Politik
Politik Uang Dinilai Terjadi karena Peran Partai Lemah
Senin, 08 Apr 2019 11:39
Hal tersebut disampaikan Edward dalam diskusi 'Politik Uang dalam Pemilu 2019'. Edward, yang juga penulis buku 'Democracy for Sale: Elections, Clientelism, and The State in Indonesia' ini memaparkan keunikan sistem politik di Indonesia, di mana peran partai yang masih lemah dan pola pemilihan lebih menitikberatkan pada calon dan bukan partai politik.
"Yang perlu dititikberatkan di sini, keunikan Indonesia bukan bahwa politik uang memainkan peranan penting, itu terjadi di banyak negara. Tapi yang unik adalah sistem, di mana partai itu sangat lemah," ujar Edward di ITS Tower, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Senin (8/4/2019).
"Titik beratnya adalah pembagian (imbalan) pada saat pemilu, dengan pelayanan publik. Dan titik beratnya di kandidat, bukan partai," imbuhnya.
"Kami sering bertemu dengan caleg yang misalnya ikut kompetisi di Jawa, yang biasa membentuk tim sukses terdiri dari ribuan orang. Dan intinya mereka pada akhirnya akan melakukan identifikasi terhadap pemilih yang sudah berkomitmen untuk memilih calon mereka. Tentu saja dengan imbalan uang untuk mengikat komitmen tersebut," jelasnya.
Edward lalu menjelaskan fenomena 'klientelisme', yaitu praktik transaksi atau pertukaran bantuan pribadi untuk dukungan elektoral, atau yang biasa dikenal dengan politik transaksional. Tak hanya 'serangan fajar', klientelisme juga bisa diberikan dalam bentuk bantuan kolektif.
"Istilah yang dipakai di Indonesia kan serangan fajar, kepada pribadi per orang. Tapi kami melakukan penelitian, yaitu (ada) bantuan secara kolektif, misalnya perbaikan jalan, irigasi, rumah ibadah, dan lain-lain," papar Edward.
"Jadi calon ini misalnya memberikan TV merk Polytron plus antena 5 biji, mesin pemotong rumput, mesin pompa air, dan lain sebagainya. Dan bantuan dalam bentuk sumbangan kepada organisasi di desa, masjid, langgar, gereja dan kelompok yasinan, dengan total pengeluaran sekian juta rupiah," imbuhnya.
"Kalau mereka bagi uang dalam amplop 10 ribu, mereka akan kalkulasi dengan margin of error 50 persen. Kalau mereka bagi 10 ribu (amplop), mereka akan mendapatkan 5 ribu suara. Calon yang kalah seringkali karena mereka kalkulasi margin of errornya salah," ungkapnya.
Karena peran partai sangat terbatas, Edward menuturkan, para calon masih membutuhkan jaringan sampai ke akar rumput dengan cara menunggangi atau mempolitisasi organisasi sosial yang ada. Karena peran yang lemah ini, para calon pun mengandalkan serangan fajar besar-besaran saat pemilu.
"Karena parpol lemah, yaitu klientelisme berdasarkan hubungan timbal balik yang jangka panjang yang dirawat dalam pemilu itu sangat lemah di Indonesia, tapi one shot at the time of the election. Jadi calon mengandalkan serangan fajar besar-besaran saat pemilu. Jadi serangan fajar itu sangat tinggi di Indonesia dibandingkan negara lain," kata Edward.
â Perkuat Ketahanan Energi Nasional, PGN Garap Potensi CBM Tanjung Enim 9,7 TCF
PAGARDEWAâ€" PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) selaku Subholding Gas Pertamina berkomitmen penuh dalam optimalisasi pemanfaatan potensi gas domestik guna mendukung penguatan ketahanan energ
Menaker dan Manajemen TikTok Gelar Pertemuan Usai Isu PHK di Tokopedia, Bagaimana Hasilnya?
Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli telah melakukan pertemuan dengan manajemen TikTok dan Tokopedia untuk membahas isu yang berkembang terkait pemutusan hubungan kerja (PHK) di kedua perusahaan tersebu
Setahun Pasca Dirawat, Gajah Sumatera Berusia 60 Tahun di Tesso Nilo Kembali Aktif
PEKANBARU -Kondisi seekor Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) betina berusia 60 tahun yang hidup liar di Kantong Gajah Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan, dipastikan dalam keadaan stabil.Satw
DPRD Pekanbaru Soroti Lemahnya Pengawasan Tempat Hiburan Malam
PEKANBARU �" Komisi I DPRD Kota Pekanbaru menilai pengawasan terhadap tempat hiburan malam di Kota Pekanbaru masih belum berjalan maksimal. Indikasinya, masih ditemukan tempat hiburan yang diduga be
Perda Tanah Ulayat Riau Disiapkan, DPRD Bidik Penyelesaian Konflik Agraria dan Berantas Mafia Tanah
PEKANBARU â€" DPRD Riau melalui Panitia Khusus (Pansus) Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Tanah Ulayat mulai membahas regulasi yang diharapkan menjadi solusi atas berbagai persoalan agrari