Rabu, 29 Apr 2026

HIV-AIDS Kini Ada di Sekitar Kita

Selasa, 01 Des 2015 08:43
Ilustrasi

Tahun 1993, Bank Dunia menyebutkan di Indonesia angka yang terkena atau penderita HIV positif masih sangat sedikit meskipun laporan Bank Dunia itu mengatakan Indonesia termasuk negara yang rawan AIDS. Boleh jadi karena angkanya masih sedikit, pemerintah Indonesia tidak begitu serius dan kurang cermat dengan laporan Bank Dunia yang menyebutkan Indonesia termasuk negara rawan AIDS.

Pada tahun itu juga penulis bersama dr. Rizali H Nasution dan dr. Delyuzar serta para relawan lainnya aktif mengkampanyekan bahaya Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) lewat Yayasan Humaniora Medan kepada masyarakat Kota Medan dan Sumatera Utara. Kala itu sedikit sekali yang peduli tentang bahaya AIDS.

Kini laporan Bank Dunia itu ternyata benar. Penderita AIDS di Indonesia bukan saja hanya ada di rumah sakit akan tetapi sudah dimana-mana, pada semua tempat dan bahkan boleh jadi sudah ada di lingkungan kita, ada di sekitar kita semua.

Menurut Indonesia Partnership Fund For HIV and AIDS, diperkirakan jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia mencapai 400.000 orang dan 100.000 orang akan meninggal karena AIDS. Pada tahun 2015 jumlah ODHA di Indonesia akan meningkat menjadi 1 juta penderita dan diperkirakan pula akan ada 350.000 kematian akibat AIDS pada tahun yang sama.

Jumlah kasus AIDS baru yang tercatat pada tahun 2006 mencapai 2873 kasus, jumlah ini meningkat lebih dari 2 kali lipat dibandingkan dengan jumlah kasus 17 tahun sebelumnya. Dari kasus baru yang dilaporkan, 82% terjadi pada laki-laki dan 74% di antaranya berumur di bawah 30 tahun. Sementara itu, Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan bahwa ada sekitar 171.000 sampai 219.000 ODHA di Indonesia.

Mengutip pemberitaan Kantor berita Antara menyebutkan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan Pemerintah Indonesia berkomitmen tinggi dalam program pengendalian HIV/AIDS. Berbagai upaya telah dilakukan, misalnya memastikan tes diagnostik dan menyediakan Anti Retro Viral (ARV) di seluruh provinsi. Pernyataan ini disampaikan Kepala BKKBN Surya Chandra Surapaty Senin (23/11) di Bangabandhu International Conference Centre (BICC), Dhaka, Bangladesh.

Cepat, Belum Terlambat

Dua puluh dua tahun lalu, 1993 HIV/AIDS sudah masuk ke Indonesia dan sejak ditemukan HIV-AIDS sampai hari ini terus didominasi oleh faktor sosial. Artinya, selama obat yang ampuh untuk mengobati HIV-AIDS belum ditemukan maka selama itu pula didominasi faktor sosial maka penanganannya juga harus dengan sosial belum bisa mengandalkan faktor medis.

Jumlah penderita HIV-AIDS yang kini ada di Indonesia sudah pada tingkat membahayakan akan tetapi belum terlambat jika cepat melakukan pencegahan dan komitmen yang besar dari pemerintah serta semua pihak di Indonesia. Harus cepat sebelum terlambat maka sosialisasi HIV-AIDS harus gencar. Sayangnya hal itu belum terlihat di Indonesia.

Mengapa sosialisasi harus gencar? Jawabnya karena semua orang, semua kita bisa terkena atau terinfeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Bila semua orang atau semua kita bisa kena HIV maka dibutuhkan pencegah yang baik dan tepat. Sementara secara medis sampai hari ini belum ditemukan obat yang benar-benar ampuh mengobati HIV apa lagi sudah masuk menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

HIV suatu gejala penyakit yang dapat menurunkan system kekebalan tubuh dan berlanjut menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) yang pada 1 Desember diperingati sebagai Hari AIDS se-Dunia. Awalnya tahun 1970-an HIV-AIDS ditemukan di Negara Afrika sub-Sahara dan kasus ditemukannya HIV-AIDS ini tersiar pada Juni 1981 di Los Angeles serta di Indonesia tahun 1990-an.

HIV-AIDS masih dominan faktor sosial maka penanganannya juga harus melalui penanganan sosial. Hal itu karena terjangkit HIV-AIDS disebabkan pola hidup, gaya hidup, tingkah laku, perilaku sosial di masyarakat. HIV-AIDS dapat dikategorikan dalam kelompok penyakit baru sebelum ditemukan obat yang ampuh menyembuhkan AIDS. Bila sudah ditemukan obat yang ampuh mengobati AIDS maka menjadi seratus persen fakta medis dan penanganan masalah AIDS harus melalui tindakan medis.

Penanganan HIV-AIDS dari faktor medis belum dapat berbuat banyak maka faktor sosial lebih diutamakan untuk memutus mata rantai pertambahan jumlah penderita HIV-AIDS. Hal ini berdasarkan hasil kajian medis, menular HIV itu lewat hubungan seks yang tidak aman atau dengan pasangan yang tidak diketahui apakah sudah terkena atau terinfeksi HIV positif, melalui transfusi darah dari yang terkena HIV kepada yang belum terkena HIV, melalui pemakaian jarum suntik (injeksi) dari yang terkena HIV kepada yang tidak terkena HIV.

Berdasarkan kajian medis menularnya HIV-AIDS itu lebih banyak disebabkan pola hidup, gaya hidup masyarakat yang bebas. Kehidupan seks bebas dan tidak terkendali menjadi penyebab bertambahnya penderita HIV-AIDS. Berdasarkan kajian medis itu maka langkah medis untuk menanggulangi meningkatnya penderita HIV-AIDS dilakukan berdasarkan penyebab HIV-AIDS itu sendiri.

Langkah medis dapat dilakukan dengan tidak melakukan hubungan seks yang tidak aman. Artinya, pasangan yang melakukan hubungan seks bebas dari HIV. Persoalan muncul di masyarakat sebab sulit untuk memastikan pasangan seks bebas dari HIV. Hal itu karena tidak terlihat dengan kasat mata. Tidak ada bedanya pasangan terkena HIV dengan pasangan yang tidak terkena HIV. Sama cantik dan segarnya, tidak ada tanda-tanda pasangan sudah terkena HIV.

Faktor sosial menjadi sangat penentu. Secara medis memang bila ingin juga melakukan hubungan seks dengan pasangan yang belum diketahui bebas dari HIV maka pergunakan kondom. Ingat, mempergunakan kondom bukan jaminan aman seratus persen tidak terkena HIV-AIDS.

Tindakan medis lainnya untuk mencegah tertular HIV-AIDS adalah tidak mempergunakan satu jarum suntik untuk beberapa orang, satu jarum suntik untuk satu orang. Hal ini umumnya sudah dilakukan paramedis di rumah sakit. Melakukan pemeriksaan darah sebelum melakukan transfusi darah dari satu orang kepada orang lain. Hal ini yang belum sepenuhnya dilakukan.

Tindakan medis yang dilakukan juga masih ditentukan dengan tindakan sosial seperti transfusi darah, penggunaan jarum suntik sehingga penanganan sosial menjadi sangat penting seperti yang selalu menjadi sorotan, pro dan kontra tentang anjuran memakai kondom. Anjuran secara medis ini mendapat reaksi sosial sebab anjuran memakai kondom harus dimaknai bukan berarti tindakan medis itu melegalkan atau membolehkan orang melakukan perzinaan atau seks bebas.

Faktor sosial masyarakat akan sangat menentukan tidak bertambahnya jumlah penderita HIV-AIDS dan penentu dari keberhasilan mencegah HIV-AIDS. Masalah sosial dalam HIV-AIDS sangat menonjol sebab menyangkut soal perilaku, tingkah laku, gaya hidup, kebiasaan masyarakat yang menyimpang dari norma-norma kebiasaan yang normal.

Kesiapan masyarakat untuk lepas dari gaya hidup masyarakat yang menyimpang dari norma-norma kebiasaan yang normal sesuai dengan adat, budaya dan agama sangat besar gunanya dalam mencegah terkena atau terinfeksi HIV. Langkah yang tepat dalam menanggulangi HIV-AIDS dengan mengembalikan pola hidup yang sesuai dengan norma adat, budaya dan agama. Secara medis yang bisa dilakukan melakukan tindakan pencegahan sebelum terkena HIV-AIDS sebab obat yang benar-benar ampuh belum ditemukan untuk mengobatinya. Masalah HIV-AIDS belum bisa sepenuhnya dilakukan tindakan medis untuk mengobati maka faktor sosial harus diutamakan.

Ancaman HIV-AIDS sangat menakutkan maka kata kuncinya masyarakat harus waspada karena semua orang atau semua kita bisa kena HIV dan jika sudah terkena HIV akan berlanjut menjadi AIDS. Kini AIDS ada di sekitar kita maka segera menganalisa perilaku, kebiasaan, tingkah laku dari masing-masing kita. Bila menyimpang dari kebiasaan yang normal, segera kembali sebelum terlambat. Inilah makna sesungguhnya memeringati Hari AIDS se-Dunia tahun ini.

(analisadaily.com)
Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.