Senin, 15 Jun 2026
  • Home
  • Opini
  • Meredam Radikalisme Sejak Dini di Sekolah

Opini

Meredam Radikalisme Sejak Dini di Sekolah

Oleh: Sion Pinem
Minggu, 18 Sep 2016 10:28
Internet
Ilustrasi
Peristiwa radikalisme kembali terjadi di Indonesia. Kali ini kota Medan yang menjadi sasarannya, di sebuah rumah ibadah. Pelakunya adalah seorang pemuda yang muda usia. Sekalipun bom yang digunakan berhulu ledak rendah (low explosive), kejadian ini tidak boleh dianggap remeh. Setidaknya ada beberapa alasan. Yang pertama, bahwa serangan teror saat ini bisa dilakukan di mana saja, oleh orang yang belum profesional sekalipun, seperti kejadian yang dilakukan pelaku teror di Medan yang terinspirasi dari aksi teror dari media elektronik yang ia tonton. Banyaknya situs-situs di internet yang menyediakan panduan untuk melakukan teror dengan cara-cara tertentu, membuat orang yang potensial untuk melakukan teror menemukan apa yang ia cari dengan mudah.

Yang kedua, banyaknya ajaran-ajaran yang menebar permusuhan, kebencian, fanatisme sempit (banal fanaticism) di tengah-tengah masyarakat bahkan kadang terjadi rumah ibadah sekalipun membuat radikalisme semakin cepat berkembang.

Yang ketiga, situasi dunia saat ini terutama di Timur Tengah yang keamanannya tidak stabil berpengaruh ke seluruh negara termasuk ke Indonesia. Misalnya, diduga ratusan warga Indonesia bergabung dengan organisasi teror di Timur Tengah, terutama Irak dan Suriah.

Setidaknya ketiga alasan ini sangat mungkin menginspirasi orang yang sebelumnya mempunyai bakat terpendam melakukan tindakan radikal menjadi pelaku radikalisme yang aktif. Celakanya jika hal ini terjadi pada anak usia muda seperti pelajar dan mahasiswa maka radikalisme mengalami regenerasi. Para pelaku radikalisme yang saat ini menjadi teladan (role model) bagi pemuda yang lain dan ada kecenderungan untuk mengikuti jejaknya.

Jika hal ini terjadi maka radikalisme akan semakin susah diberantas di Indonesia. Untuk itu dipandang perlu melakukan pencegahan radikalisme sejak dini. Banyak cara untuk meredam radikalisme sejak usia dini. Dalam tulisan ini penulis memfokuskan bagaimana meredam radikalisme melalui proses kegiatan belajar mengajar di sekolah.

Setidaknya meredam radikalisme di sekolah dapat dilakukan dengan beberapa pendekatan. Yang pertama, melalui Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Peristiwa yang paling tepat dilakukan adalah saat dilaksanakan latihan dasar kepemimpinan (LDK) bagi pengurus OSIS yang baru. Dalam sesi pelatihan dapat disisipkan materi radikalisme, bagaimana mengenalinya, dan bagaimana mengatasinya jika ada temannya yang punya pandangan yang radikal dalam kegiatan sehari-hari di sekolah.

Yang kedua, melalui pendidikan karakter yang terintegrasi dalam setiap mata pelajaran. Melalui pimpinan sekolah sudah saatnya pendidikan karakter sebagai mana yang sudah dicanangkan pemerintah dilaksanakan secara terpadu, terprogram dan berkelanjutan di sekolah. Seringkali pendidikan karakter di sekolah hanya sebatas kata-kata atau sebatas menuliskan nilai-nilai karakter di sebuah sepanduk atau brosur. Lalu setelah itu dilupakan. Atau bahkan hanya sekedar memenuhi persyaratan akreditasi ketika dinilai oleh tim penilai akreditasi (assessor). Mestinya nilai-nilai karakter, seperti patriotisme, sebagai contoh dapat diinternalisasikan kedalam pikiran siswa sehingga ia selalu mencintai bangsa dan negaranya, misalnya. Hal ini tentunya tidak bisa terjadi begitu saja. Ini membutuhkan sebuah proses dan waktu yang disengaja melalui sebuah program yang terencana dan terukur indikator keberhasilannya. 

Yang ketiga, sekalipun berdasarkan kurikulum 2013 penilaian sikap diberikan kepada guru PKn dan Guru Agama, tidak berarti guru mata pelajaran lain tidak bertanggung jawab dalam pembinaan sikap siswa. Setiap warga sekolah sudah sewajarnya memperhatikan hal-hal aneh pada diri setiap siswa walaupun dengan menjunjung azas praduga tak bersalah.

Yang ke empat dan yang paling penting, menjalin kerjasama antara pihak sekolah dengan orangtua siswa. Sering sekali terjadi pihak sekolah lebih dahulu tahu masalah anak tertentu, dari pada orang tuanya sendiri. Ketika pihak sekolah memberitahu, barulah orang tua merasa kaget. Untuk mengatasi hal ini perlu digalakkan kegiatan kebersamaan dengan orang tua yang sifatnya saling tukar informasi mengenai anak ketika di rumah maupun di sekolah, jika perlu ketika anak melakukan aktifitas setelah pulang sekolah seperti mengikuti kegiatan kursus.

Orang tua harus tahu dengan siapa saja anaknya berteman, apa jenis kegiatannya dan dengan hal-hal apa saja anaknya sedang tertarik.

Sekolah memang bukan lembaga yang bisa melakukan penegakan hukum, seperti Kepolisian maupun Badan Narkotika Nasional, tapi sekolah sudah saatnya melakukan tindakan pencegahan untuk meredam bibit-bibit radikalisme sejak dini, melalui tata tertib sekolah yang sifatnya mendidik.***

* Penulis adalah Praktisi Pendidikan

Sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Berita Terkait
  • Minggu, 14 Jun 2026 20:34

    Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP

    INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli

  • Minggu, 14 Jun 2026 20:32

    Nobar Piala Dunia dan Makan Bersama, Koramil 1710-02/Timika Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat

    Mimika-Koramil 1710-02/Timika menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Aula Makoramil 1710-02/Timika, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Minggu (14/

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:14

    ANKER Soundcore Luncurkan TWS Berbasis AI Liberty 5 Pro Series, Cek Fitur dan Harganya

    JAKARTA â€" Brand audio terkemuka, ANKER soundcore, resmi merilis true wireless earbuds (TWS) premium generasi terbarunya, ANKER soundcore Liberty 5 Pro Series, di pasar Indonesia. Mengusung kons

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:13

    Xiaomi Pamerkan Lengan Robotik Pengisi Daya Otomatis untuk Mobil Listrik

    JAKARTA â€" Xiaomi mendemonstrasikan lengan robot yang dapat mengotomatisasikan pengisian daya mobil listrik di rumah. Perangkat ini ditujukan untuk para pemilik mobil listrik (EV) yang tidak suk

  • Minggu, 14 Jun 2026 18:10

    Ngeri! Wanita 21 Tahun Tewas Gegara Staf Lupa Pasang Tali Pengaman saat Bermain Ayunan Jembatan Ekstrem

    JAKARTA - Sebuah insiden tragis terjadi di Brasil ketika seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari wahana ayunan ekstrem. Dia jatuh akibat tidak terpasangnya tali p

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.