Tantangan Terbuka Rizal Ramli
Sabtu, 22 Agu 2015 18:29
TIDAKLAH elok rasanya jika Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal
Ramli melemparkan tantangan debat terbuka kepada atasannya, Wakil
Presiden Jusuf Kalla. Para menteri adalah pembantu presiden, yang
dipilih rakyat secara langsung dalam satu paket bersama wakil presiden.
Sebagai anggota kabinet, semestinya Menteri Rizal bisa menjaga emosi
ketika disindir atasannya, Wakil Presiden Jusuf Kalla, agar tak
mengurusi perkara di luar bidang tanggung jawabnya.
Bukannya legowo disentil atasan, Menteri Rizal malah bersikap tak
etis: menyerang JK yang menggagas proyek pembangkit listrik 35 ribu
megawatt. Sebagai mantan Menteri Koordinator Perekonomian di era
Presiden Abdurrahman Wahid, Rizal semestinya paham akan tugas pokoknya.
Menantang debat terbuka ihwal proyek listrik yang sejatinya sangat
diperlukan rakyat banyak itu niscaya akan menjadi bumerang baginya.
Apalagi ternyata Presiden Joko Widodo serta Menteri Energi dan Sumber
Daya Mineral Sudirman Said, bawahannya, berkukuh tidak akan merevisi
target pembangunan pembangkit listrik tersebut.
Menunjukkan sikap frontal terhadap atasan niscaya membuat publik
ragu akan solidnya kabinet baru Jokowi. Apalagi Rizal melontarkan
tantangan itu pada pekan-pekan pertama masa jabatannya. Ia semestinya
sadar bahwa tugasnya sebagai menteri sangat berbeda dengan ketika
dirinya masih menjadi pengamat ekonomi. Betapapun kontroversial
pendapatnya, tak ada urusan. Namun kini ada implikasi serius dari setiap
larik statement yang ia keluarkan.
Kritik terhadap kebijakan kolega, bahkan keputusan atasan, tentu
saja sangat diperlukan. Mungkin saja kekhawatiran Rizal ada benarnya.
Setelah mempelajari secara saksama, mungkin ada kongkalikong di balik
pengadaan proyek listrik itu. Rencana pembelian 30 pesawat boleh jadi
harus dibatalkan karena hanya membikin merah buku Garuda. Bukan pula
mustahil ada pejabat "bermain" dalam proyek kereta api cepat
Jakarta-Bandung.
Namun seyogianya hal itu ia sampaikan di forum yang sepatutnya,
misalnya sidang kabinet, baik sidang pleno maupun terbatas. Tak puas di
sidang kabinet? Silakan appeal: khusus menghadap Presiden Jokowi.
Jelaskan kepada Presiden apa yang sesungguhnya terjadi berikut implikasi
buruknya bagi negara. Biarlah Presiden yang bertindak.
Baguslah kalau akhirnya Menteri Rizal ditegur Presiden Jokowi
lantaran tudingannya yang prematur itu. Syukurlah kalau akhirnya
keriuhan ini berakhir dengan canda-tawa ketika Rizal bersalaman dengan
JK menjelang sidang kabinet. Akhir kronik ini hendaknya bukan basa-basi,
melainkan didasari kesadaran menjaga soliditas berada dalam satu
perahu.
Sumber : tempo.co
Opini
Birokrasi, Investasi, dan Jalan Baru Pembangunan Provinsi Riau
DALAM Dalam diskursus pembangunan daerah, otonomi sering kali dipahami secara sederhana: jika infrastruktur dibangun, investasi akan datang; jika investasi datang, ekonomi daerah akan tumbuh. Pandanga
Rumah Besar PWI Harus Dirawat Bersama, Persatuan Lebih Mulia dari Ambisi
Kongres Persatuan PWI di Cikarang, Bekasi, 29-30 Agustus 2025, telah menjadi tonggak penting dalam perjalanan organisasi wartawan tertua di Indonesia. Dengan penuh suasana demokratis, Direktur Utama L
Pilkada Rohil: Sejarah Berulang Petahana Tumbang, Bistamam Harapan Baru Rokan Hilir
TAHUN 2024 menjadi tahun politik yang penuh tantangan bagi Bupati Rokan Hilir (Rohil), Afrizal Sintong. Pada 27 November 2024, masyarakat Rokan Hilir memilih pasangan Bupati dan Wakil Bupati da
Undang Undang Cipta Kerja Yang Sempat Dipandang Tidak Baik Oleh Beberapa Orang
Dikenal dengan Omni buslaw, UU 11 Tahun 2020 tentang Penciptaan Lapangan Kerja merupakan undang-undang yang fenomenal. Undang-Undang cipta kerja dirancang dengan kecepatan tinggi dan memaparkan
Blackpink, Kaum Muda, dan Nasionalisme
Indonesia pada Maret ini kedatangan group K-Pop dunia asal Korea Selatan, Blackpink. Rasanya tak ada kaum Milenial maupun Gen-Z yang tidak kenal dengan group ini. Antusiasme ditunjukkan Blink dengan k