Rabu, 29 Apr 2026

Selamat Datang MEA!

Rabu, 30 Des 2015 09:01
Ilustrasi

Mungkin telah puluhan, atau bahkan ratusan artikel telah terbit di berbagai media massa maupun media online yang membicarakan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Perbincangan dan diskusi hangat tentang MEA hadir dari kelas para kaum berdasi sampai kepada kelas pelanggan warung kopi, selama ini sudah hampir menjadi tema sehari-hari.

Benar, tepat diakhir tahun ini MEA secara efektif mulai berlaku. Istilahnya tinggal menghitung hari demi hari. Tidak sedikit kalangan yang merisaukan kehadiran MEA, ditengah ketidaksiapan Indonesia menghadapinya. Pesimisme ini bukannya tidak berarah memang. Lihat saja kondisi perekonomian bangsa kita sedang "demam" diterpa berbagi krisis yang melanda. Namun, walau bagaimanapun kondisi ekonomi, sosial, politik Negara-negara Asia Tenggara harus konstisten terhadap kesepakatan yang telah disetujui. Apalagi Indonesia baru saja menyelesaikan perhelatan akbar Pilkada Serentak 2015. Beruntung tidak ada kerusuhan yang terjadi pada ajang pesta demokrasi ini. Bila sampai terjadi, negara-negara Asia Tenggara tentunya akan men-cap bahwa kondisi politik Indonesia tidak stabil, maka otomatis ini bisa menjadi faktor penghambat bagi arus masuk barang dan modal ke Indonesia. 

Membangun Optimisme

Genderang MEA yang telah ditabuh, jangan dianggap sebagai permainan biasa. It's a real game! Ini adalah pertaruhan harga diri dan martabat bangsa dalam kondisi yang tidak mudah. Lihatlah kokohnya ekonomi Singapura dan Malaysia, seharusnya menjadi contoh bagi bangsa kita (bila mau belajar). Bukan jadi sekedar cerita, yang melahirkan opini-opini yang tidak berarah, bahkan malah memojokkan. Namun, sebaliknya kondisi (ekonomi) mereka semakin teguh, sedang kita semakin ketar-ketir. Walau begitu, kita harus tetap optimis dan berjuang menghadapinya. Toh, bangsa kita bangsa besar, masak kalah dengan negara ASEAN lainnya yang relatif kecil.

Kita harus selalu mencoba untuk selalu tidak terpengaruh pada isu-isu yang tidak dapat dipercaya. Demi kepentingan masa depan Indonesia dan juga Negara ASEAN lainnya, kita harus ber-idealisme. Bahwa setiap perjanjian atau kesepakatan harus dipahami secara mendalam. Kini, yang kita perlukan adalah memandang ke depan dan bergerak maju. Mencoba fokus pada yang akan datang. Indonesia dan negara ASEAN lain, secara bersama membangun fundamen ekonomi yang berpijak pada azas persatuan dan kemakmuran Asia Tenggara. Dan saat ini di depan mata telah menanti MEA yang telah kita pertimbangkan urgensi dan prioritasnya. Akankah kerja keras selama ini, demi mewujudkan MEA harus terhenti?

Pada bulan Januari 2016 mendatang all things will change. Jika kita tidak siap menghadapinya, maka kita akan tersingkir dari "perang" ekonomi regional Negara-negara ASEAN. Jauh hari sebelumnya Vietnam (dan Negara Asia Tenggara lainnya) telah melatih rakyatnya untuk berbahasa Indonesia. Tentunya ini merupakan stretegi untuk dapat menerobos pasar dan tenaga kerja Indonesia. Sayangnya strategi ini luput dari pengamatan Indonesia. Jelas sekali terlihat bahwa sasaran prioritas mereka adalah Negara kita, Indonesia.

Sayangnya, dengan menjadi sasaran kita terlihat tenang-tenang saja. Tidak terpikirkah bila bagaimana nantinya bila warga asing menerobos Indonesia. Apa mungkin Indonesia mampu mempertahankan kestabilan perekonomian dan kedaulatan bangsanya? Dengan bonus demografi hampir 40 persen, tentunya ini merupakan peluang bangsa lain untuk memecah Indonesia. Tapi, jangan langsung berprasangka buruk dengan diberlakukannya MEA, yang sebenarnya berorientasi baik dan menguntungkan Negara anggotanya jika aktif dan giat, terlebih dalam hal ekonomi. Tinggal bagaimana kita dengan tangan pemerintah mengatur kebijakan ekonomi yang tentunya harus bebas dari berbagai pengaruh negatif, yang sama sekali tidak menguntungkan rakyat.

Namun, semua upaya yang telah dilakukan pemerintah jangan di anggap sepele. Sebab, bagaimanapun pemerintah telah bekerja keras dan berikthtiar yang terbaik untuk kemajuan Indonesia, terutama dalam sektor ekonomi. Lihatlah paket-paket kebijakan ekonomi yang langsung dikeluarkan Presiden Joko Widodo berdampak positif bagi berbagai potensi ancaman ekonomi. Bahkan beberapa pengamat ekonomi menilai krisis moneter 1997/1998 akan kembali terulang. Maka, beruntung dan bersyukurlah kita masih bisa selamat dari kejatuhan ekonomi yang tentunya tidak akan mudah mengukuhkannya kembali.

Memaksimalkan Manfaat MEA

MEA yang akan datang harus disikapi dengan bijak. Karena pada dasarnya tujuan MEA adalah menguntungkan Negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing Negara-negara ASEAN, yang nantinya merupakan kekuatan raksasa ekonomi terbesar setelah Tiongkok, Amerika Serikat dan Jepang. 

Tahun 2016 menjadi jejak pertama dalam mewujudkan perekonomian yang sepenuhnya terintegrasi ditahun 2020. Sebab, pada dasarnya tujuan MEA ialah mengembangkan suatu pasar bebas di berbagai sektor ekonomi yang diharapkan dapat mengatasi segala permasalahan ekonomi di Negara-negara ASEAN. Pola MEA sama seperti Uni Eropa yang melahirkan Europe Economic Community (EEC), yaitu pasar bebas terpadu dengan mata uang tunggal £ (euro) dan alur yang bebas terhadap barang, jasa, modal dan investasi, agar warga dapat lebih bersaing dipasar global.

MEA secara tak langsung memaksa Negara-negara anggotanya (Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Laos) untuk bersaing secara "sehat" dalam berbagai sektor ekonomi. Maka, untuk memperoleh keuntungan masksimal, kita harus tetap waspada dalam mengantisipasi integrasi MEA tersebut, dimana Indonesia perlu senantiasa menjaga daya saing barang dan jasanya. Agar terwujud persaingan yang seimbang dengan Negara ASEAN lainnya. Sehingga bisa menopang pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan perkapita penduduk Indonesia. Sehingga di tahun 2019 kita bisa menjadi middle income country, jangan seperti sekarang masih lower income country.

Untuk itu, segala upaya maksimal harus dikerahkan agar MEA betul-betul memberi keuntungan ekonomi dan kesejahteraan kepada masyarakat. Ini tentunya, hanya dapat diraih melalui kekuatan daya saing yang diperoleh dari peningkatan produktivitas, kreativitas dan inovasi. Liberalisasi pasar, yang bertitik pangkal pada persaingan produksi harus dipandang sebagai peluang, (bukannya ancaman).

Kita saksikan Indonesia kaya dengan SDA-nya, namun bisa tertinggal dengan Singapura yang tidak memiliki SDA yang cukup. Negara dengan demografi yang minim mampu me-manage strategi ekonomi dan sistem hukum dengan brilian, sehingga dengan cepat menjadi Negara maju. Pendapatan perkapita rakyat Singapura belasan kali lipat dari perkapita rakyat Indonesia. Ini merupakan sinyal bahwa kita harus segara berubah. Sudah haruslah Indonesia menjadikan rakyat makmur dan sejahtera, mengembangkan visionary of reality (visi nyata) bukan seperti selama ini yang menganut visionary of imagination (visi bayangan). 

Manfaat MEA juga memperkecil kesenjangan dan ketimpangan kesejahteraan, baik yang terjadi di dalam negeri maupun antar Negara ASEAN. Laporan World Bank mengenai ketimpangan kemakmuran di Indonesia dengan indikator koefisien gini sebesar 0,41 ditahun 2014. Angka ini menunjukkan orang kaya yang semakin kaya menikmati kemakmuran, dan orang miskin semakin miskin menjalani kesengsaraan. Bila dikalkulasikan hanya 1 persen rumah tangga (sekitar 2,5 juta orang) menguasai 50,3 persen kekayaan Indonesia (Kompas, 11/12). Nah, dengan hadirnya MEA mudah-mudahan kesenjangan ini dapat teratasi sesegera mungkin. Agar rakyat merasa sederajat dan seluruhnya menikmati kemakmuran dalam hidupnya.

(analisadaily.com)

Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.