Rabu, 29 Apr 2026

Opini

Terapi Politik bagi Politisi

Oleh: Mohammad Sholihul Wafi
Minggu, 28 Agu 2016 10:18
Internet
Ilustrasi
Dalam negara demokrasi, keha­diran partai politik memang menjadi hal yang tidak dapat dipungkiri. Pre­siden pertama Indonesia Bung Karno da­lam bukunya berjudul Menggapai In­done­sia Merdeka pernah me­nu­lis­kan, "par­tailah yang memegang obor, par­tailah yang berjalan di muka, par­tailah yang menyuluhi jalan yang gelap dan penuh dengan ranjau-ran­jau sehingga menjadi jalan terang". Na­mun, perlu diingat bahwa tanpa kader atau politisi partai tentu tidak bisa bergerak dan merealisasikan mi­sinya. Nah, sejatinya politisi adalah orang yang menjaga keteraturan dan keindahan (polis), sehingga perilaku po­litisi harus selalu santun (polite).

Salah satu filsuf terkemuka, Tho­mas Hobbes mendefinisi­kan politik se­bagai perjuangan etis kenegaraan dan berbang­sa, ditempuh dengan menghindari konflik yang manusia ciptakan satu sama lain, suatu usaha untuk mengubah perang menjadi damai, persaingan menjadi persetuju­an dan perebut­an menjadi pembagian yang merata. Bahkan, Aristoteles me­nyebutnya sebagai seni tertinggi untuk me­wujudkan ke­baikan bersama (com­mon and highest good) bagi sebuah ne­gara. Karenanya, dalam literatur Yu­nani kuno mereka diha­rapkan ber­sih moralnya, memiliki kompe­tensi, ber­­tanggungjawab dan dicintai oleh rakyatnya.

Hanya saja, wajah politik yang ka­dang-kadang sungguh me­muakkan, ke­rap hanya bernuansa perkeruhan sua­sana yang menggetirkan. Kita ke­rap kali harus mengelus dada setelah me­lihat fakta para politisi negeri ini jauh dari eks­pektasi diatas. Panggung po­litik yang pada dasarnya begitu indah dan mulia, kini beru­bah menjadi panggung gladiator. Siapa yang 'kuat', dialah yang berkuasa.

Demi sebuah kemenangan dan ke­megahan, mereka berpegang pada aja­ran seorang ahli politik naturalis Ni­colla Machiavelli, yaitu het doel hei­ling de middelen. Artinya, apa saja bo­leh dan halal dikerjakan seseorang, asal­kan kepen­tingan (politik, kekua­sa­an atau jabatan dan ekonomi) yang ber­pengaruh pada diri, ambisi dan sia­pa saja yang menguntungkannya dapat terpenuhi.Tujuan politik pun akhir­nya semakin jauh dari kesejatian­nya.

Gangguan Jiwa

Kondisi politik Indonesia yang buruk dan memalukan itu sesungguh­nya karena para politisi dan elite politik banyak yang sedang dilanda gangguan jiwa. Sehingga, politik ber­jalan secara abnormal dan  keluar dari jalur rel kebaikan untuk kesejahteraan rakyat, kemaslahatan hidup bersama dan keagungan berbangsa dan berne­gara. Dengan kata lain, para politisi Indonesia kini sedang dilanda gang­guan jiwa, sehingga tidak sanggup me­ngerjakan politik secara jernih, cer­das, sehat, dan beretika. Politik yang hakikatnya suci, indah, dan terhormat, se­bagaimana ditegaskan Aristoteles dan Hobbes, karena sebagai wahana mem­bangun masyarakat utama yang baik dan berkesejahteraan, dinodai dan dikotori perilaku para politisi. Aki­­batnya, politik Indonesia menjadi kian kotor dan bahkan rakyat kini ba­nyak yang menghindari dan me­mu­suhi­nya.

Gangguan jiwa yang melanda para po­litisi ini, dapat kita lihat dari kinerja po­litik mereka yang hanya ber­orientasi pada materi dan kekuasaan se­mata. Tak heran, kerja politik me­reka selalu dilandaskan perasaan naf­su, ambisi, dan syahwat kekuasaan yang menggebu-gebu. Ironisnya, ki­ne­r­­ja mereka sama sekali tidak­di­lan­das­kan  untuk berbakti kepada rakyat se­cara menyeluruh. Ia hanya bekerja untuk peme­nuhan kepentingan diri dan kelompok. Tak heran, mereka tidak tahu lagi untuk apa mereka ber­po­litik, apa motivasi suci dalam ber­po­litik, dan apa panggilan jiwanya yang se­mes­tinya dalam berpolitik.

Padahal, sebelumnya mereka berkampanye tentang kerja politik mereka yang hanya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat, kemas­la­hatan bersama dan kebesaran bangsa. Ja­ngan-jangan, banyak politikus kita benar-benar sudah dilanda gang­guan jiwa yang akut, mengingat banyak di antaranya yang sudah sekian tahun berpolitik, tetapi belum juga mengu­bah dan membawa politik menjadi lebih baik. Secara sederhana, gang­guan jiwa yang dialami oleh para po­litisi itu disebabkan keku­rang­ma­ta­ngan dalam berpolitik. Itulah yang mem­buat para politisi sulit mengen­da­likan emosi dalam berpikiran, ber­si­kap, dan bertingkah laku dalam ber­politik.

Perlu Terapi

Gangguan jiwa yang dialami para politisi tentunya harus segera diakhiri. Sebab, apabila masih berlanjut, mau dibawa kemana nasib bangsa ini?. Artinya, para politisi kita yang ter­se­rang gangguan jiwa, harus segera men­jalankan terapi untuk mendapat­kan kesembuhan atau kesehatan men­tal yang baik, supaya dapat men­ja­lan­kan politik secara cerdas dan beretika.

Penyembuhan gangguan jiwa dalam berpolitik ini, oleh Sigmund Freud, dikatakan sangat diperlukan untuk men­ciptakan progresif demi masa depan bersama yang lebih baik dan bermutu. Dalam ilmu psikologi po­litik, ini dapat ditempuh dengan cara menformat ulang perilaku para po­litisi. Dan ini, dapat dilakukan me­lalui rangkaian terapi politik yang da­pat membangun mental politik yang pro­gresif.

Nah, dengan mental politisi yang baru dan sudah ter­sembuhkan dari segala gangguan jiwa politik, barulah para politisi akan sanggup mere­vi­ta­lisasi wajah dan sosok politik nasional men­jadi lebih mulia, suci, agung, dan ter­hormat. Kehidupan politik yang ko­tor dan abnormal dapat dibuat normal dan membaik. Inilah hal yang telah lama kita harap­kan. Apabila terlak­sana secara berkelanjutan, misi suci po­litik yang diamanahkan kepada para po­litisi-pun akan segera tersampaikan. Wallahu a'lam.***

Penulis adalah Pemerhati Politik, Pegiat Forum Penulis Muda Jogja

sumber:harian.analisadaily.com
Opini
Berita Terkait
  • Rabu, 29 Apr 2026 12:59

    Perjalanan KRL Dibatasi Sampai Stasiun Bekasi Pasca-Kecelakaan

    JAKARTA - Proses pemulihan jalur kereta di lintas Bekasiâ€"Cikarang masih terus dilakukan usai terjadinya tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL yang terjadi pada Senin, 27 April 2026.

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:57

    Korban Meninggal Kecelakaan Kereta di Bekasi Bertambah Jadi 16 Orang

    JAKARTA - Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebutkan korban meninggal dunia akibat kecelakaan KRL dengan KA Argo Bromo Anggrek jarak jauh di Bekasi Timur bertambah menjadi 16 o

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:38

    Penerima Bansos Gabung Kopdes Merah Putih Bebas Iuran

    JAKARTA - Penerima bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Sembako bergabung dalam Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hal ini dilakukan setelah Kementerian Sosial (Ke

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:29

    Setoran Pajak Digital RI Capai RP50,51 Triliun di Kuartal I-2026

    JAKARTA - Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan dari sektor usaha ekonomi digital sebesar Rp50,51 triliun di kuartal pertama (Q1) 2026 hingga 31 Maret 2026

  • Rabu, 29 Apr 2026 12:27

    Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Senilai Rp116 Triliun, Prabowo: Bersejarah dan Sangat Membanggakan

    JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi nasional tahap II senilai Rp116 triliun di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026). Prabowo menegaskan bahwa peresmian

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.