Rabu, 29 Apr 2026

Opini

Pasca PDIP Memilih Ahok

Oleh: Firman Situmeang
Minggu, 25 Sep 2016 10:49
suaranews.com
Ilustrasi
Teka-teka tentang siapa yang akan diusung oleh PDI Perjuangan sebagai calon gubernur dan wakil gubernur pada perhelatan Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang terjawab sudah. Yah, PDI Perjuangan yang selama ini belum menentukan sikap secara tegas calon gubernur yang akan didukungnya, kemarin akhirnya  sudah bulat untuk mendukung pasangan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan wakilnya, Djarot Saiful Hidayat.

Meski baru tadi malam mengumumkan nama Ahok, sebenarnya pilihan PDI Perjuangan bukan sesuatu yang  mengejutkan. Sejak beberapa bulan lalu partai yang dipimpin oleh Megawati Soekarnoputri ini sudah menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka akan memilih Ahok. Itu setelah calon PDIP sendiri yang  digadang-gadang, yaitu Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, lebih memilih untuk tetap memimpin Surabaya sampai masa kepemimpinannya selesai empat tahun ke depan.

Sikap PDI Perjuangan yang secara tegas mendukung Ahok tak pelak telah menjawab berbagai kesimpangsiuran yang sebelumnya kerap terjadi. Hal ini juga secara langsung maupun tidak telah mengubah aspek dan peta politik di DKI.

Mega Masih Sayang Ahok

Dipilihnya Ahok oleh PDI Perjuangan sebagai calon gubernur DKI telah menjawab semua teka-teki tentang hubungan antara Ahok dan pimpinan PDIP Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Ya, sebelum PDI Perjuangan memilih Ahok beberapa politikus semisal Ruhut Sitompul dan pengamat politik telah memprediksi bahwa Megawati pasti akan memilih Ahok karena Megawati masih menyayangi Ahok. Dan kini pasca terpilihnya Ahok maka prediksi mereka terjawab sudah dan benar adanya.

Ya, Megawati memang dikenal sebagai sosok yang sangat dekat bahkan bisa dibilang menyayangi Ahok. Namun akibat sikap Ahok yang sempat memilih jalur independen, dikabarkan hubungan keduanya mulai retak. Hal ini terlihat dari sikap Megawati yang mulai melirik sosok lain selain Ahok semisal Tri Rismaharini. Namun ternyata sikap Megawati tersebut tidak membuat beliau meninggalkan Ahok. Buktinya partai yang dipimpinnya pada akhirnya mengusung Ahok sebagai Cagub DKI 2017 mendatang.

Ahok Makin Perkasa

Adanya dukungan PDI Perjuangan terhadap pencalonan Ahok membuat posisi Ahok semakin kuat saja. Pasalnya sebelum PDI Perjuangan sudah ada tiga partai yang mendukungnya yakni Nasdem, Hanura, dan Golkar.  Ada tiga indikator yang menguatkan asumsi penulis. 

Pertama, dengan bergabungnya PDI Perjuangan maka kekuatan mesin politik Ahok dipastikan akan semakin kencang. Seperti diketahui pasca masuknya dukungan PDI Perjuangan maka jumlah kursi yang mendukung Ahok di DPRD sebanyak 52 kursi. Duet partai dan teman Ahok dipastikan membuat aksi men-Jakartakan Ahok akan semakin masif dan terorganisir.

Kedua, dengan diusungnya Ahok oleh PDI Perjuangan maka sudah dipastikan sosok yang selama ini digadang-gadang bisa mengalahkan Ahok, Tri Rismaharini tidak akan bertarung dalam Pilkada DKI 2017 mendatang. Sebagai kader PDI Perjuangan yang begitu loyal terhadap Megawati, adalah sangat mustahil bila seorang Tri Rismaharini akan bersedia untuk didukung oleh partai lain. Ahok semakin diuntungkan ketika kini calon penantang yang memiliki elektabilitas dan popularitas yang tinggi sangat minim. 

Ada sosok Sandiaga yang cukup diperhitungkan namun sayangnya Sandiaga belum memiliki pengalaman dan kinerja nyata karena belum pernah menjabat sebagai kepala daerah. Ada pula Rizal Ramli namun sama seperti Sandiaga, Rizal belum memiliki pengalaman sebagai kepala daerah. Ditambah lagi Rizal juga belum memiliki basis dukungan yang kuat. Ada pula Yusril Ihza Mahendra namun Yusril belum juga memiliki partai kuat yang mendukungnya, ditambah lagi elektabilitasnya juga terbilang rendah.

Ketiga, basis dukungan rakyat. Sebagai seorang Petahana Ahok dipastikan telah memiliki pendukung tetap pada Pilkada DKI 2017 mendatang. Ditambah lagi Ahok kini didukung oleh Teman Ahok yang memiliki banyak anggota di penjuru Jakarta. Ketika Ahok sudah punya pendukung tetap calon lain dipastikan harus bekerja keras untuk mencuri hati rakyat. 

Berpijak pada hal tersebut maka posisi Ahok bisa dibilang lebih digdaya dibandingkan calon lainnya. Ya, memang ada kelompok Anti- Ahok yang kini mencoba untuk mencari tokoh untuk melawan Ahok. Namun melihat kinerja mereka yang suam-suam kuku dirasa mustahil untuk mengalahkan Ahok. 

Ditambah lagi masih ada masyarakat yang masihmengambang yang belum menentukan pilihan. Pemilih tipe inilah yang nanti akan diperebutkan dan menentukan pemenang pertarungan di DKI 1. Jumlah  pemilih yang belum menentukan sikap cukup besar, diperkirakan melebihi tipe pemilih pendukung Ahok. Pemilih tipe ini juga diperkirakan di atas pendukung anti-Ahok. 

Namun jika kita berhitung sangatlah mustahil bila tidak ada masyarakat mengambang yang tidak mendukung Ahok. Di samping itu tidak ada jaminan pula kalau pemilih menganbang ini akan memilih calon lainnya pada Pilkada 2017 mendatang. Ditambah lagi potensi golput juga harus diperhitungkan.

KK Serupa KMP

Posisi Ahok diperkirakan akan semakin kuat saja di tengah kegalauan para penghuni Koalisi Kekeluargaan (KK) pasca PDIP Perjuangan mendukung Ahok. Yah kita tentunya masih mengingat nasib KMP. Sebelum Jokowi terpilih sebagai Presiden RI, Koalisi Merah Putih (KMP) berdiri begitu kokoh dan solid. Namun setelah Jokowi terpilih satu per satu anggota dari KMP membelot dan mendukung Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang memenangkan Jokowi. Nasib yang sama menurut penulis akan terjadi pada KK. Namun berbeda dengan KMP, KK akan goyah sebelum Gubernur DKI yang baru terpilih. Namun sebabnya akan tetap sama yakni karena jatah kursi.

Ya, beberapa waktu terakhir KK memang sedang mengalami ketidaksabilan. Hal ini terjadi pasca Partai Keadilan Sejahtera bersama Partai Gerindra secara resmi menawarkan Sandiaga Uno dan Mardani Ali Sera untuk diusung sebagai bakal calon gubernur dan bakal calon wakil gubernur DKI Jakarta 2017 yang akan datang. Munculnya nama Mardani tak pelak membuat PKB dan PPP berang dan berencana membentuk poros baru. Realisasinya pasca duet Sandiaga- Mardani di deklarasikan oleh Gerindra dan PKS. Empat partai anggota KK yakni Demokrat, PKB, PPP, dan PAN diberitakan bakal mengusung duet Yusril- Saefullah. 

Dan kini pasca dukungan PDI Perjuangan ke Ahok maka kesolidan KK dipastikan akan semakin terguncang.  Apalagi selama ini para partai anggota KK sangat berharap banyak agar PDI Perjuangan akan mengajukan penantang untuk melawan Ahok. Bisa jadi dalam waktu dekat ada partai anggota KK yang membelot mendukung Ahok. 

Perebutan kursi gubernur Jakarta bagi partai-partai bukan hanya sekadar menang atau kalah. Namun, partai besar menggunakan DKI Jakarta sebagai alat untuk menaikkan gengsi dan harga diri. Semua partai ingin memenangi pertarungan di DKI Jakarta. Oleh karena itu potensi para partai anggota KK untuk membelot amatlah besar bila dirasa tidak ada calon yang bisa menandingi petahana.****

Penulis adalah Mahasiswa Sosiologi USU dan Anggota Toba Writers Forum.

sumber:harian.analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiā€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:29

    Setoran Pajak Digital RI Capai RP50,51 Triliun di Kuartal I-2026

    JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan dari sektor usaha ekonomi digital sebesar Rp50,51 triliun di kuartal pertama (Q1) 2026 hingga 31 Maret 2026

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:27

    Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Senilai Rp116 Triliun, Prabowo: Bersejarah dan Sangat Membanggakan

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Prabowo menegaskan bahwa peresmian

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.