Jumat, 12 Jun 2026
  • Home
  • Traveler
  • Menjaga Eksistensi Gua Batu Hapu, Situs Geologi Purba di Bumi Borneo

Menjaga Eksistensi Gua Batu Hapu, Situs Geologi Purba di Bumi Borneo

Admin
Senin, 13 Jun 2022 14:16
okezone.com

GUA Batu Hapu yang merupakan salah satu geosite Geopark Meratus di Kalimantan Selatan masih terjaga eksistensinya hingga sekarang dengan keunikan yang memesona.

Memasuki mulut gua, mata langsung disuguhi dengan pemandangan takjub melihat akses masuk menyerupai gerbang raksasa yang luas dan atap berhias stalaktit yang runcing ke bawah.

Eksistensi Batu Hapu masih terjaga sejak era 1970 hingga sekarang. Banyak kunjungan ke tempat itu, baik sekadar rekreasi maupun penelitian sejarah geologi.

Daya tarik pengunjung datang ke wisata Batu Hapu, salah satunya karena ada batuan karst yang berbentuk unik, yaitu stalaktit dan stalagmit.

Batuan itu terbentuk alami dengan proses yang sangat lama. Tetesan air terdengar di dalam gua yang menandakan salah satu proses pembentukan batuan tersebut sedang berlangsung.

"Tidak hanya wisatawan, ada juga para mahasiswa pencinta alam bahkan peneliti datang ke sini," ujar pemandu wisata Gua Batu Hapu, Subianto, mengutip ANTARA.

Selain memiliki ruang yang besar, keelokan Gua Batu Hapu tambah memesona pada saat titik ray of light (rol) mendapatkan cahaya Matahari di kisaran pukul 12.00-13.00 Wita.

Di momentum tersebut, cahaya matahari yang masuk dari atas lubang gua, menembus kegelapan ruang hingga lantai gua.

Banyak kalangan dari Instagramable ataupun fotografer datang ke Gua Batu Hapu. Ada dua tanda pagar di Instagram yang ramai dipakai #guabatuhapu dan #goabatuhapu. Mengunjungi tanda pagar itu mungkin bisa memberi gambaran tentang karakter unik situs geologi warisan Bumi tersebut.

Menyusuri dan mengamati seluruh gua menggunakan cahaya senter, tapak demi tapak memerlukan waktu kurang lebih dua jam dan kehati-hatian karena jalur licin.

Di dalam gua, ada infrastruktur tambahan yang dibangun pemerintah daerah berupa tangga, fungsinya memudahkan pengunjung menyeberangi cekungan di dalam gua. Meskipun begitu, tidak mengubah esensi keindahan gua.

Kalau pengunjung ingin mendaki puncaknya, memerlukan waktu 30 menit, dengan medan jalur bebatuan karst. Dari atas Batu Hapu terlihat bentang Pegunungan Meratus yang menawan.

Wisata gua tersebut sudah ada sejak lama, mulai dikunjungi orang sejak era transmigrasi penduduk Jawa pada tahun 1970-an, hal itu juga yang memengaruhi nama gua, Batu Hapu artinya batu kapur dalam bahasa Jawa.

"Sudah begitu namanya dari dulu," ujar Subianto yang juga generasi masyarakat transmigran itu.

"Hanya Mapala (mahasiswa pencinta alam) dan para peneliti yang pernah masuk. Tiga mulut gua ada di bawah dan jalan menuju ke sana tidak di buka," ujarnya.

Meskipun begitu, gua yang saat ini dibuka untuk umum sudah sangat memuaskan, memberikan wawasan tentang batuan dan keunikan bumi.

Di lingkungan Gua Batu Hapu masih banyak pepohonan besar dan udara yang lebih segar dibandingkan dengan di Kota Banjarmasin.

Tepat memasuki kawasan tersebut, juga ada taman dengan aneka patung binatang, rumput karpet, cocok untuk tempat santai keluarga menghabiskan akhir pekan.

Biaya masuk dipatok Rp5.000. Hasil dari retribusi tersebut pertama dibagikan untuk pemerintah daerah, setelah itu pengelola dan apabila ada lebih masuk ke kas desa.

Tidak hanya di karaoke ada pemandu, di Gua Batu Hapu pun juga ada jasa pemandu untuk wisatawan yang ingin ditemani menyusuri gua.

Pihak pengelola tidak memasang tarif alias sukarela, seikhlas wisatawan yang memakai jasa untuk memberikan upah atas waktu, tenaga dan wawasan pemandu.

Legenda

Kurang Indonesia rasanya kalau tidak ada legenda yang melekat di sebuah situs purbakala tersebut. Gua Batu Hapu disebut masyarakat sebagai pecahan kapal besar milik seorang raja bernama Angui.

Kapal tersebut berubah menjadi batu karena Angui durhaka kepada ibunya yang bernama Kudampa.

Kutukan sang ibu dipicu karena sakit hati oleh perbuatan Angui yang tidak mengakuinya sebagai orang tua setelah sukses berkarir. Hingga saat ini kisah itu masih menjadi cerita rakyat, ketika ditanya terkait asal usul Gua Batu Hapu.

"Ceritanya turun-temurun seperti itu. Tapi ya, wallahua'lam. Cerita mirip seperti kisah Malin Kundang," ujar Pengelola Gua Batu Hapu Subianto.

Cerita rakyat itu diabadikan ke sebuah beton di depan gua yang dilukis, menggambarkan peristiwa kutukan sebelum Agui beserta kapalnya menjadi batu.

Pada era modern ini, sudah ada penelitian yang menceritakan asal usul Gua Batu Hapu tersebut.

Batu Hapu, dari catatan Badan Pengelolaan (BP) Geopark Meratus, secara geologi berada di kawasan cekungan Barito, yaitu formasi berai yang berumur oligosen-miosen awal (16-36,5 juta tahun lalu). Secara historis Gua Batu Hapu juga serupa dengan Gua Baramban Kecamatan Piani, Tapin.

Situs geologi purba kala tersebut masuk sebagai salah satu dari 74 geosite Geopark Meratus. Geopark Meratus yang memiliki keunikan dan nilai sejarah geologi itu, berhasil mendapatkan pengakuan sebagai geopark nasional pada 2018.

Gua Batu Hapu berada di Desa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, jaraknya dari Kota Banjarmasin sekitar 200 km.

Secara umum, Kecamatan Hatungun merupakan dataran tinggi, rata-rata ketinggian dari 50- 500 meter di atas permukaan laut.

Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), posisi Hatungun ada di 2,3343-30043 Lintang Selatan dan antara 114,4613

Sumber: okezone.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.