Polres Kuansing Gelar FGD Pencegahan Radikalisme dan Anti Pancasila
Admin
Jumat, 27 Agu 2021 16:28
TELUKKUANTAN - Bertempat di Aula Sanika Satyawada, Polres Kuansing, Jumat, ( 27/8/21) melaksanakan Focuss Group Discussion (FGD).
FGD ini mengambil tema Sinergitas Elemen Masyarakat Dalam Upaya Pencegahan dan Penanganan Paham Radikalisme dan Anti Pancasila pada Masa Pandemi Covid-19 di Wilayah Kabupaten Kuantan Singingi.
Kegiatan ini dibuka Kapolres Kuansing AKBP Rendra Oktha Dinata SIk MSi diwakili Waka Polres Kuansing Kompol. Antoni Lumban Gaol SH, MH.
Selain Waka Polres juga hadir Kasat Binmas AKP Efrion, Kasat Intelkam AKP Riand Samudro, SIK, MSi, Ustad H. Irsyad Azizi,Lc.MA, para Bhabinkamtibmas polres,anggota Banser, anggota Senkom, tokoh masyarakat, mahasiswa.
Kapolres Kuansing pada sambutan pembukaan kegiatan menjelaskan, seiring dengan kemajuan zaman bangsa indonesia kembali dihadapkan dengan masalah radikalisme dan anti pancasila yang mengancam stabilitas dan persatuan bangsa.
Penyebaran paham radikalisme dan anti Pancasila ini mengikuti pesatnya perkembangan teknologi.
Masa pandemi covid-19 ini, kata Wakapolres, menjadi celah bagi masuknya ideologi dan pemahaman radikal serta Anti Pancasila oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin memecah belah bangsa dan ini perlu diantisipasi semenjak dini.
Ustad H. Irsyad Azizi,Lc,MA, salah satu pemateri mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga sanak saudara keluarga agar tidak masuk ke dalam kelompok radikalisme atau pun menjadi teroris yang mana itu sangat di larang oleh agama.
Cara kita membersikan radikalisme itu mari lah kita mencari akarnya sehingga kita dapat mencegahnya.
Sementara itu, Kasat Intelkam Polres Kuansing AKP Riand Samudro, SIK, MSi menjelaskan, masalah radikalisme dan anti pancasila dapat mengancam stabilitas dan persatuan bangsa.
Dia menjelaskan, paham radikal tercermin pada sikap ekstrim yang menghendaki perubahan secara cepat dan mendasar terhadap hal-hal yang di anggap fundamental oleh seseorang atau sekelompok radikalis.
Bahayanya, sikap ektrim ini biasanya diimplementasikan melalui tindakan - tindakan teror, ancaman dan anarkisme terhadap negara, aparat, serta masyarakat yang memiliki pemahaman berseberangan.
Dari hasil penelitian, kata dia, bahwa kemiskinan dan kesenjangan sosial memang merupakan salah satu faktor pemicu utama gerakan radikal.
Dia juga menjelaskan, penyebaran paham-paham radikal dan anti Pancasila saat ini juga mengalami pergeseran metode dalam pergerakannya.
Jika semula dilakukan dengan tatap muka dan membentuk kelompok-kelompok ekslusif (tertutup), maka saat pandemi mereka memanfaatkan platfrom digital dan media sosial.
Penyebaran paham radikal melalui media sosial dinilai sangat efektif dalam membentuk para pelaku teror Lone Wolf
Bahaya Radikalisme negatif dan sikap anti pancasila, termasuk dapat menimbulkan konflik horizontal, memunculkan kebencian dan tindak kekerasan, bahkan bisa memecah belah kerukunan umat beragama di Indonesia.