Senin, 27 Jul 2026
  • Home
  • Internasional
  • Dampak Kenaikan Inflasi, Mulai Mengancam Stabilitas Sosial Masyarakat di Wilayah Teheran

Internasional,

Dampak Kenaikan Inflasi, Mulai Mengancam Stabilitas Sosial Masyarakat di Wilayah Teheran

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Selasa, 21 Jul 2026 09:09
JAKARTA - Menghadapi gelombang tekanan berskala besar dari Amerika Serikat, pemerintah Iran menempatkan sektor ekonomi sebagai garis depan pertahanan negara. Ketahanan masyarakat sipil sedang diuji secara maksimal untuk meminimalisasi kerusakan finansial yang diakibatkan oleh perseteruan panjang tersebut.

Penyampaian kondisi aktual kenegaraan ini dipaparkan dalam agenda pertemuan khusus bersama para petinggi peradilan di Teheran, Senin (20/7/2026).


"Kenyataannya adalah bahwa saat ini Republik Islam Iran terlibat dalam perang skala penuh," ucap Presiden Iran, Masoud Pezeshkian mengutip publikasi AFP, Selasa (21/7/2026).

Pemimpin negara tersebut meminta seluruh pihak untuk tidak menutup mata terhadap rentetan risiko yang harus ditanggung dari sikap konfrontatif yang terjadi.


"Kita harus realistis dan menerima konsekuensi alami dari perlawanan ini," tegasnya.

Titik berat dari pertahanan negara saat ini bergeser dari ranah militer menuju upaya penyelamatan urat nadi perekonomian warga.

"Medan perang terpenting saat ini adalah ekonomi dan mata pencaharian rakyat," urainya.

Terkikisnya modal sosial menjadi kekhawatiran terbesar pemerintah jika daya beli masyarakat terus merosot tajam. Persatuan nasional berpotensi retak seiring memburuknya kualitas hidup warga sehari-hari.

"Jika tekanan ekonomi menyebabkan ketidakpuasan sosial terbentuk dan ketidakpuasan ini menyebar, modal sosial yang sangat besar yang telah dibangun rakyat untuk mendukung negara dapat rusak," ungkapnya.

Fakta di lapangan menunjukkan angka inflasi tahunan sempat meroket hingga di ambang batas 90 persen pertengahan tahun ini, tepatnya bulan Juni, dengan pembaruan data Juli yang masih ditangguhkan. Imbas langsung dari beban ekonomi ini adalah pecahnya demonstrasi massal sejak akhir Desember silam yang berlanjut menjadi protes keras terhadap penyelenggara negara hingga puncaknya awal Januari lalu.

Otoritas berwenang melaporkan hilangnya lebih dari 3.000 nyawa dalam peristiwa berdarah itu dan melabelinya sebagai imbas aksi terorisme yang digerakkan oleh Israel serta Amerika Serikat. Berbeda dengan klaim tersebut, pemantauan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional memberikan estimasi bahwa jumlah warga yang gugur melampaui angka yang disajikan pemerintah.(goriau)
Sumber: https://www.goriau.com/berita/baca/dampak-kenaikan-inflasi-mulai-mengancam-stabilitas-sosial-masyarakat-di-wilayah-teheran.html

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.

slot hoki slot hoki slot gacor sabithoki