Selasa, 26 Mei 2026
  • Home
  • Ekbis
  • Purbaya Buka Opsi Naikkan Harga BBM Subsidi Jika Minyak Dunia Tembus USD92

Ekbis

Purbaya Buka Opsi Naikkan Harga BBM Subsidi Jika Minyak Dunia Tembus USD92

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Sabtu, 07 Mar 2026 09:36
(FotoOkezone.com)
JAKARTA - Pemerintah mempertimbangkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi sebagai langkah antisipasi terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia. Kebijakan tersebut menyusul kenaikan harga energi global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi memperlebar defisit APBN melampaui batas aman yang ditetapkan undang-undang.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengakui pihaknya telah menyusun simulasi dampak fluktuasi harga minyak terhadap postur fiskal nasional. Jika harga minyak mentah mencapai rata-rata USD92 per barel, tekanan terhadap defisit anggaran akan menjadi sangat besar.

“Kalau harga minyak naik ke USD92 per barel, apa dampaknya ke defisit? Kalau tidak melakukan apa-apa, defisit kita naik ke 3,6% sampai 3,7% dari PDB,” kata Purbaya dalam Media Briefing dan Buka Puasa Bersama Menteri Keuangan, Jumat (6/3/2026).

Purbaya mengatakan pemerintah berupaya keras agar defisit anggaran tetap terjaga di bawah ambang batas 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Meski realokasi belanja menjadi prioritas awal, Purbaya mengakui kenaikan harga BBM tetap menjadi opsi terakhir jika ruang fiskal sudah sangat terbatas.

“Kalau memang anggarannya tidak kuat, tidak ada jalan lain, ya kita berbagi dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM,” tutur Purbaya.

Penyesuaian tersebut dipandang sebagai bentuk pembagian beban (burden sharing) guna menjaga stabilitas APBN agar tetap sehat di tengah krisis energi global.

Sebagai langkah mitigasi sebelum menyentuh harga BBM, Kementerian Keuangan menyiapkan skenario penundaan sejumlah proyek atau pengadaan barang yang dianggap tidak mendesak. Belanja negara akan difokuskan pada program-program yang memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat.

Beberapa langkah mitigasi fiskal pemerintah antara lain menunda proyek fisik yang belum memasuki tahap krusial, menggeser dana pengadaan barang ke subsidi energi, serta memastikan bantuan sosial tetap berjalan meskipun terjadi tekanan fiskal.

Kenaikan harga minyak yang signifikan ini tidak terlepas dari situasi keamanan di Timur Tengah yang kian memanas. Penghentian operasional di kilang Ras Tanura milik Saudi Aramco akibat serangan drone di tengah konflik Israel"Iran menjadi salah satu faktor yang mengguncang pasokan energi dunia.

Pemerintah akan terus memantau dinamika pasar energi dalam beberapa pekan ke depan sebelum mengambil keputusan final terkait harga BBM di tingkat konsumen.
Sumber: (Okezone.com)

Ekbis
Berita Terkait
  • Senin, 04 Mei 2026 08:33

    IHSG dan Rupiah Kompak Melemah, Cermati Data Ekonomi Pekan Ini

     Sejumlah sentimen global dan domestik mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sela

  • Jumat, 17 Apr 2026 09:18

    Menuju Pasar Ekspor: Kisah Sukses Kolaborasi Pucuk Rebung - PHR Berdayakan UMKM Riau

    PEKANBARU-Transformasi besar tengah berlangsung pada geliat ekonomi lokal Provinsi Riau. Pelaku UMKM yang sebelumnya bergerak sendiri-sendiri tanpa kepastian arah kini berhasil naik kelas melalui wada

  • Rabu, 08 Apr 2026 17:49

    PHR Dorong Pengembangan Migas Non-Konvensional Sebagai Game Changer Ketahanan Energi Nasional

    Jakarta- Sebagai langkah strategis, PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan Migas Non-Konvensional (MNK) guna menjaga keberlanjutan produksi. Berpotensi menjadi game changer memperkuat po

  • Rabu, 18 Mar 2026 16:28

    Bulog Kantor Cabang Rengat Salurkan Bantuan Pangan Alokasi Februari-Maret 2026, Ini Jenis Bantuannya

    RENGAT - Pemerintah resmi melaksanakan launching penyaluran bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng untuk alokasi bulan Februari dan Maret 2026 di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Rabu, (18/3/20

  • Rabu, 18 Mar 2026 15:28

    Malaysia Batalkan Perjanjian Dagang dengan AS

    JAKARTA - Malaysia membatalkan perjanjian dagang timbal balik alias Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat (AS). Dengan demikian tarif impor Malaysia ke AS 19% tidak berlaku lagi u

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.