opini
Skandal Global “Panama Papers”
Oleh: Fadil Abidin
Minggu, 10 Apr 2016 10:22
Mossack Fonseca juga menyimpan data beberapa negara yang menjadi tujuan para orang kaya dunia menyembunyikan uangnya. Setidaknya ada 21 negara yang masuk kategori tax haven atau surga pajak, negara yang menetapkan pajak rendah atau bahkan bebas pajak, seperti British Virgin Island, Panama, Bahamas, Seychelles, Niue, Samoa, British Anguilla, Nevada, Hongkong, Inggris, dll.
Praktik yang telah berlangsung selama 40 tahun ini akhirnya terbongkar. Dokumen rahasia Mossack Fonseca yang kemudian disebut "Panama Papers" diretas dan bocor ke publik. Dokumen Panama Papers berbentuk file sebesar 2,6 terabyte (TB). Ada 4,8 juta e-mail, 3 juta database, 2,1 juta dokumen PDF, 1,1 juta foto, 320.000 dokumen teks, dan 2.000-an file lainnya.
Firma ini diretas oleh seorang hacker bernama sandi John Doe. Oleh Doe, data-data tersebut itu diserahkan kepada surat kabar Jerman, Suddeutsche Zeitung. Oleh Zeitung, data itu kemudian dibagikan kepada International Consortium of Investigative Journalists (ICIJ). Untuk kemudian diverifikasi oleh lebih dari 100 grup media di dunia yang berkekuatan 370 jurnalis yang berasal dari 80 negara. Media yang ikut seperti The Guardian, Reuters, dan BBC dari Inggris, AP, AFP, Le Monde dari Prancis, La Nacion dari Argentina, dan Tempo dari Indonesia. Data-data ini diverifikasi hampir Selama setahun dan dipastikan validitasnya, sehingga kemudian diumumkan ke publik sejak 4 April lalu di seluruh dunia.
Panama Papers
Dunia pun heboh. Panama Paper dianggap sebagai mega skandal kelas global. Ada 12 kepala negara dan kepala pemerintahan (presiden dan perdana menteri), 140 politisi, 60 kolega, kerabat dan keluarga orang-orang berkuasa, atlet dan seleberitis dunia. Pesepakbola Lionel Messi, bintang Bollywood Amitabh Bachchan dan aktor film Jackie Chan, disebut pernah memakai jasa Mossack Fonseca untuk mengakali pajak. Para petingga FIFA juga diberitakan terlibat dalam pencucian uang hasil penyuapan.
Selain mengelola "uang halal", Mossack Fonseca juga diindikasikan mengelola "uang haram" dari para diktator, koruptor, gembong narkoba, mafia, dan organisasi kejahatan. Uang ini kemudian "dicuci" dengan mendirikan perusahaan-perusahaan offshore atau shell company di negara-negara tax haven.
Seperti dilansir Reuters (5/4), bocoran dokumen itu menunjukkan Mossack Fonseca telah membantu pendirian lebih dari 240.000 perusahaan offshore atau perusahaan cangkang (shell company) milik klien-kliennya yang kebanyakan tokoh penting dan konglomerat dunia. Perusahaan offshore biasanya didirikan di negara surga pajak, yang pungutan pajaknya rendah. Disebut "perusahaan cangkang" karena memang hanya cangkangnya saja yang ada, sedangkan isinya tidak ada.
Sebagai ilustrasi, jika Anda punya kekayaan sebesar Rp 10 triliun, apa dan bagaimana Anda mengelolanya? Jika disimpan di bank akan terkena pajak belum lagi investigasi dari pihak berwajib yang akan menyelidiki dari mana uang tersebut berasal. Jika diinvestasikan kembali juga kena pajak, jika dibuat untuk usaha juga kena pajak atau beresiko rugi. Maka Mossack Fonseca memberi solusi dengan "mencuci" uang tersebut dengan cara mendirikan perusahaan cangkang di negara-negara tax haven.
Menjangkau Indonesia
Bocoran data Panama Papers menjangkau Indonesia. Skandal terungkapnya upaya pengemplangan pajak serta pencucian uang ini juga melibatkan banyak perusahan dari Tanah Air. Jika mengakses data offshoreleaks.icij.org, dengan mengetik kata kunci 'Indonesia', akan diperoleh data-data klien yang pernah berhubungan dengan firma hukum Mossack Fonseca. Ada banyak nama pengusaha ternama Indonesia di dalamnya.
Dari situs di atas, ada 2.961 nama individu ataupun perusahaan yang muncul saat kata kunci "Indonesia" dimasukkan. Nama-nama tersebut terhubung dengan 43 nama perusahaan perekayasa bebas pajak (offshore). Pada laman yang sama muncul 2.400 alamat di Indonesia yang terdata dalam kolom Listed Addresses.
Ditilik sekilas seperti dikutip merdeka.com (5/4/2016), nama perusahaan-perusahaan yang tenar bagi pembaca Indonesia ada dalam arsip Panama Papers. Mereka dibagi menjadi tiga kategori. Pertama adalah 17 perusahaan masuk jenis Officers & Master Clients, artinya korporasi itu memakai identitas yang jelas lalu menanamkan asetnya di negara-negara tax haven. Ada dua perusahaan Tbk di dalamnya, serta beberapa anak usaha perbankan multinasional yang cukup kondang.
Kategori kedua adalah Offshore Entities menginduk pada korporasi asal Indonesia, jumlahnya 41 unit. Nama-nama perusahaan 'cangkang' ini, karena dari sisi aset sulit dilacak siapa pemiliknya, memakai nama-nama yang kurang familiar bagi publik di Tanah Air.
Kategori ketiga adalah data yang menunjukkan perusahaan terdaftar menanamkan modal di negara-negara tax haven, melalui bantuan Mossack Fonseca. Jumlahnya mencapai 2.190 alamat usaha. Ada yang berkantor di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan.
Masuk dalam tiga kategori itu tidak otomatis menyatakan sebuah perusahaan atau perorangan melanggar hukum. Namun, setidaknya data ini membuktikan eksistensi perusahaan asal Indonesia yang pernah menanamkan uangnya ke wilayah dengan kebijakan pajak sangat minimal.
Memiliki perusahaan offshore atau perusahaan cangkang (shell company) memang tidak ilegal. Namun tim jurnalis yang tergabung dalam ICIJ menyatakan, mereka bisa memberikan bukti keberadaan harta tersembunyi para tokoh dan konglomerat dunia yang patut diduga atau diindikasikan sarat pengemplangan pajak, pencucian uang, serta tindak pidana lainnya.
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pernah menyatakan ada sekitar Rp 11.000 triliun aset milik orang Indonesia yang disimpan di luar negeri. Perlu diselidiki lebih lanjut, apakah aset-aset tersebut sebagian dikelola melalui firma Mossack Fonseca. Wacana Undang-Undang Tax Amnesty (Pengampunan Pajak) digulirkan agar dana-dana tersebut bisa kembali ke Indonesia.
Dokumen Panama Papers yang memuat daftar perusahaan dan nama-nama pemimpin dunia, politisi, konglomerat, atlet dan selebritis dunia yang pernah menjadi klien Mossack Fonseca untuk menyembunyikan uang mereka agar terhindar kewajiban pajak di negaranya. Ini membuktikan bahwa mereka sebenarnya orang-orang "pelit" yang tak mau menunaikan kewajibannya dan tak mau berbagi dengan sesama. ***
Penulis adalah pemerhati masalah sosial-kemasyarakatan
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal