Selasa, 28 Jul 2026
  • Home
  • Opini
  • Pejuang, Pembangkang atau Pecundang’

Opini

Pejuang, Pembangkang atau Pecundang’

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 28 Jul 2026 09:11
DALAM kehidupan berbangsa, berorganisasi, bahkan dalam keseharian, kita sering berhadapan dengan tiga pilihan sikap: menjadi pejuang, pembangkang, atau pecundang. Ketiganya lahir dari cara seseorang memandang tanggung jawab terhadap sesama.

Pejuang adalah orang yang lebih banyak bekerja daripada berbicara. Mereka rela berkorban, tanpa sibuk menghitung pengakuan. Tidak mengejar pujian, tidak haus popularitas, dan tidak harus selalu tampil di depan. Jejak yang mereka tinggalkan bukan sekadar nama, tetapi manfaat yang terus dirasakan generasi berikutnya. Mereka memahami bahwa pengabdian tentang memberi, bukan sekadar terlihat.


Di sisi lain, pembangkang tidak selalu bermakna negatif. Dalam masyarakat yang demokratis, kritik merupakan bagian penting dari proses perbaikan. Namun, kritik kehilangan nilainya ketika hanya berhenti pada slogan, caci maki, atau sensasi. Kritik yang tidak disertai solusi hanya akan melahirkan kebisingan, bukan perubahan. Keberanian sejati bukan hanya lantang menyuarakan kesalahan, tetapi juga bersedia ikut memperbaikinya.

Yang paling merugikan adalah sikap pecundang. Mereka enggan berhadapan secara terbuka, tetapi gemar menggunting dalam lipatan, menikam dari belakang, menyebarkan prasangka, memecah kepercayaan, dan mencari keuntungan di tengah kesulitan orang lain. Mereka tidak membangun, melainkan menggerogoti. Pada akhirnya, bukan hanya sekadar merusak orang lain, tetapi juga kehilangan kompas moral dalam hidupnya sendiri.


Pertanyaan terbesar adalah bukan siapa yang sedang kita nilai, melainkan siapa diri kita. Apakah kita telah menjadi pejuang yang menghadirkan harapan dan memberi cahaya bagi kehidupan orang lain? Apakah kritik yang kita sampaikan lahir dari kepedulian ingin memperbaiki, atau sekadar keinginan untuk menjatuhkan? Atau tanpa disadari, kita justru menjadi pecundang yang mengorbankan nilai dan integritas demi kepentingan sesaat?

Sejarah tidak dibangun oleh mereka yang paling keras bersuara. Sejarah dibangun oleh mereka yang bekerja dengan ketulusan, menjaga integritas, dan berani memikul tanggung jawab. Kata-kata dapat menggerakkan perhatian, tetapi tindakanlah yang mengubah keadaan.

Akhirnya, setiap orang akan dikenang bukan karena berapa sering ia berbicara, melainkan berapa besar manfaat yang telah ia tinggalkan. Maka, pilihan terbaik adalah menjadi pejuang; bekerja dalam diam, berjuang dengan integritas, dan menghadirkan cahaya bagi kehidupan. Sebab, cahaya sekecil apa pun akan selalu lebih berarti daripada kebisingan yang tidak menghasilkan apa-apa.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/pejuang-pembangkang-atau-pecundang.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki