Nasional
Pilpres 2019, Dikhawatirkan Diwarnai Politik Uang
Laporan : Joko Prasetyo
Senin, 12 Mar 2018 08:51
Yenti Garnasih khawatir Pemilu 2019 dan Pilpres akan marak money politics (politik uang). Dalam pemilu kepala daerah (Pilkada) serentak saja, sumber dananya sudah banyak bermasalah dan banyak kepala daerah yang menjadi tersangka. "Apalagi kalau dalam Pemilu 2019 dan Pilpres nanti diwarnai politik uang. Ngeri," kata Yenti dalam diskusi bertema "Pilpres 2019 Terganjal Calon Tunggal?" yang digelar di Jakarta, Minggu (11/3/2018).
Yenti juga mengingatkan potensi aliran dana yang berasal dari transaksi narkoba. Di luar negeri terjadi dana dari transaksi narkoba mengalir ke Pemilu melalui partai politik. "Saya membacanya hal itu juga bisa terjadi di Pemilu Indonesia," katanya.
Yenti tidak sepakat dengan istilah 'mahar politik' dalam pencalonan kepala daerah, karena itu adalah penghalusan bahasa. "Ini jelas penyuapan atau pemerasan alias kejahatan yang sifatnya negatif, kok dibilang mahar politik. Kalau Mahar politik itu maknanya positif," sindir mantan anggota Panitia Seleksi (Pansel) calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini.
Apalagi, lanjutnya, kalau uang yang dipakai untuk penyuapan tersebut adalah berasal dari hasil korupsi dan atau dari bisnis narkoba. "Pasti koruptor dan bandar narkoba nanti akan aman kalau yang terpilih jadi pemimpin adalah pihak penyuapnya," beber pakar hukum pidana bidang ekonomi dan tindak pidana korupsi ini.
Dalam kesempatan sama penggiat anti korupsi Uchok Sky Khadafi berpendapat tak ada dukungan gratis terhadap capres dengan mengarahkan ke calon tunggal. Dia mencurigai para pimpinan parpol yang mendukung capres tunggal memperoleh 'mahar politik' alias suap dari pihak yang berkepentingan untuk menggolkan capres tunggal.
Apalagi lanjut Ucok, masing-masing partai sudah mengusulkan calon wakil presiden (cawapres) untuk mendampingi capres petahana, Joko Widodo yang diperkirakan jadi capres tunggal dengan kalkulasi politik saat ini.
"Tidak ada dukungan gratis, Dalam deal politik pasti ada kepentingan, kalau tidak uang ya jabatan. Yang jelas, kalau jabatan (cawapres) terbatas (hanya satu). Jadi, saya curiga mereka dapat uang," kata mantan Direktur Center for Budget Analysis (CBA) itu.
Karena itu lanjut Uchok, upaya capres tunggal lawan kotak kosong, harus ditolak masyarakat. "Semakin banyak capres, semakin demokratis, " katanya. (jok)
nasionaln
Panglima TNI Terima Audiensi Organisasi Pecinta Alam Wanadri
Jakarta-Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menerima audiensi organisasi pencinta alam Wanadri yang dipimpin Ketua Dewan Pengurus Wanadri Tomy Hosni M di Subden Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kami
Panglima TNI Terima Audiensi Pengurus Pusat PPAD
Jakarta-Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menerima audiensi jajaran Pengurus Pusat Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat (PPAD) yang dipimpin Ketua Umum PPAD Mayjen TNI (Purn) Dr. Komaruddin, S
Wapang TNI Bersama Menhan RI Tinjau Lokasi Industri Strategis dan Yonif TP 938/Pancasona di Jawa Barat
JAWA BARAT-Wakil Panglima TNI Jenderal TNI Tandyo Budi R. bersama Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin, Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa melaksanakan peninjauan
Menembus Jarak Demi Terangnya Negeri, Lanud Sjamsudin Noor Dukung Misi Airbus A-4002M TNI AU Percepat Pemulihan Kelistrikan Sumatera
Banjarbaru-Lanud Sjamsudin Noor kembali menunjukkan peran strategis dan kesiapan operasionalnya dalam mendukung kepentingan nasional melalui pelaksanaan misi angkutan udara strategis TNI Angkatan Udar
Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Korps Rapot Pindah Satuan dan Penerimaan Personel Baru
Mulia-Kodim 1714/Puncak Jaya gelar upacara Korps Rapot pelepasan personel pindah dan penyambutan personel baru yang dipimpin Dandim Letkol Inf Bagus Kurniawan, M.Han., di Lapangan Makodim, Senin (8/6/