Rabu, 08 Jul 2026
  • Home
  • Opini
  • Tinggalkan Jabatan Biro TEMPO Demi Riau, Rida K Liamsi Pilih Bangkitkan Koran Mati

Tinggalkan Jabatan Biro TEMPO Demi Riau, Rida K Liamsi Pilih Bangkitkan Koran Mati

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Rabu, 08 Jul 2026 08:50
GEMERLAP ibu kota dan bergengsinya emblem sebagai koresponden majalah nasional rupanya tidak pernah benar-benar memuaskan dahaga seorang Rida K Liamsi. Di saat karirnya sedang meroket bersama Majalah Berita Mingguan TEMPO, ia justru memilih jalan terjal yang nyaris merenggut nyawanya demi membangun peradaban pers di tanah kelahirannya sendiri.

Memasuki awal era 1980-an, reputasi Rida sebagai koresponden daerah TEMPO sangat diperhitungkan. Ia sering dikirim untuk menembus liputan investigasi internasional berisiko tinggi. Mulai dari membongkar jalur penyelundupan di Singapura, menelusuri penderitaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) gelap di perbatasan Malaysia, hingga merekam dinamika budaya di Thailand Selatan. Ketajamannya dalam menulis laporan utama membuatnya bersaing ketat dengan rekannya, Dahlan Iskan yang kala itu memegang kendali biro Jawa Timur.


Prestasi cemerlang ini membuahkan hasil. Tahun 1981, Koordinator Liputan TEMPO, Yusril Jalinus memanggilnya dan menawarkan promosi jabatan sebagai Kepala Biro TEMPO di Bandung. Ini adalah posisi impian bagi banyak wartawan daerah. Sayangnya, realitas keluarga menghalangi ambisi tersebut. Istrinya yang masih berstatus sebagai guru SD negeri kesulitan memproses mutasi tugas antar provinsi. Demi menghindari perpisahan keluarga yang bisa memakan waktu tahunan, Rida terpaksa menelan kekecewaan dan menolak tawaran emas tersebut.

Tamparan Kesuksesan Dahlan Iskan
Rasa frustasi yang terpendam itu perlahan berubah menjadi bahan bakar saat ia mengikuti studi banding bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau ke Surabaya, Maret 1983. Di sanalah Rida terkesima melihat sebuah revolusi media.


Jawa Pos, sebuah koran tua yang nyaris bangkrut, berhasil disulap menjadi media paling modern dan agresif di Jawa Timur. Lebih mengejutkan lagi, sosok di balik kebangkitan raksasa cetak itu adalah Dahlan Iskan, mantan rivalnya sesama koresponden TEMPO. Kesuksesan luar biasa Dahlan memicu pergolakan batin yang sangat hebat dalam diri Rida."Kenapa koran Genta yang ada di sana itu, hampir-hampir mati dan sudah hampir setahun tidak terbit lagi?" batinnya berkecamuk tajam, meratapi kondisi memprihatinkan industri pers di Riau.

Sepulang dari lawatan ke Jawa Timur, ia mengambil langkah nekat. Rida langsung menemui Pemimpin Umum Genta, Tabrani Rab dan mengajukan penawaran berisiko. Ia meminta wewenang penuh secara absolut untuk merombak redaksi Genta, sekaligus menuntut kompensasi finansial yang setara dengan seluruh total gajinya di TEMPO. Tabrani yang melihat nyala api idealisme itu langsung menyetujui dan menjanjikan kebebasan operasional penuh.

Tanpa membuang waktu, Rida mengirimkan surat pengunduran diri ke manajemen TEMPO di Jakarta. Keputusan radikal ini sontak mengejutkan banyak pihak, termasuk istrinya yang langsung meluapkan kekecewaan karena ia dianggap membuang sumber penghasilan tetap keluarga demi sebuah koran lokal yang sudah sekarat.Berdarah-darah Melawan Penguasa
Ekspektasi sering kali berbenturan keras dengan realitas. Mengelola redaksi koran daerah terbukti jauh lebih mengerikan daripada menjadi koresponden nasional. Rida harus menjalankan roda operasional hanya dari sebuah kamar sempit nomor 17 di Hotel Dharma Utama, Jalan Sisingamangaraja, Pekanbaru. Keuangan perusahaan sangat berantakan, memaksa para wartawan bekerja siang malam tanpa kepastian honorarium.

Namun, di tengah keterbatasan itu, Rida berhasil menyuntikkan ruh jurnalisme yang ganas ke dalam nadi Genta. Ia mengubah haluan media tersebut menjadi pilar oposisi yang secara terang-terangan menyerang berbagai kebijakan kontroversial Gubernur Riau, Imam Munandar. Rida menjadikan medianya sebagai “anjing penjaga” (watchdog) sejati yang menyuarakan ketidakadilan pembangunan di daerah.


Keberanian ini mengundang badai. Kemarahan pemerintah daerah meledak. Gubernur Riau, Imam Munandar sampai berteriak memanggil Pemimpin Redaksi Genta, Zuhdi SH, dan menuntut agar Rida K Liamsi segera dipecat dari meja redaksi. Tekanan politik yang sistematis mulai membelit perusahaan dari berbagai penjuru.

Beban psikologis yang ekstrem, teror politik, ditambah pola makan dan istirahat yang hancur total, akhirnya meruntuhkan pertahanan fisik sang idealis. Rida tumbang di tengah malam. Paru-parunya didiagnosis mengalami pendarahan hebat. Ia muntah darah dan dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi kritis, nyaris menjemput ajal.Di masa paling genting itu, solidaritas jurnalisme bersinar. Tabrani Rab yang juga seorang dokter turun tangan langsung menangani perawatannya. Mengharukan, seorang wartawan senior bertubuh kurus bernama Nurbahrij Yoesoef nekat mempertaruhkan kesehatannya sendiri demi menyumbangkan darah untuk menyambung nyawa Rida.

Setelah dua pekan dirawat intensif, Rida berhasil menghindari maut. Namun, harga dirinya sebagai jurnalis kembali dicabik saat ia mendapati manajemen yayasan mulai mencampuri urusan redaksional dan menghapus rubrik andalannya secara sepihak untuk meredam kemarahan penguasa. Merasa independensinya dilecehkan, Rida memilih mundur secara ksatria setelah satu setengah tahun bertarung.

Kekalahan di Genta tidak memadamkan apinya. Ia bergabung dengan Suara Karya, membuktikan ketajamannya dengan memproduksi berita tanpa henti, yang kelak membawanya kembali bersinggungan dengan takdir besarnya di Surabaya, bersiap melahirkan sebuah imperium yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. ***

Jejak Langkah Sebelumnya:

* Kisah Rida K Liamsi Tinggalkan Profesi Guru Hingga Jadi Pendiri ‘Raksasa’ Media Sumatera

Jejak Langkah Berikutnya:

* Ayo Kita Bikin Koran di Riau, Tantangan Gila Dahlan Iskan Ubah Nasib Rida K Liamsi

* Filosofi Kayu Penyangga Layar, Rahasia Rida K Liamsi Bangun Anugerah Sagang

* Ironi Mantan Guru SD Pendiri Riau Pos yang Kini Dipaksa Tersingkir(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/tinggalkan-jabatan-biro-tempo-demi-riau-rida-k-liamsi-pilih-bangkitkan-koran-mati.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor