah hanya sebatas kata-kata atau sebatas menuliskan nilai-nilai karakter di sebuah sepanduk atau brosur. Lalu setelah itu dilupakan. Atau bahkan hanya sekedar memenuhi persyaratan akreditasi ketika dinilai oleh tim penilai akreditasi (assessor). Mestinya nilai-nilai karakter, seperti patriotisme, sebagai contoh dapat diinternalisasikan kedalam pikiran siswa sehingga ia selalu mencintai bangsa dan negaranya, misalnya. Hal ini tentunya tidak bisa terjadi begitu saja. Ini membutuhkan sebuah proses dan waktu yang disengaja melalui sebuah program yang terencana dan terukur indikator keberhasilannya.
Yang ketiga, sekalipun berdasarkan kurikulum 2013 penilaian sikap diberikan kepada guru PKn dan Guru Agama, tidak berarti guru mata pelajaran lain tidak bertanggung jawab dalam pembinaan sikap siswa. Setiap warga sekolah sudah sewajarnya memperhatikan hal-hal aneh pada diri setiap siswa walaupun dengan menjunjung azas praduga tak bersalah.
Yang ke empat dan yang paling penting, menjalin kerjasama antara pihak sekolah dengan orangtua siswa. Sering sekali terjadi pihak sekolah lebih dahulu tahu masalah anak tertentu, dari pada orang tuanya sendiri. Ketika pihak sekolah memberitahu, barulah orang tua merasa kaget. Untuk mengatasi hal ini perlu digalakkan kegiatan kebersamaan dengan orang tua yang sifatnya saling tukar informasi mengenai anak ketika di rumah maupun di sekolah, jika perlu ketika anak melakukan aktifitas setelah pulang sekolah seperti mengikuti kegiatan kursus.
Orang tua harus tahu dengan siapa saja anaknya berteman, apa jenis kegiatannya dan dengan hal-hal apa saja anaknya sedang tertarik.
Sekolah memang bukan lembaga yang bisa melakukan penegakan hukum, seperti Kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional, tapi sekolah sudah saatnya melakukan tindakan pencegahan untuk meredam bibit-bibit radikalisme sejak dini, melalui tata tertib sekolah yang sifatnya mendidik.***
* Penulis adalah Praktisi Pendidikan
Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan
JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiā"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang
JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o
Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran
JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke
Setoran Pajak Digital RI Capai RP50,51 Triliun di Kuartal I-2026
JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan dari sektor usaha ekonomi digital sebesar Rp50,51 triliun di kuartal pertama (Q1) 2026 hingga 31 Maret 2026
Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Senilai Rp116 Triliun, Prabowo: Bersejarah dan Sangat Membanggakan
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Prabowo menegaskan bahwa peresmian