Rabu, 03 Jun 2026

Kesehatan

Kasus Kanker Paru di Usia 30-40 Tahun Meningkat

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Sabtu, 28 Feb 2026 14:52
(FotoOkezone.com)
JAKARTA - Kanker paru kini tak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Semakin banyak dokter mendiagnosis penyakit ini pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok dan merasa sehat serta aktif. Pergeseran ini mencerminkan perubahan lanskap kanker di Indonesia.

Senior Consultant Medical Oncologist dari Parkway Cancer Centre (PCC), Tanujaa Rajasekaran, menyoroti perubahan profil pasien kanker paru sekaligus pentingnya deteksi dini.

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” ungkap Dr. Tanujaa saat ditemui di kawasan Kebayoran.

Pengobatan Semakin Terpersonalisasi
Dalam dua dekade terakhir, pengobatan kanker paru telah bergeser dari pendekatan yang didominasi kemoterapi menuju terapi yang lebih terpersonalisasi. Kini, keputusan pengobatan didasarkan pada jenis, stadium, dan profil genetik kanker, sehingga terapi dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Kemajuan seperti imunoterapi memungkinkan sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih efektif. Sementara terapi radiasi proton memberikan radiasi yang sangat presisi ke lokasi tumor, sehingga meminimalkan kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya.

Inovasi ini tidak hanya meningkatkan angka kelangsungan hidup, tetapi juga membantu mengurangi efek samping, sehingga pasien terutama usia produktif dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari selama pengobatan.

"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," tambahnya.

Pentingnya Deteksi Dini
Salah satu tantangan utama dalam penanganan kanker paru adalah keterlambatan diagnosis. Gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas kerap dianggap sebagai gangguan pernapasan biasa.

Akibatnya, banyak pasien baru terdiagnosis pada stadium III atau IV, ketika pengobatan menjadi lebih kompleks.

"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan," jelas Dr. Tanujaa.

Ia mengingatkan, apabila gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan. Evaluasi medis tepat waktu dan skrining yang sesuai dapat memberikan perbedaan besar terhadap tingkat kelangsungan hidup serta kualitas hidup pasien.
Sumber: (Okezone.com)

kesehatan
Berita Terkait
  • Kamis, 28 Mei 2026 17:08

    PDPI Sumbar dan Dinkes Sumbar Satukan Langkah Perkuat Program Eliminasi TB di Sumatera Barat

    PADANG-Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Sumatera Barat dan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Barat memperkuat sinergi dalam upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TB) tahun 2030 melal

  • Jumat, 15 Mei 2026 08:55

    PDPI Pusat Gandeng Pemprov Sumbar, Targetkan 1. 800 Dokter Paru se-Indonesia ke Ranah Minang

    Padang-Audiensi dan silaturahmi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dilakukan oleh Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) di Rumah Dinas Gubernur Sumatera Barat, Rabu (14/5/2026

  • Jumat, 15 Mei 2026 05:34

    Wamenkes Kunjungi Unand Penanganan TBC Harus Tuntas

    PADANG-Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia melakukan kunjungan kerja ke Sumatera Barat pada 12"13 Mei 2026 dengan fokus penguatan program kesehatan nasional, khususnya percepatan eliminasi tube

  • Rabu, 18 Mar 2026 15:17

    Libur Lebaran 2026 Mulai WFA, Gimana Pelayanan RS Saat Darurat?

    JAKARTA - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memastikan seluruh rumah sakit vertikal di bawah naungan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tetap beroperasi penuh untuk melayani tindakan gawat

  • Selasa, 17 Mar 2026 15:04

    Jangan Sampai Salah Pakai Bantal Leher saat Mudik, Ini Tips ala Menkes Budi

    JAKARTA - Menggunakan bantal leher saat perjalanan jauh diminati masyarakat, khususnya pada musim mudik Lebaran 2026. Bantal ini bisa menjadi penyangga kepala, terutama saat hendak beristirahat di dal

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.