Selasa, 26 Mei 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Mengapa Harga Emas Tak Naik Saat Perang Iran Memanas? Ini Penyebabnya

Ekbis

Mengapa Harga Emas Tak Naik Saat Perang Iran Memanas? Ini Penyebabnya

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Rabu, 18 Mar 2026 09:53
JAKARTA - Saat perang terhadap Iran memasuki hari ke-18, harga emas, yang biasanya dianggap sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian, justru tetap stabil secara tak terduga. Sejak Amerika Serikat dan Israel pertama kali melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026, konflik telah meningkat di seluruh kawasan, memicu kekhawatiran akan dampak lanjutan terhadap ekonomi global.

Pada 2 Maret 2026, Ebrahim Jabari, penasihat senior panglima Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), mengumumkan bahwa Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia ditutup. Langkah ini mendorong harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel. Harga saham juga turun selama dua pekan terakhir di tengah ketidakpastian terkait perang terhadap Iran.

Lantas, kenapa harga emas tidak melonjak?

Dikutip dari Aljazeera, harga emas secara umum tetap stabil di kisaran 5.000 dolar AS per ons dalam beberapa hari terakhir. Pada Selasa (17/3/2026), harga emas spot hampir tidak berubah di angka 5.001,36 dolar AS per ons pada pukul 11.00 GMT. Emas spot adalah harga pembelian dan penjualan emas fisik untuk pengiriman segera. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman April naik tipis 0,1 persen menjadi 5.005,20 dolar AS.

Minimnya pergerakan ini mengejutkan, mengingat harga emas biasanya melonjak saat krisis ekonomi ketika investor mencari aset aman untuk melindungi dana mereka. Hal ini terutama berlaku dalam periode konflik global.

Sebagai contoh, ketika Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina, harga emas melonjak tajam, kata Remi Bourgeot, ekonom di Institut Prancis untuk Urusan Internasional dan Strategis di Paris sekaligus penulis platform analisis Epistelem, kepada Al Jazeera.

Sanksi yang kemudian dijatuhkan negara-negara Barat terhadap Rusia menciptakan gelombang kepanikan di kalangan bank sentral dan sepenuhnya mengubah dinamika harga emas. Negara seperti China melakukan pembelian besar-besaran untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS.

Namun, dalam perang AS-Israel terhadap Iran, respons yang terjadi berbeda.
Para pelaku pasar memperkirakan, bank sentral AS atau Federal Reserve akan menghentikan pemangkasan suku bunga. Bahkan mungkin menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi yang meningkat. Hal ini disampaikan James Meadway, mantan penasihat ekonomi kanselir bayangan Inggris dan kini anggota dewan Progressive Economy Forum.

“Kondisi ini membuat aset berbasis dolar lebih menarik dan emas, yang tidak memberikan bunga, menjadi kurang diminati,” kata Meadway.

Ia menambahkan bahwa investor sebelumnya telah memperkirakan adanya penurunan suku bunga AS. Faktor lain adalah kinerja emas yang sudah kuat sejak awal tahun ini.

“Harga emas sudah naik begitu tinggi sebelumnya sehingga kini kurang bereaksi terhadap perang,” ujarnya.

Rebecca Christie, peneliti senior di lembaga pemikir Bruegel, juga menyampaikan hal serupa. Ia mencatat bahwa harga emas tahun ini telah berada jauh di atas level historis.

Ada faktor lain yang turut berperan. Menguatnya dolar AS, sementara emas diperdagangkan dalam dolar, membuat investor lebih sulit mendorong harga emas lebih tinggi.

“Selain itu, penguatan dolar juga menjadi alternatif aset aman, dan kenaikan harga minyak kemungkinan memicu inflasi lebih tinggi, yang turut meningkatkan daya tarik dolar,” kata Christie.

Apakah emas masih menjadi pilihan investasi yang aman? Jawabannya, menurut Bourgeot, untuk saat ini, tidak.

“Emas tidak lagi dipandang sebagai lindung nilai terhadap ketidakpastian seperti dua tahun lalu,” kata Bourgeot.

“Saat ini ada pemahaman bahwa emas telah menjadi aset yang sangat spekulatif,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa investor emas tradisional, termasuk bank sentral, cenderung menghindari risiko dan mungkin terpengaruh oleh volatilitas emas dalam kondisi saat ini.

Para ahli menilai sulit membuat prediksi mengingat ketidakpastian di Timur Tengah.

“Untuk saat ini, faktor utama yang menahan kenaikan harga emas adalah karena sebelumnya sudah meningkat sangat tinggi,” kata Christie.

Menurut Meadway, agar harga emas bergerak signifikan, ada dua hal yang perlu terjadi. Pertama, adanya sinyal jelas dari Federal Reserve yang kemungkinan akan dipimpin ketua baru yang lebih sejalan dengan Trump pada Mei bahwa suku bunga akan kembali diturunkan meski ada tekanan inflasi.

“Kedua, perubahan persepsi mengenai durasi perang. Saat ini masih ada keyakinan konflik akan segera berakhir, tetapi jika berlangsung lebih lama dan dampaknya meluas, maka emas akan kembali menarik bagi investor,” kata Meadway.

Sumber: (Republika.co.id)

Ekbis
Berita Terkait
  • Senin, 04 Mei 2026 08:33

    IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Cermati Data Ekonomi Pekan Ini

     Sejumlah sentimen global dan domestik mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sela

  • Jumat, 17 Apr 2026 09:18

    Menuju Pasar Ekspor: Kisah Sukses Kolaborasi Pucuk Rebung - PHR Berdayakan UMKM Riau

    PEKANBARU-Transformasi besar tengah berlangsung pada geliat ekonomi lokal Provinsi Riau. Pelaku UMKM yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri tanpa kepastian arah kini berhasil naik kelas melalui wada

  • Rabu, 08 Apr 2026 17:49

    PHR Dorong Pengembangan Migas Non-Konvensional Sebagai Game Changer Ketahanan Energi Nasional

    Jakarta- Sebagai langkah strategis, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) guna menjaga keberlanjutan produksi. Berpotensi menjadi game changer memperkuat po

  • Rabu, 18 Mar 2026 16:28

    Bulog Kantor Cabang Rengat Salurkan Bantuan Pangan Alokasi Februari-Maret 2026, Ini Jenis Bantuannya

    RENGAT - Pemerintah resmi melaksanakan launching penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk alokasi bulan Februari dan Maret 2026 di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Rabu, (18/3/20

  • Rabu, 18 Mar 2026 15:28

    Malaysia Batalkan Perjanjian Dagang dengan AS

    JAKARTA - Malaysia membatalkan perjanjian dagang timbal balik alias Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS). Dengan demikian tarif impor Malaysia ke AS 19% tidak berlaku lagi u

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.