Selasa, 04 Agu 2026

Opini

Terapi Politik bagi Politisi

Oleh: Mohammad Sholihul Wafi
Minggu, 28 Agu 2016 10:18
Internet
Ilustrasi
Dalam negara demokrasi, keha­diran partai politik memang menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri. Pre­siden pertama Indonesia Bung Karno da­lam bukunya berjudul Menggapai In­done­sia Merdeka pernah me­nu­lis­kan, "par­tailah yang memegang obor, par­tailah yang berjalan di muka, par­tailah yang menyuluhi jalan yang gelap dan penuh dengan ranjau-ran­jau sehingga menjadi jalan terang". Na­mun, perlu diingat bahwa tanpa kader atau politisi partai tentu tidak bisa bergerak dan merealisasikan mi­sinya. Nah, sejatinya politisi adalah orang yang menjaga keteraturan dan keindahan (polis), sehingga perilaku po­litisi harus selalu santun (polite).

Salah satu filsuf terkemuka, Tho­mas Hobbes mendefinisi­kan politik se­bagai perjuangan etis kenegaraan dan berbang­sa, ditempuh dengan menghindari konflik yang manusia ciptakan satu sama lain, suatu usaha untuk mengubah perang menjadi damai, persaingan menjadi persetuju­an dan perebut­an menjadi pembagian yang merata. Bahkan, Aristoteles me­nyebutnya sebagai seni tertinggi untuk me­wujudkan ke­baikan bersama (com­mon and highest good) bagi sebuah ne­gara. Karenanya, dalam literatur Yu­nani kuno mereka diha­rapkan ber­sih moralnya, memiliki kompe­tensi, ber­­tanggungjawab dan dicintai oleh rakyatnya.

Hanya saja, wajah politik yang ka­dang-kadang sungguh me­muakkan, ke­rap hanya bernuansa perkeruhan sua­sana yang menggetirkan. Kita ke­rap kali harus mengelus dada setelah me­lihat fakta para politisi negeri ini jauh dari eks­pektasi diatas. Panggung po­litik yang pada dasarnya begitu indah dan mulia, kini beru­bah menjadi panggung gladiator. Siapa yang 'kuat', dialah yang berkuasa.

Demi sebuah kemenangan dan ke­megahan, mereka berpegang pada aja­ran seorang ahli politik naturalis Ni­colla Machiavelli, yaitu het doel hei­ling de middelen. Artinya, apa saja bo­leh dan halal dikerjakan seseorang, asal­kan kepen­tingan (politik, kekua­sa­an atau jabatan dan ekonomi) yang ber­pengaruh pada diri, ambisi dan sia­pa saja yang menguntungkannya dapat terpenuhi.Tujuan politik pun akhir­nya semakin jauh dari kesejatian­nya.

Gangguan Jiwa

Kondisi politik Indonesia yang buruk dan memalukan itu sesungguh­nya karena para politisi dan elite politik banyak yang sedang dilanda gangguan jiwa. Sehingga, politik ber­jalan secara abnormal dan  keluar dari jalur rel kebaikan untuk kesejahteraan rakyat, kemaslahatan hidup bersama dan keagungan berbangsa dan berne­gara. Dengan kata lain, para politisi Indonesia kini sedang dilanda gang­guan jiwa, sehingga tidak sanggup me­ngerjakan politik secara jernih, cer­das, sehat, dan beretika. Politik yang hakikatnya suci, indah, dan terhormat, se­bagaimana ditegaskan Aristoteles dan Hobbes, karena sebagai wahana mem­bangun masyarakat utama yang baik dan berkesejahteraan, dinodai dan dikotori perilaku para politisi. Aki­­batnya, politik Indonesia menjadi kian kotor dan bahkan rakyat kini ba­nyak yang menghindari dan me­mu­suhi­nya.

Gangguan jiwa yang melanda para po­litisi ini, dapat kita lihat dari kinerja po­litik mereka yang hanya ber­orientasi pada materi dan kekuasaan se­mata. Tak heran, kerja politik me­reka selalu dilandaskan perasaan naf­su, ambisi, dan syahwat kekuasaan yang menggebu-gebu. Ironisnya, ki­ne­r­­ja mereka sama sekali tidak­di­lan­das­kan  untuk berbakti kepada rakyat se­cara menyeluruh. Ia hanya bekerja untuk peme­nuhan kepentingan diri dan kelompok. Tak heran, mereka tidak tahu lagi untuk apa mereka ber­po­litik, apa motivasi suci dalam ber­po­litik, dan apa panggilan jiwanya yang se­mes­tinya dalam berpolitik.

Padahal, sebelumnya mereka berkampanye tentang kerja politik mereka yang hanya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, kemas­la­hatan bersama dan kebesaran bangsa. Ja­ngan-jangan, banyak politikus kita benar-benar sudah dilanda gang­guan jiwa yang akut, mengingat banyak di antaranya yang sudah sekian tahun berpolitik, tetapi belum juga mengu­bah dan membawa politik menjadi lebih baik. Secara sederhana, gang­guan jiwa yang dialami oleh para po­litisi itu disebabkan keku­rang­ma­ta­ngan dalam berpolitik. Itulah yang mem­buat para politisi sulit mengen­da­likan emosi dalam berpikiran, ber­si­kap, dan bertingkah laku dalam ber­politik.

Perlu Terapi

Gangguan jiwa yang dialami para politisi tentunya harus segera diakhiri. Sebab, apabila masih berlanjut, mau dibawa kemana nasib bangsa ini?. Artinya, para politisi kita yang ter­se­rang gangguan jiwa, harus segera men­jalankan terapi untuk mendapat­kan kesembuhan atau kesehatan men­tal yang baik, supaya dapat men­ja­lan­kan politik secara cerdas dan beretika.

Penyembuhan gangguan jiwa dalam berpolitik ini, oleh Sigmund Freud, dikatakan sangat diperlukan untuk men­ciptakan progresif demi masa depan bersama yang lebih baik dan bermutu. Dalam ilmu psikologi po­litik, ini dapat ditempuh dengan cara menformat ulang perilaku para po­litisi. Dan ini, dapat dilakukan me­lalui rangkaian terapi politik yang da­pat membangun mental politik yang pro­gresif.

Nah, dengan mental politisi yang baru dan sudah ter­sembuhkan dari segala gangguan jiwa politik, barulah para politisi akan sanggup mere­vi­ta­lisasi wajah dan sosok politik nasional men­jadi lebih mulia, suci, agung, dan ter­hormat. Kehidupan politik yang ko­tor dan abnormal dapat dibuat normal dan membaik. Inilah hal yang telah lama kita harap­kan. Apabila terlak­sana secara berkelanjutan, misi suci po­litik yang diamanahkan kepada para po­litisi-pun akan segera tersampaikan. Wallahu a'lam.***

Penulis adalah Pemerhati Politik, Pegiat Forum Penulis Muda Jogja

sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 04 Agu 2026 16:49

    Jawab Isu Status BI, Menkeu Sebut Perubahan Sistem Kurang Tepat

    JAKARTA - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa angkat bicara merespons isu yang menyebutkan Bank Indonesia (BI) akan masuk di bawah naungan Kementerian Keuangan (Kemenkeu). Ia memastikan wacana ters

  • Selasa, 04 Agu 2026 16:14

    Gelar Sesepuh Raja-raja Timor Pada Jokowi Ditolak Banyak Pihak, PSI Klaim Sudah Korum

    Kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dedy Nur Palakka, memberikan respons terhadap polemik yang muncul usai mantan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menerima gelar adat sebagai Sesepuh Raja-Raja T

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:37

    Pria di Minas Ditemukan Tewas di Semak Dekat Kebun Sawit, Dilaporkan Hilang 6 Hari Lalu

    SIAK-Dilaporkan hilang, seorang pria ditemukan meninggal dunia setelah enam hari di semak belukar dekat kebun sawit warga di Kampung Minas Barat, Kecamatan Minas, Kabupaten Siak. Korban diketahui

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:21

    Pasar Murah Pemprov Riau Hari Ini di Rumbai Barat, Ada Beras hingga Minyakita Harga Terjangkau

    PEKANBARU-Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau kembali menggelar pasar murah di Kota Pekanbaru pada Selasa (4/8/2026).Kali ini, kegiatan dipusatkan di halaman Kantor Camat Rumbai Barat sebagai upaya mem

  • Selasa, 04 Agu 2026 15:20

    Kujungi Pekanbaru, Wamenkes Sebut Kesehatan Masyarakat Tak Bisa Hanya Mengandalkan Rumah Sakit

    PEKANBARU - Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan rumah sakit, dokter, maupun pelayanan medis. Upaya tersebut juga harus dibarengi dengan peningkatan kesejahtera

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

    slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki