Jumat, 06 Feb 2026
  • Home
  • Peristiwa
  • Bocah SD Ngada Akhiri Hidup, Kebijakan Pendidikan Nasional Dinilai Tak Sentuh Rakyat

Peristiwa

Bocah SD Ngada Akhiri Hidup, Kebijakan Pendidikan Nasional Dinilai Tak Sentuh Rakyat

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 06 Feb 2026 09:15
(FotoGoriau.com)
JAKARTA â€" Tragedi bunuh diri seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), memicu kritik tajam terhadap efektivitas penyaluran bantuan pendidikan. Negara dinilai gagal hadir untuk menjamin hak dasar anak meski memiliki anggaran pendidikan yang besar.

Ketua Dewan Pakar Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Rakhmat Hidayat menyatakan, pemerintah seharusnya berbenah total. Menurutnya, dengan alokasi anggaran pendidikan sebesar 20 persen dari APBN serta adanya program tambahan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), kasus memilukan seperti ini tidak semestinya terjadi.

"Harusnya dengan anggaran 20 persen APBN dan program-program seperti MBG itu, negara bisa hadir," ujar Rakhmat, Kamis (5/2/2026).

Rakhmat menyoroti ketimpangan antara kebijakan pusat dan realita di tingkat rumah tangga. Ia menilai persoalan utama bukan pada ketersediaan anggaran, melainkan buruknya implementasi di lapangan yang menyebabkan banyak keluarga miskin tidak tersentuh bantuan.

"Masalahnya sering kali kebijakan itu tidak sampai pada level rumah tangga. Di situ sering terjadi program PKH tidak sampai, bansos tidak sampai," urainya.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa keluarga korban di Ngada ternyata belum pernah menerima bantuan sosial apa pun dari pemerintah. Kepedulian otoritas setempat baru muncul setelah nyawa bocah tersebut hilang.

"Dalam kasus ini, setelah dicek ternyata keluarganya tidak pernah mendapatkan bansos. Baru setelah kejadian itu, bupatinya memberikan bantuan. Tapi sudah terlambat, satu nyawa sudah hilang," tegasnya.
Peristiwa ini dianggap sebagai rapor merah bagi politik pendidikan nasional. Rakhmat menekankan bahwa kegagalan negara dalam memastikan perlindungan dan jaminan bantuan beasiswa bagi anak yang paling membutuhkan adalah sebuah hal yang memalukan.

"Hilang satu nyawa karena tidak bisa sekolah itu adalah memalukan dalam konteks politik pendidikan. Karena negara punya anggaran, yang harusnya hadir dengan memberikan jaminan perlindungan bantuan beasiswa dan seterusnya," tutup Rakhmat. (grc)
Sumber: GoRiau.com

Peristiwa
Berita Terkait
  • Jumat, 06 Feb 2026 14:05

    Peduli Lingkungan dan Sesama, Inilah Rangkaian Kegiatan Sosial Imlek 2026 di Riau

    PEKANBARU - Perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di Provinsi Riau direncanakan akan berlangsung dengan berbagai kegiatan sosial. Seluruh organisasi masyarakat (ormas) Tionghoa di Kota Pekanbaru akan bersatu

  • Jumat, 06 Feb 2026 13:53

    Air Mata Haru Ibu di Dumai: Saat Token Habis dan Listrik Menjerit, Polisi Datang Menolong

    DUMAI â€" Sebuah rumah kontrakan sederhana di wilayah hukum Polsek Dumai Timur mendadak riuh. Di tengah suara detak mesin meteran listrik yang mulai menjerit lantaran kehabisan token, hadir rombongan

  • Jumat, 06 Feb 2026 13:07

    Awal 2026, Petenis Belia PTPN IV PalmCo Juara Umum TDP Series Sumatra

    PEKANBARU â€" Akademi Tenis Nusalima (ATN) di bawah binaan PTPN IV PalmCo Riau berhasil membuka tahun 2026 dengan awal yang manis usai merengkuh juara umum Kejuaraan Nasional Yunior RJ Series III TDP

  • Jumat, 06 Feb 2026 11:24

    Riau Puncaki Jumlah Hotspot di Sumatera, BMKG Deteksi 100 Titik Panas

    PEKANBARU â€" Provinsi Riau kembali menjadi daerah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Pulau Sumatera. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat, hingga Jumat (6/2/202

  • Jumat, 06 Feb 2026 11:18

    Edukasi PHR, 1.600 Pahlawan Cilik di Duri Belajar Jadi Penakluk Api

    DURI -" Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun riuh tawa dan tepuk tangan sudah pecah memenuhi lapangan. Ratusan anak berseragam warna-warni tampak berjingkat kegirangan saat melihat pancaran air m

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.