Fahrin Waruwu
Pemandian air panas di Rohul.
ROKANHULU - Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), menyimpan sejuta potensi wisata, baik itu alam, budaya, history dan lainnya, untuk mengakomodir supaya bisa dimanfaatkan menjadi salah satu sektor ekonomi masyarakat, dibutuhkan kerja sama konstruktif.
Disampaikan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisburpar) Rohul, Yurika di ruang kerjanya, Komplek Pemda Pasir Pangaraian, Kamis (28/1). Katanya, untuk membangun wisata menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat.
" Kita sudah buat penelitian pariwisata dan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan (RIPPDA) analisis pasar wisatawan statistik pariwisatan, baik itu sifatnya wisata alam, budaya, sejarah dan lainnya," tutur Yurika.
Namun, lanjut, pejabat, putri Kota Dalu-dalu ini, perlu adanya penyusunan Detailed Engineering Design (DED), juga sering disebut dengan bestek atau gambar kerja detail merupakan gambar lanjutan dari uraian gambar pra rencana dan gambar detail dasar dengan skala Perbandingan Ukuran (PU) yang lebih besar.
"Gambar besteks merupakan kunci pokok (tolak ukur) baik dalam menentukan kualitas dan lingkup pekerjaan, maupun dalam menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB). Gambar bestek terdiri dari gambar situasi, gambar denah, gambar potongan, gambar rencana atap, gambar konstruksi dan gambar pelengkap. Gambar bestek digunakan untuk mempermudah dalam teknis pembangunan," bebernya.
Terangnya, melakukan perancangan teknik terinci untuk setiap komponen fasilitas bangunan baik dalam gambar desain maupun dokumen analisis perhitungannya, menyusun spesifikasi teknik, ketentuan umum pelaksanaan pekerjaan, bahan konstruksi, tata cara pelaksanaan konstruksi, menyusun rencana anggaran biaya pelaksanan pekerjaan dan menyiapkan dokumen bill of quantity dan menyusun rencana kerja dan syarat-syarat dokumen sebagai pedoman untuk proses pengadaan.
Diungkapkannya, untuk obyek wisata di Rohul itu yang usah punya DED yakni wisata sejarah Rantau Binuang Sakti (RBS) di Kecamatan Kepenuhan, makanya obyek setiap tahun ada anggaran APBN dikucurkan. Kemudian obyek wisata Hapanasan di Desa Rambah Tengah Hulu (RTH), Kecamatan Rambah, itu juga sudah ada DEDnya, tapi belum secara keseleuruhan, jadi selama ini dana yang mengucur kesana hanya anggaran APBD Provinsi Riau.
"Sebenarnya kalau DED obyek wisata Hapanasan itu sudah selesai, kita bisa kucurkan anggaran dari APBN sebesar Rp 82 Miliyar, namun kemarin hasil koordinasi dengan Bagian Tata Pemerintahan (Tapem) Setdakab Rohul, belum dituntaskan pembebasan lahannya, maka kita belum bisa menerimanya," sebutnya lagi.
Tambahnya, sebenarnya di Rohul ini banyak potensi-potenasi wisata yang bisa dikembangkan, seperti Benteng Tujuh Lapis Tuanku Tambusai, Aek Matua Bangun Purba, namun tersangkut dengan pembebasan lahan sehingga pembangunan itu tidak bisa dilakukan dengan optimal
"Seharusnya masyarakat mau menghibahkan lahannya kepada pemerintah, sehingga obyek tersebut bisa dibangun dengan baik, sebab adanya obyek tersebut sangat multi plyer efek terhadap ekonomi masyarakat," pungkasnya.
Masih Yurika lagi, sedangkan seperti ini saja kunjungan di obyek Hapanasan tersebut mencapai 4 ribu orang pertahuan, sedangkan di Aek Matua mencapai 3 ribu orang pertahunnya. "Kalu kita serius memanfaatkan ini, hasilnya juga akan sangat berdampak positif kepada masyarakat, kemudian akan mendapat Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retrebusi," tutupnya.
Saat ditanya, harapan Kadisbudpar Rohul dengan pimpinan yang baru, jawabnya, pemerintah itu sifanya hanya memberikan pelayanan kepada masyarakat, di sana itu tidak ada hitung-hitungan untung maupun rugi. "Inilah tugas pemerintah bagaimana supaya masyarakat itu bisa terlayani dengan baik,"pungkasnya. (fah)
Traveler