Liputan6.com
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) bersalaman dengan Ketua Umum Partai Demokrat (PD) Susilo Bambang yudhoyono (SBY) usai memukul gong pada Rapimnas Partai Demokrat di Bogor, Jawa Barat, Sabtu (10/3). (Liputan6.com/Angga yuniar)
Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
membantah dirinya meminta Joko Widodo atau Jokowi untuk
mempertimbangkan putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai calon
wakil presiden 2019. Hal itu disampaikan SBY dalam akun resmi
Facebooknya, Jumat (30/3/2018).
"SBY yang meminta-minta agar bergabung dengan Jokowi, mendukung Pak
Jokowi, termasuk meminta AHY menjadi Cawapres Jokowi, tidak benar,"
tulis SBY.
"Beberapa kali saya ketemu Pak Jokowi, tidak benar kalau saya,
(mengatakan) Pak Jokowi tolong AHY dipertimbangkan sebagai Cawapres
bapak. Lantas beberapa menteri Jokowi yang datang kepada saya, juga
tidak pernah minta tolong disampaikan ke Pak Jokowi, agar AHY dijadikan
Cawapres beliau," tegas dia.
Dia pun berkaca dari pengalamannya saat menjadi Capres 2004 dan 2009.
Di mana akan mempertimbangkan cawapres yang nakal digandengnya. Menurut
SBY, jika ada yang memaksakan nama atau seseorang sebagai cawapres,
dirinya tak senang.
SBY menyadari, hal ini akan dirasakan sama oleh Jokowi jika ada pihak
yang mencoba meminta-minta seseorang menjadi cawapresnya. Bahkan dengan
cara dipaksa.
"Saya ngerti politik, saya ngerti etika politik, dan tidak mungkin,
apalagi AHY itu anak saya sendiri, terus disodor-sodorkan jadi Cawapres
Jokowi," jelas SBY.
Dia
tak menampik, semua partai ingin menginginkan kadernya bisa menjadi
Presiden atau Wakil Presiden pada suatu saat. Tapi menurutnya,
persoalannya bukan keinginan, namun harus dihitung yang baik, siapa yang
akan diusung, terlebih adanya Presidential Threshold 20%.
"Jadi tak bisa seorang tokoh lantas dengan gagah berani memasang
fotonya di bilboard, di baliho, dimana-mana, siap jadi Capres, siap jadi
Cawapres. Tentu Demokrat tidak seperti itu. Kita akan mehitung secara
seksama," ungkap SBY.
Dia pun masih belum mau mengungkapkan, kapan partai berlambang
bintang Mercy itu mengumumkan capres-cawapres yang akan diusung. SBY
menegaskan, masih ada waktu untuk melakukan hal tersebut.
"Kalau lihat jadwal KPU, pendaftaran masih bulan Agustus, masih 5
bulan lagi. Saya ingat 2004 dan 2009 waktu mendeklarasikan capres dan
cawapres, itu 1 setengah bulan. Kalau lihat Pak Jokowi 2014,
mendeklarasikan Jokowi-JK beberapa saat sebelum pendaftaran. Jadi masih
butuh waktu Demokrat untuk mempertimbangkan," pungkas SBY.
(Liputan6.com)
Politik