Minggu, 19 Apr 2026

Kesehatan

Kasus Kanker Paru di Usia 30-40 Tahun Meningkat

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Sabtu, 28 Feb 2026 14:52
(FotoOkezone.com)
JAKARTA - Kanker paru kini tak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Semakin banyak dokter mendiagnosis penyakit ini pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa sehat serta aktif. Pergeseran ini mencerminkan perubahan lanskap kanker di Indonesia.

Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), Tanujaa Rajasekaran, menyoroti perubahan profil pasien kanker paru sekaligus pentingnya deteksi dini.

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” ungkap Dr. Tanujaa saat ditemui di kawasan Kebayoran.

Pengobatan Semakin Terpersonalisasi
Dalam dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi kemoterapi menuju terapi yang lebih terpersonalisasi. Kini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker, sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Kemajuan seperti imunoterapi memungkinkan sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih efektif. Sementara terapi radiasi proton memberikan radiasi yang sangat presisi ke lokasi tumor, sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya.

Inovasi ini tidak hanya meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi juga membantu mengurangi efek samping, sehingga pasien terutama usia produktif dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari selama pengobatan.

"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," tambahnya.

Pentingnya Deteksi Dini
Salah satu tantangan utama dalam penanganan kanker paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas kerap dianggap sebagai gangguan pernapasan biasa.

Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi lebih kompleks.

"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan," jelas Dr. Tanujaa.

Ia mengingatkan, apabila gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi medis tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan besar terhadap tingkat kelangsungan hidup serta kualitas hidup pasien.
Sumber: (Okezone.com)

kesehatan
Berita Terkait
  • Rabu, 18 Mar 2026 15:17

    Libur Lebaran 2026 Mulai WFA, Gimana Pelayanan RS Saat Darurat?

    JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan seluruh rumah sakit vertikal di bawah naungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetap beroperasi penuh untuk melayani tindakan gawat

  • Selasa, 17 Mar 2026 15:04

    Jangan Sampai Salah Pakai Bantal Leher saat Mudik, Ini Tips ala Menkes Budi

    JAKARTA - Menggunakan bantal leher saat perjalanan jauh diminati masyarakat, khususnya pada musim mudik Lebaran 2026. Bantal ini bisa menjadi penyangga kepala, terutama saat hendak beristirahat di dal

  • Senin, 16 Mar 2026 14:53

    Pemudik Diimbau Istirahat 30 Menit agar Tetap Fit Selama Perjalanan

    JAKARTA - Para pemudik yang melintas di jalur Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) diimbau untuk mengatur waktu istirahat secara bijak agar kondisi tubuh tetap bugar selama perjalanan mudik Lebaran. Pengelol

  • Sabtu, 14 Mar 2026 14:23

    Apa Saja Dampak Makan Telur Setiap Hari Saat Sahur dan Buka Puasa?

    JAKARTA - Telur dikenal sebagai salah satu makanan yang kaya nutrisi dan menjadi sumber protein yang baik bagi tubuh. Bahan makanan ini juga mudah diolah menjadi berbagai hidangan, seperti telur dadar

  • Jumat, 13 Mar 2026 16:48

    3 Tips Redakan Nyeri atau Kram saat Menstruasi

    JAKARTA - Nyeri atau kram saat menstruasi terkadang menjadi tantangan tersendiri bagi perempuan. Apalagi jika ditambah dengan sesuatu yang membuat mood menjadi kurang bagus atau membuat marah.Hal itu

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.