Minggu, 10 Mei 2026
  • Home
  • Internasional
  • PBB Sebut Manusia Tak Bisa Lagi Tinggal di Sejumlah Wilayah Asia Afrika, Ini Sebabnya

Internasional

PBB Sebut Manusia Tak Bisa Lagi Tinggal di Sejumlah Wilayah Asia Afrika, Ini Sebabnya

admin
Rabu, 12 Okt 2022 11:20
merdeka.com

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Palang Merah Dunia menyatakan dalam beberapa dasawarsa lagi, gelombang panas akan menjadi sangat ekstrem di berbagai wilayah dunia sehingga manusia tidak dapat lagi hidup.

Kawasan seperti Sahel, Tanduk Afrika, dan beberapa wilayah di Asia Barat Daya dan Asia Selatan akan mengalami gelombang panas ekstrem yang melebihi batas fisiologis dan sosial manusia yang membuat penderitaan besar dan kematian.


Bencana-bencana yang terjadi di Somalia dan Pakistan telah menggambarkan keadaan ancaman gelombang panas ekstrem. Panas yang mematikan hingga bencana kemanusiaan yang lebih berat diperkirakan dapat terjadi.

Dalam laporan yang dikeluarkan Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dan Federasi Internasional Perhimpunan Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC), mengungkap langkah-langkah agresif perlu segera diambil demi mencegah bencana panas.

“Ada batas yang jelas di mana orang yang terpapar panas dan kelembapan ekstrem tidak dapat bertahan hidup,” ungkap laporan itu, seperti dilansir AFP, Senin (10/10).

“Kemungkinan juga ada tingkat panas ekstrem di mana masyarakat merasa hampir tidak mungkin untuk beradaptasi efektif,” lanjut laporan.

“Pada lintasan saat ini, gelombang panas dapat memenuhi dan melampaui batas fisiologis dan sosial dalam beberapa dekade mendatang, termasuk di wilayah seperti Sahel dan Asia selatan dan barat daya,” jelas laporan.

Laporan itu juga memperingatkan bencana gelombang panas ekstrem dapat memaksa perpindahan penduduk hingga mendorong ketidaksetaraan.

Penduduk negara berkembang, petani, anak-anak, orang-orang tua, dan ibu yang sedang mengandung dan menyusui adalah orang-orang yang rentan terkena dampak bencana itu.

“Ketika krisis iklim tidak terkendali, peristiwa cuaca ekstrem, seperti gelombang panas dan banjir, memukul orang-orang yang paling rentan paling parah,” jelas kepala kemanusiaan PBB, Martin Griffiths.

“Tidak ada dampak yang lebih brutal dirasakan daripada di negara-negara yang sudah terhuyung-huyung dari kelaparan, konflik dan kemiskinan,” lanjutnya.

Untuk membahas ancaman-ancaman itu, PBB akan mengadakan konferensi COP27 pada November nanti di Mesir. Sekretaris Jenderal IFRC Jagan Chapagin mendesak agar negara-negara COP27 dapat memberikan bantuan dana kepada negara-negara di wilayah yang paling berisiko.

OCHA dan IFRC juga menyarankan langkah-langkah untuk memerangi gelombang panas ekstrem, yaitu memberi informasi kepada penduduk dan pihak berwenang untuk bereaksi tepat waktu, menemukan cara baru mendapatkan dana, menguji tempat penampungan darurat dan pusat pendinginan, dan mengubah rencana pembangunan masyarakat untuk memperhitungkan dampak panas ekstrem.

Reporter Magang: Theofilus Jose Setiawan

Sumber: merdeka.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.