Kamis, 16 Jul 2026
Ekbis
Impor Riau Melonjak Drastis, BPS Sebut Pengadaan Barang Modal Jadi Pemicu Utama
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Kamis, 16 Jul 2026 08:42
PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat lonjakan nilai impor yang sangat signifikan sepanjang periode Januari hingga Mei 2026. Total nilai impor mencapai US$1,63 miliar atau meroket 140,76 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 lalu. Eskalasi ini utamanya didorong oleh derasnya arus masuk barang modal bernilai tinggi, khususnya kapal terbang dan bagiannya dari Prancis.
Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi membenarkan bahwa tren kenaikan tahun ini berkaitan erat dengan pengadaan barang modal yang nilainya melesat tajam melebihi 20 kali lipat dibandingkan rekam jejak tahun sebelumnya.
"Impor Riau selama Januari hingga Mei 2026 mencapai US$1,63 miliar atau naik 140,76 persen. Peningkatan terbesar berasal dari barang modal, khususnya kelompok kapal terbang dan bagiannya, sehingga memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap total impor," urai Kepala BPS Provinsi Riau, Asep Riyadi, Rabu (15/7/2026).
Struktur Komoditas dan Eskalasi Nilai Impor
Berdasarkan data BPS, nilai impor barang modal menyentuh angka fantastis US$862,97 juta. Angka ini mencerminkan lonjakan sebesar 2.011,25 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Saat ini, barang modal mengambil alih posisi sebagai penyumbang terbesar impor Riau dengan kontribusi 53,01 persen. Posisi selanjutnya diisi oleh bahan baku atau penolong senilai US$761,97 juta (46,81 persen), sementara barang konsumsi hanya memberikan porsi 0,18 persen.
Komoditas kapal terbang dan bagiannya mendominasi sebagai penyumbang terbesar dengan nilai mencapai US$780,83 juta, atau mewakili 50,12 persen dari keseluruhan impor nonmigas. Angka tersebut melesat hingga 54.918,49 persen dibandingkan kurun waktu Januari hingga Mei 2025.
Selain itu, beberapa komoditas strategis lainnya juga menunjukkan tren positif. Impor pupuk tercatat sebesar US$159,39 juta (naik 18,31 persen), disusul kayu dan barang dari kayu senilai US$139,38 juta (naik 75,82 persen). Sektor mesin-mesin dan pesawat mekanik ikut naik 19,75 persen menjadi US$74,97 juta, diikuti bahan kimia organik yang bertumbuh 35,56 persen menjadi US$63,49 juta.
Meski mayoritas sektor menghijau, bahan bubur kayu (pulp) menjadi komoditas dengan penyusutan terdalam. Nilai impor komoditas ini turun 27,95 persen ke angka US$57,29 juta.
"Sebagian besar kelompok barang utama mengalami peningkatan. Hanya impor bahan bubur kayu atau pulp yang masih mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu," jelasnya.
Prancis Dominasi Pemasok Nonmigas
Beralih ke negara asal pemasok, Prancis kini menduduki peringkat teratas sebagai pengekspor barang impor nonmigas terbesar ke Riau. Total nilai transaksi internasional dari negara Eropa tersebut mencapai US$781,91 juta, menyumbang 50,19 persen terhadap total impor nonmigas daerah. Nilai impor dari Prancis melambung tajam hingga 36.518,62 persen jika disandingkan dengan catatan Januari hingga Mei 2025.
Tiongkok berada di urutan kedua dengan nilai US$170,99 juta (10,98 persen), disusul Vietnam di tempat ketiga dengan kontribusi sebesar US$102,94 juta (6,61 persen).
"Dominasi Prancis tahun ini berkaitan dengan masuknya barang modal bernilai besar, terutama kelompok kapal terbang dan bagiannya. Hal itu membuat struktur impor Riau berubah cukup signifikan dibandingkan tahun lalu," papar Asep Riyadi.
Lebih lanjut, BPS merinci bahwa impor nonmigas dari kawasan Uni Eropa secara keseluruhan menembus US$839,84 juta, menguasai 53,91 persen pangsa pasar impor nonmigas Riau. Di sisi lain, arus barang dari kawasan ASEAN tercatat sebesar US$257,59 juta atau 16,53 persen.
Indikasi Geliat Investasi Baru
Menilik data bulanan, nilai impor Riau secara spesifik di bulan Mei 2026 berada di level US$550,41 juta. Angka ini mencerminkan lonjakan 298,69 persen dibandingkan pencapaian Mei 2025. Pemicu utamanya adalah impor nonmigas yang meroket 344,50 persen menjadi US$544,32 juta, berbanding terbalik dengan sektor migas yang justru merosot 60,95 persen ke angka US$6,09 juta.
"Lonjakan impor barang modal pada umumnya menunjukkan adanya aktivitas investasi atau pengembangan kapasitas produksi. Karena itu, angka impor yang meningkat tidak selalu mencerminkan kenaikan konsumsi, tetapi juga dapat menjadi indikasi adanya investasi baru,"(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/impor-riau-melonjak-drastis-bps-sebut-pengadaan-barang-modal-jadi-pemicu-utama.html
komentar Pembaca