Opini
Terapi Politik bagi Politisi
Oleh: Mohammad Sholihul Wafi
Minggu, 28 Agu 2016 10:18
Salah satu filsuf terkemuka, Thomas Hobbes mendefinisikan politik sebagai perjuangan etis kenegaraan dan berbangsa, ditempuh dengan menghindari konflik yang manusia ciptakan satu sama lain, suatu usaha untuk mengubah perang menjadi damai, persaingan menjadi persetujuan dan perebutan menjadi pembagian yang merata. Bahkan, Aristoteles menyebutnya sebagai seni tertinggi untuk mewujudkan kebaikan bersama (common and highest good) bagi sebuah negara. Karenanya, dalam literatur Yunani kuno mereka diharapkan bersih moralnya, memiliki kompetensi, bertanggungjawab dan dicintai oleh rakyatnya.
Hanya saja, wajah politik yang kadang-kadang sungguh memuakkan, kerap hanya bernuansa perkeruhan suasana yang menggetirkan. Kita kerap kali harus mengelus dada setelah melihat fakta para politisi negeri ini jauh dari ekspektasi diatas. Panggung politik yang pada dasarnya begitu indah dan mulia, kini berubah menjadi panggung gladiator. Siapa yang 'kuat', dialah yang berkuasa.
Demi sebuah kemenangan dan kemegahan, mereka berpegang pada ajaran seorang ahli politik naturalis Nicolla Machiavelli, yaitu het doel heiling de middelen. Artinya, apa saja boleh dan halal dikerjakan seseorang, asalkan kepentingan (politik, kekuasaan atau jabatan dan ekonomi) yang berpengaruh pada diri, ambisi dan siapa saja yang menguntungkannya dapat terpenuhi.Tujuan politik pun akhirnya semakin jauh dari kesejatiannya.
Gangguan Jiwa
Kondisi politik Indonesia yang buruk dan memalukan itu sesungguhnya karena para politisi dan elite politik banyak yang sedang dilanda gangguan jiwa. Sehingga, politik berjalan secara abnormal dan keluar dari jalur rel kebaikan untuk kesejahteraan rakyat, kemaslahatan hidup bersama dan keagungan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, para politisi Indonesia kini sedang dilanda gangguan jiwa, sehingga tidak sanggup mengerjakan politik secara jernih, cerdas, sehat, dan beretika. Politik yang hakikatnya suci, indah, dan terhormat, sebagaimana ditegaskan Aristoteles dan Hobbes, karena sebagai wahana membangun masyarakat utama yang baik dan berkesejahteraan, dinodai dan dikotori perilaku para politisi. Akibatnya, politik Indonesia menjadi kian kotor dan bahkan rakyat kini banyak yang menghindari dan memusuhinya.
Gangguan jiwa yang melanda para politisi ini, dapat kita lihat dari kinerja politik mereka yang hanya berorientasi pada materi dan kekuasaan semata. Tak heran, kerja politik mereka selalu dilandaskan perasaan nafsu, ambisi, dan syahwat kekuasaan yang menggebu-gebu. Ironisnya, kinerja mereka sama sekali tidakdilandaskan untuk berbakti kepada rakyat secara menyeluruh. Ia hanya bekerja untuk pemenuhan kepentingan diri dan kelompok. Tak heran, mereka tidak tahu lagi untuk apa mereka berpolitik, apa motivasi suci dalam berpolitik, dan apa panggilan jiwanya yang semestinya dalam berpolitik.
Padahal, sebelumnya mereka berkampanye tentang kerja politik mereka yang hanya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, kemaslahatan bersama dan kebesaran bangsa. Jangan-jangan, banyak politikus kita benar-benar sudah dilanda gangguan jiwa yang akut, mengingat banyak di antaranya yang sudah sekian tahun berpolitik, tetapi belum juga mengubah dan membawa politik menjadi lebih baik. Secara sederhana, gangguan jiwa yang dialami oleh para politisi itu disebabkan kekurangmatangan dalam berpolitik. Itulah yang membuat para politisi sulit mengendalikan emosi dalam berpikiran, bersikap, dan bertingkah laku dalam berpolitik.
Perlu Terapi
Gangguan jiwa yang dialami para politisi tentunya harus segera diakhiri. Sebab, apabila masih berlanjut, mau dibawa kemana nasib bangsa ini?. Artinya, para politisi kita yang terserang gangguan jiwa, harus segera menjalankan terapi untuk mendapatkan kesembuhan atau kesehatan mental yang baik, supaya dapat menjalankan politik secara cerdas dan beretika.
Penyembuhan gangguan jiwa dalam berpolitik ini, oleh Sigmund Freud, dikatakan sangat diperlukan untuk menciptakan progresif demi masa depan bersama yang lebih baik dan bermutu. Dalam ilmu psikologi politik, ini dapat ditempuh dengan cara menformat ulang perilaku para politisi. Dan ini, dapat dilakukan melalui rangkaian terapi politik yang dapat membangun mental politik yang progresif.
Nah, dengan mental politisi yang baru dan sudah tersembuhkan dari segala gangguan jiwa politik, barulah para politisi akan sanggup merevitalisasi wajah dan sosok politik nasional menjadi lebih mulia, suci, agung, dan terhormat. Kehidupan politik yang kotor dan abnormal dapat dibuat normal dan membaik. Inilah hal yang telah lama kita harapkan. Apabila terlaksana secara berkelanjutan, misi suci politik yang diamanahkan kepada para politisi-pun akan segera tersampaikan. Wallahu a'lam.***
Penulis adalah Pemerhati Politik, Pegiat Forum Penulis Muda Jogja
sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Kabur ke Batam, Polres Inhu Kembali Ringkus Pelaku Penganiayaan di PT. SBP
INHU- Upaya pelarian hingga menyeberang ke luar daerah tak mampu menghentikan langkah aparat kepolisian dalam memburu pelaku tindak pidana penganiayaan yang terjadi di kawasan perkebunan PT Sinas Beli
Nobar Piala Dunia dan Makan Bersama, Koramil 1710-02/Timika Perkuat Kemanunggalan TNI-Rakyat
Mimika-Koramil 1710-02/Timika menggelar kegiatan nonton bareng (nobar) pertandingan Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Aula Makoramil 1710-02/Timika, Jalan Yos Sudarso, Kabupaten Mimika, Minggu (14/
ANKER Soundcore Luncurkan TWS Berbasis AI Liberty 5 Pro Series, Cek Fitur dan Harganya
JAKARTA â€" Brand audio terkemuka, ANKER soundcore, resmi merilis true wireless earbuds (TWS) premium generasi terbarunya, ANKER soundcore Liberty 5 Pro Series, di pasar Indonesia. Mengusung kons
Xiaomi Pamerkan Lengan Robotik Pengisi Daya Otomatis untuk Mobil Listrik
JAKARTA â€" Xiaomi mendemonstrasikan lengan robot yang dapat mengotomatisasikan pengisian daya mobil listrik di rumah. Perangkat ini ditujukan untuk para pemilik mobil listrik (EV) yang tidak suk
Ngeri! Wanita 21 Tahun Tewas Gegara Staf Lupa Pasang Tali Pengaman saat Bermain Ayunan Jembatan Ekstrem
JAKARTA - Sebuah insiden tragis terjadi di Brasil ketika seorang perempuan berusia 21 tahun meninggal dunia setelah terjatuh dari wahana ayunan ekstrem. Dia jatuh akibat tidak terpasangnya tali p