Sabtu, 18 Apr 2026
  • Home
  • Peristiwa
  • Masalah Penolakan Pasien UGD, Pihak RSUD Meranti Berikan Klarifikasi, Ini Jawabnya

Peristiwa

Masalah Penolakan Pasien UGD, Pihak RSUD Meranti Berikan Klarifikasi, Ini Jawabnya

Laporan : Olo
Selasa, 19 Nov 2019 21:05
MERANTI - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kepulauan Meranti mengklarifikasi soal pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD) yang sempat menimbulkan permasalahan. Mereka menyebutkan pasien yang dibawa ke UGD bukan ditolak, tapi ada miss komunikasi (kesalahpahaman antara kedua belah pihak).

Hal itu diungkapkan Direktur RSUD Kepulauan Meranti, dr Hj Ria Sari melalui Kasi Pelayanan Medik, dr Aisyah Bee ketika ditemui diruang kerjanya, Senin (18/11/2019). Pihaknya sudah melakukan crosscheck (pemeriksaan kembali) persoalan pelayanan UGD terhadap dugaan penolakan pasien.

"Saya sudah mengumpulkan semua informasi terhadap semua pihak terkait dari persoalan tersebut. Jadi informasi yang saya dapat, pasien itu datang ke UGD pada Sabtu (16/11/2019) pagi. Dari anamnese (pemeriksaan awal) petugas dokter kami, sebelumnya keluarga pasien pergi ke Puskesmas Alahair dan salah satu kilinik swasta. Setelah kesana, baru datang ke UGD," kata dr Aisyah Bee.

Dia menjelaskan, setiap pasien yang datang ke UGD harus mengikuti sistem trease (menentukan status pasien apakah gawat darurat atau tidak). Setelah dilakukan trease, pasien dengan atas nama Nurul Akbar itu tidak berstatus gawat darurat, makanya dialihkan ke poliklinik untuk bertemu dengan dokter spesialis.

"Sebelum ditangani di UGD, dokter akan melihat dulu kondisi pasiennya. Baik itu tekanan darah, pernapasan, maupun jantungnya. Sementara, pasien bisa dirawat jalan, bukan harus ke UGD. Namun keluarga pasiennya tidak mau sebab ngantrinya lama," terang dr Aisyah Bee.

Disarankan seperti itu, lanjut dr Aisyah Bee, pihaknya harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Pihak RSUD bukan menolak pasien tersebut, tetapi ada miss komunikasi terhadap keluarga pasien dari pelayanan di UGD. 

Menurutnya, maksud dialihkan ke poliklinik agar pasien bertemu dengan dokter spesialis, dan dilakukan pemeriksaan. Sebab, dari poli bisa saja dokternya menyarankan agar pasien dirawat setelah diperiksa.

"Sebenarnya sama saja, UGD itu kan gawat darurat. Seharusnya pasien bisa ketemu sama dokter spesialis, tapi keluarga pasiennya tidak mau, dan akhirnya pulang. Mungkin dengan bahasa agak sedikit komplain, keluarga pasien mengira itu lama sementara sudah prosedur," katanya.

Pasien akhirnya datang kembali sekitar lebih kurang pukul 11.00 WIB. Salah satu keluarganya meminta pasien ditangani dengan dilakukan infus. Namun, RSUD mempunyai kewenangan sebelum dilakukan tindakan tersebut. Karena menurut dr Aisyah Bee, pasien masih dalam keadaan stabil dengan tekanan darah yang normal.

"Tentu dokter harus melihat dulu. Tidak ada kegawatdaruratannya, tetapi dengan pertimbangan pasien tetap ditangani. Karena kalau itu gawat darurat, tanpa dimintapun kita akan melakukan tindakan dengan memasang infus. Kita sudah melakukan pemeriksaan, akhirnya ditemukanlah penyakit pasien yang bersifat privasi antara dokter dan pasien," ujar dr Aisyah Bee.

"Tidak mungkin baru datang lansung infus. Kita khawatir kalau ada penyakit contohnya seperti adanya gangguan pembesaran jantung. Itukan hati-hati untuk pemberian cairan infus. Makanya mungkin keluarga pasien tidak paham," tambahnya lagi.

Disamping itu, Kasi Pelayanan Medik itu juga mengungkapkan, tidak ada kegawatdaruratan terhadap pasien. Jika pasien sekarat, katanya tidak mungkin diletakkan diruang biasa, tapi di Intensive Care Unit (ICU).

"Sampai di ruangan dilakukan pemeriksaan, dokter rahmi yang mengambil alih pasien tersebut. Kita akan tetap terus memantau kondisi pasien," tuturnya.

Sementara Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Rahmi mengatakan, kondisi pasien atas nama Nurul Akbar masih dalam keadaan stabil. Kestabilan tersebut dinilai dari tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, dan suhu yang masih normal.

"Hasil pemeriksaan laboratorium, memang ada sedikit ganguan elektrolit. Semua kita koreksi terhadap elektrolitnya. Mungkin dengan itu, pasiennya sedikit lemah dan ada sedikit infeksi," katanya.

Terkait pasien yang sudah dua minggu tidak mengonsumsi makanan, menurut dia staminanya tidak terlalu menurun. Katanya, jika sama sekali makanan tidak masuk, pasti ada gula darah rendah.

"Pasti ada masuk sedikit, cuma tidak maksimal. Makanya saya berikan penambah nafsu makan dan antibiotik untuk mencegah infeksi. Kalau saya lihat dari awal masuk sampai sekarang, pasien tersebut masih stabil. Dengan begitu, pasien masih bisa kita tangani," ungkap dokter spesialis penyakit dalam itu**(olo)


Peristiwa
Berita Terkait
  • Rabu, 18 Mar 2026 16:32

    One Way Nasional Diberlakukan dari Tol Japek Sampai Kalikangkung

    JAKARTA - Rekayasa lalu lintas (lalin) atau one way nasional resmi diberlakukan pada siang hari ini, Rabu (18/3/2026), saat arus mudik Lebaran 2026. Satu arah itu berlangsung mulai dari Tol Jakarta-Ci

  • Rabu, 18 Mar 2026 15:42

    Pria Paruh Baya Diduga Dianiaya hingga Meninggal Dunia di Jalan Pangeran Hidayat

    PEKANBARU - Seorang pria bernama Muhammad Zen (50) ditemukan meninggal dunia setelah diduga menjadi korban tindak pidana pembunuhan atau penganiayaan berat di kawasan Jalan Pangeran Hidayat, Gang Abad

  • Rabu, 18 Mar 2026 15:00

    KontraS Ungkap Kondisi Andrie Usai Disiram Air Keras: Tak Buta, tapi Fungsi Mata Menurun

    JAKARTA - Kondisi Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, berangsur membaik setelah disiram air keras pada Kamis (12/3/2026) malam, sekitar pukul 23.00 WIB. Andrie telah menjalani operasi mata di Rum

  • Rabu, 18 Mar 2026 14:55

    Jasa Marga Ungkap 1,2 Juta Kendaraan Tinggalkan Jakarta hingga 18 Maret 2026

    JAKARTA - Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk Rivan Achmad Purwantono melaporkan sebanyak 34% kendaraan telah meninggalkan Jakarta per hari ini, Rabu (18/3/2026). Jasa Marga telah memprediksi,

  • Rabu, 18 Mar 2026 14:23

    Kapolri Resmikan Renovasi Masjid Al-Adzim dan Kukuhkan Satgas PHK di Riau

    PEKANBARU - Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menandatangani prasasti renovasi Masjid Al-Adzim sekaligus mengukuhkan Satuan Tugas Penanganan Premani

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.