5 Menit Terakhir
Senin, 16 Nov 2015 09:57
Jenderal (Purn.)Agum Gumelar, dalam kuliahnya kepada peserta Program Pendidikan Reguler Angkatan (PPRA) ke-51Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) menjelang akhir pendidikan kami di bulan Oktober tahun 2014, pernah mengatakan sebuah adagium menarik: hati-hati dengan 5 menit terakhir.
Seluruh peserta pendidikan hening dan menunggu penjelasan lebih lanjut dari ungkapan imperatif-simpatik itu. Dengan suaranya yang berkualitas microphonic itu beliau menjelaskan dengan teratur, terstruktur dan terukur makna di balik petuah itu melalui gambaran umum yang sering terjadi di sekitar kita.
Berapa banyak orang yang jatuh menjelang akhir masa tugasnya, bisa di pemerintahan, swasta atau di mana saja, hanya karena pikiran, ucapan dan tindakan mereka yang buruk di 5 menit terakhir. Tindakan fatal yang terjadi di saat-saat akhir itu ternyata menjadi komponen penilaian terpenting apakah seseorang layak mendapatkan atau tidak mendapatkan sesuatu. Bukankah ini memang sering terjadi pada kehidupan sebagian orang sejak masa lalu, kini dan nanti?
Rumah Terakhir
Ada sebuah kisah inspiratif yang bias menguatkan deskripsi empirik-faktual di atas. Alkisah, seorang tukang bangun rumah diminta oleh bosnya untuk mendesain dan membuat rumah terakhir untuknya sebelum ia diijinkan pensiun. Sang tukang dengan rasa kesal dan kecewa, disertai dengan gerutu mengumpat sang majikan sebagai bos yang tidak bijak sana.
Bukannya ia diberi hadiah atas jasanya selama ini yang telah membangun ribuan rumah untuk keuntungan sang atasan. Ini malah diminta untuk mendesain dan membuat rumah terakhir.
Bos tidak mau rugi, pikirnya. Dalam kondisi fisik dan psikis yang tidak bahagia, permintaan itu pun dilakukan dengan seadanya. Dan, rumah itu akhirnya jadi! Soal kualitas sudah tidak lagi menjadi acuan. Yang penting jadi! Sang tukang pun melaporkan kepada majikannya sambil memohon pamit untuk pensiun.
Sang majikan, sambil tersenyum bahagia, mengucapkan terima kasih sambil mengangsurkan sebuah amplop berisi uang pensiun, disertai kunci rumah yang baru selesai dibangun oleh sang tukang disertai ucapan,
"Terimakasih sudah membantu saya sekian lama. Saya tidak bisa memberikan apa-apa untuk masa tuamu, kecuali rumah yang kamu bangun terakhir ini.
"Gembira, sedih, kecewa, malu dan marah bercampur aduk bagaikan adonan makanan baru yang tidak tahu bagai mana rasanya. Seandainya ia membuatnya dengan sungguh-sungguh, tentu rumah ini akan jauh lebih baik dan sempurna! Penyesalan itu selalu dating terlambat. Yah, 5 menit terakhir!
Bekerja dengan Hati
Dua cerita di atas sesungguhnya memberikan pelajaran kepada setiap orang untuk berhati-hati menjalankan hidupnya, utamanya di akhir masa tugas. Apakah kita seorang mahasiswa, pendidik, usahawan, anggota parlemen, TNI, Polri, anggota keluarga/masyarakat dan seterusnya, jangan pernah jatuh karena hal-hal kecil dan dalam waktu 5 menit terakhir.
Teruslah lakukan yang terbaik. Apa pun yang terjadi, tidakakan ada yang disesali karena sudah dilakukan dengan sepenuh hati. Setiap yang ditanam, itulah yang akan dituai. Abaikan apakah itu dilihat orang lain atau tidak.
Meminjam istilah Aa Gym, "biar orang tidak melihat, masih ada yang Maha Menatap." Tidak akan ada perbuatan yang hilang dan nihil. Semuanya akan tercatat rapi dalam buku kehidupan setiap orang. Dan, tidak akan pernah ada ruginya pula melakukan yang terbaik. Justru yang sangat menyayat hati adalah saat kita tidak mampu melakukan yang terbaik dan itu pula yang menjadi penyebab kita jatuh atau dijatuhkan.
Syukuri apa yang ada, adalah cara terbaik untuk melakukan segala amanah pekerjaan dengan hati. Bersyukur bahwa kita masih memiliki berkah hidup yang sehat, kuat dan pekerjaan yang hebat adalah motivasi yang bias membuat setiap pekerjaan dikerjakan dengan usaha dan upaya terbaik. Bukan sebaliknya, berkarya asal-asalan yang akhirnya membuat segala mimpi buruk terjadinya tadi depan mata. Camkanlah bahwa lebih baik kita sibuk bekerja dari pada sibuk mencari pekerjaan! Karenanya, hati-hatilah dengan 5 menit terakhirmu, kawan.
Penulis adalah Komunikator No. 1 Indonesia, FB/Twitter/Instagram: @PonijanLiaw, Email: po@ponijanliaw. asia, tinggal di Jakarta
Opini
Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional
JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone
Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta
JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad
Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur
JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat
Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait
JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran
Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang
JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal