Derita Warga Palembang, Dari Kabut Asap Hingga Krisis Air & Listrik
Sabtu, 03 Okt 2015 10:39
Yang pertama sektor pendidikan. Catatan Dinas Pendidikan dan Olahraga Palembang menyebutkan asap berdampak pada proses belajar siswa.
Berbagai kebijakan pun dikeluarkan. Seperti meliburkan para siswa hingga kualitas udara di Palembang kembali bersih.
Kebijakan ini sempat diterapkan untuk beberapa waktu, hingga akhirnya Dinas Pendidikan mengevaluasi. Dan kebijakan selanjutnya adalah para siswa tetap sekolah, namun jam masuk dan pulang diubah.
Alasan evaluasi kebijakan yang pertama lantaran dianggap dengan meliburkan sekolah, otomatis akan berpengaruh pengurangan jam dan mata pelajaran yang ditempuh para siswa. Kebijakan tersebut tak efektif dan merugikan siswa sendiri.
"Kalau sekolah diliburkan otomatis jam belajar berkurang. Apalagi dalam waktu yang lama," Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Palembang Ahmad Julinto, Rabu (30/9).
Sektor selanjutnya yang terkena imbas kebakaran lahan dan hutan adalah transportasi, khususnya udara.
Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang sempat lumpuh selama berjam-jam, lantaran jarak pandang yang sangat terbatas.
GM Angkasa Pura SMB II Palembang Iskandar Hamid mengungkapkan, bandara tidak bisa beraktivitas sejak pukul 05.30 WIB hingga sekitar pukul 10.00 WIB. Kondisi berlangsung normal saat beberapa pesawat bisa terbang dan mendarat pukul 10.30 WIB.
"Benar, sejak mulai beroperasi atau jam 05.30 tadi tidak operasi, jam 10.30 tadi baru normal," ungkap Iskandar saat dihubungi merdeka.com, Rabu (30/9).
Menurut dia, hal itu terjadi lantaran jarak pandang landasan pacu bandara hanya 300 meter, jauh dari batasan normal 800 meter. Jarak pandang mulai berangsur meningkat menjelang siang hari.
Setidaknya ada sepuluh penerbangan saat itu yang delay terbang. Di antaranya Batik Air ID 6870 rute Palembang- Jakarta yang dijadwalkan terbang pukul 07.30, Lion Air JT340 Palembang-Jakarta, Epress Air XN740 tujuan Bandung, dan Citilink QG931 rute Palembang-Batam.
Sementara pesawat yang terlambat mendarat yakni Lion Air JT 1340 dari Jakarta yang baru bisa mendarat pukul 13.20 WIB dari jadwal sebelumnya pukul 06.25 WIB, dan Nam Air IN 9881 dari Pangkal Pinang yang mendarat pukul 13.04 WIB dari jadwal 09.50 WIB.
Parahnya, pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA100 dari Jakarta dibatalkan. Pesawat tersebut sebelumnya dijadwalkan mendarat di Bandara Palembang pukul 07.00 WIB.
Kesehatan warga Palembang juga dipertaruhkan selama musibah asap. Rata-rata warga terserang penyakit infeksi saluran pernapasan pekat (ISPA), iritasi mata dan flu.
Sarwono (36), warga Kalidoni Palembang menderita sakit mata. Kondisi makin memburuk karena saat ini matanya mengalami iritasi.
"Saya sudah periksa ke puskesmas kemarin siang, mata saya alami iritasi karena asap campur abu," ungkap Sarwono.
Agar penyakitnya tidak parah, dirinya diberikan obat penetes mata dengan tujuan membersihkan kotoran abu yang melekat. Obat itu harus digunakannya tiga kali sehari.
"Mau tak mau harus diteteskan, karena tiap hari pake motor terus," ujar pria berprofesi sebagai salesman tersebut.
Hal senada diungkapkan Ita (29), karyawan swasta. Ita mengaku mengalami flu atau bersin-bersin sejak tiga hari terakhir akibat kerap terhirup asap yang bercampur abu saat mengendarai sepeda motor.
"Bersin-bersin terus, sudah berobat belum sembuh juga sembuh. Sekarang pake masker dan obat, dikasih dokter," kata dia.
"Kami minta pemerintah cepat mengurus kabut asap ini. Kalau begini terus, kesehatan warga yang bahaya," sambungnya.
Belum habis derita warga akibat asap, kini mereka harus dihadapkan pada kenyataan pahit lainnya. Warga di kota pempek itu juga mengeluhkan layanan listrik kerap padam dan air bersih tak mengalir.
Sejak dua pekan terakhir, Perusahaan Listrik Negara dan Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Musi Palembang, memberlakukan pemadaman bergilir aliran listrik dan air bersih. Listrik kadang padam empat hingga lima jam sehari. Sementara pasokan air digilir tiga hari sekali.
Menurut Mely (35 tahun), warga Kalidoni, Palembang, sejak sebulan kabut asap sudah membuat warga pusing, terutama saat bepergian. Kini ditambah lagi dengan padamnya listrik dan air yang tak mengalir.
"Kabut asap banyak, listrik padam, dan air mati. Lengkap sudah derita kami," kata Mely kepada merdeka.com, Jumat (2/10).
Dikatakan Mely, situasi seperti itu otomatis sangat mengganggu aktivitas warga, terutama bagi ibu-ibu rumah tangga.
"Mau keluar harus hirup asap, di dalam rumah panas karena listrik padam, mau mandi tak bisa karena tidak ada air," ujar Mely.
Mely berharap pemerintah serius menangani masalah ini. PLN diminta tidak seenaknya memadamkan aliran listrik, PDAM tetap mengalirkan air, serta kebakaran hutan dan lahan segera dipadamkan.
"Apa hubungan listrik, air, sama asap? Kok tiba-tiba akur begitu, padam semua. Pemerintah yang serius dong, jangan bikin warga dirugikan," ujar Ardi (33 tahun), warga Jakabaring.
Badan Lingkungan Hidup (BLH) Palembang mencatat, dalam sepekan terakhir, kualitas udara di kota itu sudah memasuki kondisi berbahaya. Hal ini dibuktikan dari hasil tes indeks standar pencemaran udara (ISPU) berada di rentang 300 hingga 550 PSI.
Pihak BMKG Stasiun Sultan Mahmud Badarudin (SMB) II Palembang juga menginformasikan kepada warga, konsentrasi partikular (PM10) saat ini adalah sebesar 1.098,11 gram/m3. Sementara nilai ambang batas konsentrasi polusi udara ditolerir berada dalam udara ambien adalah 150 ugram/m3. Dari data konsentrasi partikular itu, kepekatan kabut asap di Palembang sudah masuk zona berbahaya dengan jarak pandang hanya seratus meter.
Menjawab masalah asap tersebut, Gubernur Sumsel Alex Noerdin berdalih merasa bersalah, dan meminta maaf atas musibah yang dihadapi warga saat ini.
Alex mengklaim musibah kabut asap yang terjadi di wilayah Sumsel lebih dari sebulan terakhir adalah tanggung jawabnya. Dia berjanji mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan pada musim kemarau tahun ini.
"Saya mohon maaf kepada warga Sumsel. Kami sudah berusaha, tapi Allah berkehendak lain," ungkap Alex.
Meski Sumsel dilanda kabut asap, Alex membantah jika daerah itu merupakan daerah pengekspor atau pengirim asap ke provinsi lain. Sebab, musibah kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di sejumlah provinsi di Sumatera dan Kalimantan.
"Asap ini tak sepenuhnya dari Sumsel, bukan murni satu-satunya dari Sumsel. Ada juga kebakaran di daerah lain," ucapnya membela diri.
(merdeka.com)
Sepekan Pasca Aksi Wartawan, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pandra Dicopot
PEKANBARU - Pasca sepekan aksi yang digelar puluhan wartawan di Pekanbaru, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad, dicopot dari jabatannya.Kombes Pol Zahwani Pandra Arsyad dimutasi se
Miliki Pil Ekstasi Berlogo Tengkorak, Pemuda Dumai Ditangkap Polisi
DUMAI - Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) Polres Dumai kembali berhasil mengungkap kasus tindak pidana penyalahgunaan narkotika di wilayah hukumnya.Dalam pengungkapan yang dilakukan pada Kamis&nb
2 Pejabat SPBU dan 2 Pemilik Gudang akan Diadili Kasus BBM Ilegal di Kuala Kampar Pelalawan
PELALAWAN - Kasus gudang Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi ilegal di Kelurahan Teluk Dalam, Kecamatan Kuala Kampar yang diungkap Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pelalawan pada 7 April akan
5 Kali Lecehkan Putri Tirinya Berumur 11 Tahun, Warga Langgam Ini Diamankan Polres Pelalawan
PELALAWAN - Seorang pria di Desa Padang Luas, Kecamatan Langgam diamankan Polres Pelalawan dalam kasus tindak pidana persetubuhan dan perbuatan cabul terhadap anak di bawah umur pada Selasa (23/6/2026
Resmi Masuk Penjara, Razman Nasution Jalani Hukuman 18 Bulan di Lapas Cipinang
JAKARTA â€" Razman Arif Nasution resmi menjalani hukuman penjara selama 18 bulan, setelah dieksekusi oleh Kejaksaan Negeri Jakarta Utara ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang, Jakarta Tim