Rabu, 29 Apr 2026
  • Home
  • Opini
  • Terorisme, ISIS, dan Pesan Solidaritas Islam

Terorisme, ISIS, dan Pesan Solidaritas Islam

Jumat, 27 Nov 2015 09:05
Ilustrasi

SERANGKAIAN aksi teror yang dipusatkan di sejumlah Landmark ibu kota negara Prancis, Paris (13/11) menyisakan duka mendalam bagi warga Prancis dan warga di seluruh dunia. Pasalnya, imbas dari aksi teror yang membabi buta tersebut ratusan nyawa warga sipil melayang sia-sia. Selain itu, ratusan warga sipil lainnya mengalami luka-luka, baik luka berat maupun luka ringan. Pejabat Prancis sebagaimana dikutip Reuters sempat menyebutkan sedikitnya 153 warga sipil tewas. Belakangan, angkanya menjadi semakin jelas setelah dilakukan identifikasi terhadap para korban, yakni sekitar 128 warga sipil tewas. Aksi teror di Paris ini dapat dikatakan merupakan aksi teror terbesar di Eropa sejak pengeboman kereta di Kota Madrid, Spanyol pada medio 2004 silam. Atas tragedi ini Presiden Perancis, Francois Hollande langsung mengumumkan keadaan darurat dan mengerahkan tak kurang dari 1.500 tentaranya untuk mengamankan situasi Perancis.

Di sisi lain, Negara Islam Irak dan Suriah atau Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) mengklaim bertanggung jawab sepenuhnya atas serangkaian aksi teror yang dilancarkan di sejumlah landmark Kota Mode Dunia itu. Dalam pernyataannya yang dirilis secara online di dua bahasa, yaitu Arab dan Perancis, ISIS menyatakan bahwa delapan pejuang yang disebut sebagai saudara itu dipersenjatai dengan rompi berbahan peledak dan senapan. Di samping itu, ISIS juga menyebut Paris sebagai ibu kota kebencian dan penyimpangan (Kompas,14/11/2015). Meskipun belum ada bukti valid atas kebenaran klaim ISIS, tetapi kuat dugaan bahwa pelaku aksi teror di Paris memang didalangi oleh ISIS. Itu karena, dari pelbagai paham radikal yang ada saat ini, hanya ISIS yang mempunyai kemampuan melakukan aksi serangan "sedahsyat dan serapi" aksi teror di Paris.

Dampak Aksi Teror

Bagi Islam, serangkaian aksi teror yang dilakukan oleh ISIS itu mempunyai dampak tersendiri yang tidak dapat disepelekan, utamanya dari perspektif psikologisnya. Mafhum disadari, dalam setiap aksi teror yang dilakukan ISIS kerap kali membawa-bawa (agama) Islam di dalamnya. Pun demikian pada serangkaian aksi teror nan keji di Prancis. Pada penyerangan di Gedung Konser Bataclan misalnya, beberapa saksi hidup atas aksi teror itu menyebut bahwa pelaku (baca: teror) meneriakkan kalimat "Allahu Akbar" sebelum memberondongkan senjata yang diduga AK47 ke arah warga sipil. Setali tiga uang, pelaku aksi teror di restoran Kamboja, Le Petit Cambodge di kawasan Rue Bichatat, juga meneriakkan kalimat serupa sebelum memberondongkan tembakan secara membabi buta ke arah warga sipil. Alhasil, dalam konteks aksi teror di Prancis, Islam tetap menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan sekali pun sejatinya para aktor keji di lapangan adalah anggota ISIS.

Alih-alih berusaha menegaskan bahwa teror di Paris tidak sama sekali mengandung unsur agama, termasuk Islam, negara-negara barat cenderung lebih senang hanya mengungkapkan bahwa aksi teror di Paris merupakan tragedi kemanusiaan. Presiden Amerika Serikat Barrack Obama misalnya, "hanya" mengatakan bahwa aksi teror di Paris bukan sekedar serangan terhadap warga Prancis, namun juga merupakan serangan terhadap kemanusiaan dan nilai-nilai universal. Sementara para pemimpin negara barat lainnya, seperti Presiden Rusia Vladimir Putin, Kanselir Jerman Angela Merkel, hingga Perdana Menteri Inggris David Cameron juga sama sekali tidak menegaskan kealpaan unsur agama pada aksi terorisme di Paris. Bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang notabene merupakan presiden negara dengan jumlah penduduk beragama Islam (baca: muslim) terbanyak di dunia, pun sama sekali tidak berusaha menegaskan kealpaan Islam dalam aksi di Prancis tersebut. Dampaknya, umat Islam dunia dan umat Islam di Prancis khususnya sekali lagi harus merasakan dinginnya "dikucilkan" oleh warga dunia atas terjadinya aksi teror di negara yang mempunyai moto Liberte, Egaliter, dan Fraternite itu.

Solidaritas bagi Islam

Aksi terorisme, sebagaimana pandangan Ibnu Burdah (2015) sejatinya dilakukan untuk menyampaikan sebuah pesan. Itulah mengapa, para pelaku teror (baca: teroris) selalu memilih lokasi yang ramai dan strategis ketika hendak melancarkan aksinya itu. Terkait aksi teror di Paris sendiri, sejumlah lokasi yang dijadikan target mafhum disadari memang adalah Landmark dari Paris. Seperti, Gedung Konser Bataclan, Restoran Le Petit Cambodge, Restoran La Belle Equipe, bar Le Carillon, dan bar di dekat Stade de France. Pada titik ini, aksi terorisme jelas tidak hanya diorientasikan untuk melakukan tindakan-tindakan keji, seperti pembantaian dan pembunuhan massal. Tetapi, aksi teror jelas juga digunakan untuk menghancurkan kelompok atau agama tertentu.

Oleh karenanya dalam konteks teror di Paris, solidaritas tidak saja perlu diberikan kepada para korban, tetapi juga pada (umat) Islam yang unsur serta identitasnya secara nyata sengaja dilekatkan pada para pelaku teror agar citra Islam menjadi buruk di mata dunia internasional. Hal ini setali tiga uang dengan pandangan Akademisi Universitas California Reza Aslan, yang menyatakan bahwa Islam hanya agama seperti setiap agama yang ada di dunia, tergantung pada apa yang kamu bawa. Maksudnya, Islam tidak berbeda dengan agama-agama lainnya, perbedaan hanya terletak pada pribadi masing-masing orang bukan berada pada agamanya.

Singkatnya, apabila kita adalah orang yang membawa pengaruh kekerasan, maka baik diri kita penganut Islam, Hindu, Yahudi, Kristen atau pun penganut agama lainnya, kita akan tetap menjadi orang yang penuh dengan kekerasan. Sebaliknya, jika diri kita adalah orang yang membawa pengaruh kelembutan dan kasih sayang, maka baik diri kita adalah penganut Islam, Hindu, Kristen atau pun penganut agama lainnya, kita akan tetap selalu membawa kelembutan serta kasih sayang itu. Oleh sebab itu, penting bagi semua pihak untuk mulai memahami dan memisahkan setiap aksi teror yang terjadi dengan keberadaan agama tertentu, termasuk (agama) Islam. Karena pada hakikatnya antara terorisme dan Islam, maupun dengan agama-agama lainnya tidak sama sekali mempunyai unsur kedekatan, terlebih persamaan.

(analisadaily.com)
Opini
Berita Terkait
  • Selasa, 28 Apr 2026 22:18

    Budaya Indonesia Masuk Ruang Digital, Ini yang Terjadi di Museum Nasional

    JAKARTA - Pemerintah bersama sejumlah pihak swasta dan platform digital menghadirkan pameran serta aktivasi karakter kreatif yang terinspirasi budaya Indonesia di Museum Nasional Indone

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:15

    Pasca Kecelakaan, Bos Danantara Tegaskan Evaluasi Total Sistem Keselamatan Kereta

    JAKARTA â€" Kepala Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Rosan P. Roeslani menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas tragedi kecelakaan yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek pad

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:12

    Purbaya Akan Tanggung 100 Persen PPN Avtur

    JAKARTA â€" Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa resmi menerbitkan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah (DTP) sebesar 100 persen untuk pembelian tiket pesawat

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:10

    Tembus Sistem Pertahanan AS, Jet Tempur Jadul F-5 Iran Bom Pangkalan Udara Kuwait

    JAKARTA â€" Sebuah laporan mengklaim bahwa jet tempur lawas F-5 Angkatan Udara Iran berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dan mengebom pangkalan militer Camp Buehring di Kuwait dalam peran

  • Selasa, 28 Apr 2026 22:08

    Iran Ajukan Proposal kepada AS untuk Buka Selat Hormuz, Akhiri Perang

    JAKARTA - Iran telah mengajukan proposal baru kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri perang, dengan menunda negosiasi nuklir ke tahap selanjutnya. Proposal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.