Rabu, 29 Apr 2026

Opini

Menjaga Pilpres

Oleh: Nada Sukri Pane
Minggu, 14 Apr 2019 07:36
(Foto:Google)
Ilustrasi

Hari pencoblosan Pemilu Pemilihan Pre­siden (Pilpres) tinggal beberapa hari lagi. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 17 April 2019 nanti. Ka­dang hati tak sabar lagi menunggu hari pen­coblosan ini. Sangat penasaran siapa yang menang diantara dua pasangan Ca­pres ini. Karena berdasarkan kam­panye se­lama enam bulan telah dilalui, teramat su­lit angka kemenangan di prediksi. Jika­pun ada lembaga survei yang menam­pil­kan data keunggulan di medsos atau di te­le­visi, tetapi itu tak dapat sepenuhnya dipercayai.

Menjadi seorang presiden merupakan impian hampir semua orang. Karena jadi presiden atau wakil menjanjikan kesena­ngan, kehormatan, keagungan. Padahal tidak selalu demikian, karena dibalik ke­besaran tentu ada tanggung jawab yang harus diselesaikan. Sungguh benar sabda Ra­su­lullah ketika beliau menyampaikan ha­dits yang diriwayatkan dari Abu Hu­rairah; "Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepe­mim­­pinan, padahal kelak di hari kiamat ia akan menjadi penyesalan." (Riwayat, Abu Hu­rairah)

Tim pemenangan kedua kubu mulai bergentanyangan. Berbagai iklan, ma­nu­ver, motivasi dilakukan. Ratusan janji ma­nis berceceran, jika nanti kami me­nang, hidup rakyat akan aman, tak ada lagi penderitaan, tak ada lagi yang pe­sa­kitan, tak ada lagi yang kelaparan, tak ada lagi sekolah yang memberatkan, se­mua kan diberi bantuan. Bagi yang telah membantu, berbagai proyek akan di­berikan. Jangan takut jangan bimbang, kita tak akan terkalahkan. Ayo semua beri dukungan.

Tapi kadang nalar cara berpikir tak lagi berpungsi seba­gaimana mesti, ka­rena sudah dirasuki rasa benci. Jika kita su­dah benci kepada salah satu pasangan, maka apapun yang dilakukan, walau benar sekalipun, tetap dibenci. Diperbu­ruk dengan ketakutan akan kekalahan meng­hantui. Akibatnya mata jadi buta hati jadi mati, berburuk sangka sana-sini. Semua orang yang tidak sama pili­han, disakiti. Kalau sudah begini, bu­kan tidak mungkin Pilpres ini bisa buat stres dan sakit hati?! (The presidential election is chaotic).

Antisipasi

Biasanya sore pasca pencoblosan, KPU sudah merilis per­olehan suara sementara melalui medsos dan televisi. Me­mang angka tersebut masik naik turun berfluk­tuasi. Te­ta­pi pukul 18.00 WIB, biasanya jumlah pemilih telah mencapai 70 %. Artinya siapa pasangan yang ung­gul dalam peroleran suara sementara se­cara signifikan, maka sudah dapat di­pre­dek­si akan memenangkan pilpres tahun ini. Bah­kan sudah ada salah satu paslon menerima ucapan se­la­mat dari family (Congratulations on winning the elec­tion).

Pada malam hari, dikhawatirkan kubu yang kalah merasa sakit hati. Mereka merasa kekalahan ini karena kecurangan di­sana-sini, dijalimi. Bukan tidak mung­kin mereka akan merasa keberatan dan membuat kekacauan disana-sini. Me­mang hal ini tidak kita inginkan terjadi, tetapi kadang muncul profokator dan agi­tasi. Mereka tak peduli lagi dengan akibat yang ditimbulkan dari keributan ini. Akibatnya anak bangsa kedua kubu bisa choas berkelahi (War of elec­tion vo­lunteers)

Oleh karena itu dari sekarang kita ha­rus mencegah berbagai kemungkinan buruk pasca hari pencoblosan. Kita harus mengantisipasi dari sekarang. Menurut saya ada empat komunitas yang harus melakukan pencegahan dari hal-hal yang tidak diinginkan. Pertama Tokoh Agama. Para tokoh agama seperti ustadz, pendeta, bikshu dan sebagainya hen­daklah jangan pernah berhenti menyampaikan penting­nya sebuah perdamaian dan keutuhan. Percuma menang pemilu, jika negara tak aman (Election victory is futile).

Semua tokoh agama di negeri ini harus me­nyampaikan siraman rohani tentang se­juknya siraturrahmi dan persaha­batan. Ust­adz atau pendeta harus senatiasa mem­beri pesan kitab suci tentang janji surga buat orang yang melakukan ke­baikan dan hukuman neraka buat orang yang menyukai permusuhan. Dengan kasih sayang, ulama atau tokoh agama apa­pun di negeri ini dapat menceritakan ber­bahayanya jika terjadi bentrokan. De­ngan kasih sayang semua masalah dapat terselesaikan (Mahabat wamaha­ba).

Kedua guru dan dosen. Anak muda yang cendrung memi­liki semangat ber­api-api akan mudah tersulut emosi. Oleh karena itu guru dan dosen harus meng­antisipasi berupaya menenangkan emosi anak muda ini. Mereka harus dibekali ten­tang arti demokrasi, memaha­mi makna dari pemilu ini sebagai media me­milih pemimpin bangsa ini. Jika dalam memilih pemimpin saja kita berkelahi, maka pemimpin yang terpilih juga nanti memimpin dengan tangan besi (Iron hand government).

Guru dan dosen dalam berbagai pem­belajaran jangan lupa berpesan ten­tang arti pemilu yang sedang dilaksana­kan. Sebaiknya selipkan buruknya se­buah permusuhan dan kebencian. Rektor dan Kepala sekolah berpesan agar jangan ada satupun yang kelak dipanggil polisi yang dapat mence­markan nama baik pen­di­dikan. Boleh juga memberikan anca­man akan mengeluarkan siswa yang di­tang­kap pihak keamanan karena ikut-iku­tan. Agar mengajak siswa menge­de­pan­kan rasa persatuan dan kesatuan (Unity price unit is dead).

Ketiga Ibu. Orang yang paling do­mi­nan memberikan kesejukan adalah emak yang penyayang. Emak harus me­nyi­ramkan kasih sayang tak berhenti tentang indahnya sebuah persahabatan. Emak harus berpesan kepada anak dan suami agar turut serta menjaga pemilu yang da­mai dan aman. Melalui perkum­pu­lan atau perwiritan, agar me­nyam­paikan in­dahnya persaudaraan. Jika me­ne­mukan ben­­trokan di jalan segera men­da­maikan atau menghindar dari lokasi perseteruan (Avoid the location of clashes).

Keempat aparat keamanan. Institusi Polri dan TNI harus senantiasa siaga dari ber­bagai api permusuhan. Segera pa­dam­kan api yang kecil sebelum menjadi besar membakar menakutkan. Jangan sampai merembet membakar permu­suhan diantara kedua kubu pasangan. Aparat keamanan harus segera menertib­kan jika ada oknum salah satu pasangan yang mulai memancing keributan. Aparat keamanan harus merapatkan barisan siaga satu sejak menjelang hari pencob­losan, mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. (Pre­venting commotion).

 Polri dan TNI Polri harus menitipkan keamanan pemilu kepada semua organi­sasi kemasyarakatan. Bila perlu kum­pul­kan semua organisasi pemuda dan mem­beri pengarahan agar turut serta mem­be­rikan keamanan. Polri sebagai pe­nang­gung jawab keamanan perlu mengajak KPU, Bawaslu, lembaga pemantau, lem­baga survei, para relawan. Agar semua saling berjabat tangan, merapatkan ba­ri­san menjaga keutuhan. Berjanji "siap me­nang kalah" dalam sebuah pemilihan (Pro­mise ready to win defeat).

Penutup

Jika prediksi kemenangan telah di rilis di medsos dan televisi, maka segenap rela­wan yang merasa menang harus dapat menahan diri. Jangan tergesa sesumbar riang gembira membanggakan diri kesana kemari. Jangan memancing ke­marahan kubu yang perole­han suaranya terlam­paui. Se­baiknya ber­upaya mensyukuri sem­bari saling koordinasi jangan ada satu­pun yang terpancing emosi. Karena ke­me­nangan adalah ujian menuju kelas yang lebih tinggi, apakah dapat men-syukuri atau malah meng-ingkari (Sukur lidhidh 'aw kufr ladhidh ).

Sebaliknya bagi kubu yang kalah ja­ngan pula menya­lahkan sana-sini. Teri­malah kekalahan ini dengan lapang hati. Anggap saja ini belum rejeki, mung­kin ada rejeki lain telah menanti. Tak usah me­ngadakan gugatan kesana-ke­mari. Tun­jukkan saja senyum rasa sim­pati, me­nerima keka­lahan ini dengan be­sar hati. Bahwa menang kalah adalah se­suatu yang lumrah dalam pemilu ini. Jika Anda ikhlas menerima kekalahan ini, maka Anda-lah pahlawan sejati de­mo­­krasi.***

Penulis Guru SMANegeri 16 Medan, Mahasiswa Program Doktor PEDI UIN SU.

sumber:analisadaily.com

Opini
Berita Terkait
  • Sabtu, 14 Mar 2026 15:06

    Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau

    DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga

  • Minggu, 07 Sep 2025 10:19

    Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi

    Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L

  • Senin, 02 Des 2024 19:18

    Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir

    TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da

  • Senin, 27 Mar 2023 20:06

    Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang

    Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020  tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan

  • Minggu, 12 Mar 2023 09:40

    Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme

    Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.