dok.spiritriau.com
Tampak tumpukan sampah di area jalan Jenderal Sudirman Bagan Batu Kota Kecamatan Bagan Sinembah.
4 Januari 2017 usia kecamatan Bagan Sinembah bertambah menjadi 21 tahun. Namun semakin bertambah tuanya usia kecamatan ternyata justru semakin "jelek" penataan dan perhatian dari pemerintah kecamatan.
Hal ini terbukti dengan sejak 3 Januari lalu pihak petugas kebersihan pengangkut sampah sudah tidak bekerja lagi. Akibatnya, wajah kota Bagan Batu mulai dari depan pertokoan sampai ke Pajak dan bahkan depan kantor pemerintahan secara perlahan mulai berubah dengan tumpukkan sampah.
Bahkan menurut warga masyarakat, bahwa menumpuknya sampah tersebut menjadi kado terindah bagi kecamatan yang berisikan dengan Kota Sawit.
" Ini adalah merupakan kado istimewa yang diberikan oleh pemerintah bagi seluruh warga masyarakat kecamatan Bagan Sinembah. Karena pada bulan ini tepatnya pada 4 Januari kecamatan kita berulang tahun, " ujar Sisu salah seorang warga masyarakat kepada penulis.
Artinya, masih katanya lagi hal ini disebabkan tidak adanya upaya yang dilakukan oleh pemerintah kecamatan. " Ini jelas tergambar bahwa pemerintah, mulai dari tingkat kelurahan sampai kecamatan memang telah melakukan pembiaran terhadap menumpuknya sampah-sampah tersebut, " tegasnya kembali.
Kebersihan pun sering salah kaprah, hingga tak mengherankan jika pengelolaan sampah selalu menuai masalah. Ulah tak ada petugas pengangkut sampah, warga pun membuncah dan akhirnya sampah-sampah pun ditumpuk kesatu wadah dan menimbulkan penyakit dan bau busuk yang membawa musibah. Lantas siapa yang salah, masyarakat atau pemerintah?
Buanglah sampah pada tempatnya, slogan itu tampaknya hanya menjadi nasehat picisan yang tidak begitu diindahkan oleh sebagian masyarakat kota Bagan Batu, kecamatan Bagan Sinembah.
Meski sudah ada larangan untuk tidak membuang sampah disembarang tempat, nyatanya masih mudah kita jumpai tempat pembuangan sampah dadakan yang tidak memiliki system pembuangan yang jelas.
Alhasil, sampah yang ditumpuk tersebut harus membusuk sendiri tanpa diolah. Masyarakat pun dihantui oleh ancaman penyakit dan bau busuk sampah yang cukup menyiksa indera penciuman.
Terkadang bau busuk tumpukan sampah itu pun bercampur dengan amisnya limbah ikan. Jika diamati lebih seksama, sampah-sampah masih ditemui di sudut-sudut kota.
Bahkan masih ada warga masyarakat terutama pengguna jalan yang membuang sampah sembarangan dari kendaraan mereka. Bahkan tak hanya ancaman penyakit, warga juga dihantui oleh ancaman banjir yang disebabkan oleh penyumbatan saluran drainase akibat membuang sampah sembarangan.
Sebab jika air drainase naik akibat hujan terus, sampah yang tertumpuk di saluran air tersebut langsung menggenang disekitar rumah warga. Lebih parahnya lagi, jumlah sampah yang ada bukan malah berkurang namun dari hari ke hari sampah yang ada semakin banyak dan tertumpuk.
Alhasil, bau busuk pun timbul di sepanjang jalan yang dilalui. "Sangat mengganggu kami, baunya yang tak sedap bikin seisi rumah tak nafsu makan. Selain itu, kasihan juga anak-anak yang rentan sakit karena daerah tempat mereka tinggal dan bermain sudah sa-ngat kotor," ungkap Gino warga Bagan Batu.
Dijelaskannya, warga memang menumpuk sampah di lahan kosong yang ada disekitaran Pajak dan juga depan pertokoan karena memang biasanya ada truk sampah yang mengangkut sampah-sampah rumah tangga. Namun sejak beberapa hari belakangan truk sampah sudah menghentikan aktivitasnya. Sehingga sampah menjadi menumpuk.
Kebiasaan buruk membuang sampah sembarangan. Kepedulian untuk menjaga lingkungan dengan baik tampaknya masih minim. Begitu pula dengan peranan dinas kebersihan dan tukang sampah yang tidak serius melakukan pengelolaan sampah.
Jika menginginkan masyarakat aktif menjaga kebersihan tentunya instansi terkait perlu menyokong dengan mejalankan tugasnya sesuai prosedur. Kesadaran menjaga kebersihan tak hanya bisa ditumpukan pada masyarakat semata, pemerintah bisa menggunakan fasilitas publik yang dimiliki untuk menyokong program kebersihan di kecamatan Bagan Sinembah. Tak cukup dengan hanya menyediakan tong sampah tapi juga mengawasi jalannya pengelolaan sampah.
Sementara itu Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas Kebersihan Pasar dan Pertamanan (UPT DKPP) kecamatan Bagan Sinembah, H Zulkifli Spd kepada para wartawann menjelaskan bahwa kendala biaya operasional untuk mengangkut sampah itu disebabkan adanya penghapusan dinas yang mengelolanya selama ini, yakni DKPP.
" Biaya operasional tidak ada, biasanya, untuk tiga unit mobil angkut sampah satu hari bisa menghabiskan 600 ribu untuk minyak saja, nah biaya itu yang tidak ada, sehingga sejak 3 Januari kemarin tidak ada aktifitas pengangkutan sampah," jelasnya.
Dijelaskannya lagi, saat ini, tugas yang selama ini dikerjakan oleh Dinas Kebersihan Pasar dan Pertamanan dibagi kepada tiga dinas. Untuk sampah kedepan diurusi Bapedalda, untuk Pasar dikelola oleh Disperindag dan pengelolaan Taman dikelola dinas Cipta Karya.
" Jadi kita masih menunggu pelantikan setelah perombakan ini, kalau sudah pelantikan, kita tau bagaimana sistem pengelolaannya nanti," terangnya.
Menurutnya, perombakan dinas ini tidak akan berpengaruh terhadap para pekerja, hanya dinas yang mengelola saja yang berganti, untuk pekerja dan prasarana tetap.
" Kita tunggu saja, kalau untuk mendahulukannya bukan kita tidak bisa, namun pertanggungjawaban kedepannya ini yang kita belum tau, sebab nantinya pasti ada pengelola, bisa dilimpahkan kepada kecamatan, kelurahan atau mungkin UPT yang baru. Bayangkan harus mengeluarkan biaya Rp 600 ribu satu hari, belum lagi pekerjanya, jadi kita tunggu sajalah usai pelantikan nantinya," ungkapnya.****
Penulis adalah Tokoh Sosial Bagan Sinembah.
Opini